Sedari Dulu

Posted in MUSIK with tags on July 2, 2009 by spesies

Celathu Sang Presiden

Posted in -SKESTA 2008, BUKU with tags , , on December 26, 2008 by spesies

Judul: Presiden Guyonan

Penulis: Butet Kartaredjasa

Penerbit: Kitab Sarimin Yogyakarta, cetakan I November 2008

Tebal: xiv + 285 halaman

Butet Kartaredjasa menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan.

Mas Celathu namanya. Penampilannya bersahaja: baju berbahan katun dengan model “itu-itu saja.” Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa leluasa menyapa bulu keteknya. Matanya dilapis kaca ukuran minus setebal wingko babat, dengan model telor sebulat-bulatnya telor ceplok. Dan lihatlah kakinya! Sepatu sandal bikinan Yogya dari kulit sapi lokal selalu membungkus kaki, dan mengingatkan kita kepada biarawan dan guru-guru Taman Siswa. Dalam penampilan seperti itu, semestinya dia lebih pantas berpredikat rohaniawan atau guru. Setidaknya tutur katanya akan familiar dengan adat kesopanan yang terkadang lamis dan canggih menyajikan kepalsuan. Tapi ternyata tidak.

Begitu kita melihat wajahnya yang berbibir seperti iwak empal alias rada tebal, dan tabiatnya yang rajin menyambar omongan orang sesuka dan sekena-kenanya –untuk tidak disebut waton njeplak– maka gugurlah semua imajinasi yang stereotipe itu. Saya malah semakin mempercayai pemeo yang menyebutkan bahwa “nama membawa tuah” Sesuai namanya, Mas Celathu memang suka melontarkan celathu. Jika diindonesiakan celathu berarti “berujar” atau “menyergah”. Peristiwa apapun dikomentari. Read more »

Stop: Tiada Maaf

Posted in -SKESTA 2008 with tags , on November 8, 2008 by spesies

jago1

Kesibukan kerja yang luar biasa membuat waktu buat mengisi blog ini sementara waktu hilang. Tulisan lama bertahun 2002 masih ada sekitar 50-an file yang belum masuk dalam blog ini. Saya tergelitik menulis lagi soal “maaf-memaafkan” lantaran belum lama berselang, secara tak sengaja saya membuat kesalahan terhadap seorang teman lama, yang baru bersua via ponsel, setelah 20 tahun tak pernah bersapa kabar sekali pun.

Kebetulan teman itu memang dulu, saat SMA, termasuk salah satu figur publik..setidaknya lebih dikenal dibanding saya… Selain pandai, dia juga cantik, dari keluarga berada dengan status sosial yang terpandang.

Di masa 1980-an, dia sebagai anak seorang dokter, di mata saya ya anak orang kaya.. Mungkin di masa kecilnya tak pernah bersentuhan dengan telek ayam seperti saya. Masa remaja saya, sehari-hari, sudah biasa bergaul dengan ayam-ayam peliharaan. Bukan sekadar dipelihara tentunya, tapi telurnya, tentu saja sang ayam itu sendiri menjadi barang berharga buat menambah biaya sekolah. Maklum, saya hanya anak PNS golongan II. Read more »

Meminta Maaf, Lupa Memaafkan

Posted in -SKESTA 2008 with tags , on October 11, 2008 by spesies

Lebaran selalu disibukkan ritual berkirim ucapan Idul Fitri… Di masa silam, ucapan “selamat idul Fitri” dan “mohon Maaf Lahir dan Bathin” banyak dikirim melalu kartu ucapan. Namun di era kini, masyarakat banyak tak lagi saling berkirim kartu ucapan lebaran. Hanya untuk relasi penting, atau antarperusahaan yang masih membutuhkan kartu ucapan lebaran. Era sekarang, ucapan lebaran telah tergantikan kiriman SMS atawa layanan pesan singkat via ponsel.. baik yg sekadar kiriman berupa teks ucapan, maupun yang berisikan image.

Praktis, memang, berkirim ucapan melalui media ponsel. Selain mudah, biayanya juga sangat murah. Antara Rp 50-Rp 100. Bandinkan dengan harga kartu ucapan, yang sekitar Rp 500-Rp 2000 untuk kelas murah sampai menengah. Belum lagi biaya perangko..Bisa diperkirakan biaya keselurahnnya setiap lembar kartu ucapan… Read more »

Berilir-Ilir Sampai Dewa Ruci

Posted in -SKETSA 2001, AGAMA with tags , on September 1, 2008 by spesies

HUTAN Jatiwangi, pada suatu masa. Di rindang lebat pepohonan jati di kawasan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, itu dua lelaki berbeda umur tegak berhadapan. Yang satu pemuda berpakaian serba hitam. Di depannya seorang pria lebih tua, dibalut busana serba putih. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya.

Pemuda berbaju hitam itu bernama Lokajaya, berandal yang gemar membegal pejalan yang melewati hutan Jatiwangi. Ia silau oleh kemilau kuning keemasan gagang tongkat yang dibawa pria berjubah putih. Siapa pun orang berjubah putih itu, layaklah ia menjadi mangsa Lokajaya. Dan ketika tongkat itu direbut, orang tua tadi sama sekali tak berlawan. Read more »

Tur ke Galangan Jerman

Posted in -SKETSA 2001, NASIONAL with tags , on September 1, 2008 by spesies

TANPA banyak menebar berita, sejumlah anggota Komisi IV DPR melancong ke Jerman, 18-24 November lalu. Keberangkatan ke-13 anggota Sub-Komisi IV, yang membidangi perhubungan dan telekomunikasi itu, katanya sih, untuk studi banding ke Aker MTW Werft Gmbh, dok pembuat kapal. Ini berkaitan dengan rencana PT Pelni melakukan tender pengadaan 17 kapal.

Rombongan itu dipimpin Amri Husni Siregar, dari Fraksi Persatuan Pembangunan. Ia disertai tiga kolega sefraksinya: Ali Hardi Kiaidemak, Chairul Anwar Lubis, dan Syahrial Agamas. Golkar menyertakan tiga anggotanya, Fraksi PDI Perjuangan cuma dua orang, dan masing-masing satu dari Fraksi TNI/Polri, Fraksi Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Daulat Umat, serta Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia. Read more »

Dilema Tikus Hitam

Posted in -SKETSA 2001, NASIONAL with tags , on September 1, 2008 by spesies

MESKI dengan berat hati, juru bicara Kejaksaan Agung Mulyohardjo pun mendapat tantangan unik Politik Mencari Kawan menangkap mencit (tikus kecil). Mencit hitam yang dibawa rombongan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) itu lalu diletakkan di atas meja. Mulyo mengambil ancang-ancang untuk membekuk tikus jinak yang biasa dipakai untuk percobaan di lab itu.

Tapi, mencit hitam itu cukup lincah untuk menghindar dari terkaman Mulyo. Bahkan, hup… sang mencit berhasil menggigit kelingking Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung itu. Mahasiswa bersorak. “Wah, bagaimana mungkin menangkap koruptor besar, membekuk tikus kecil saja tak becus,” kata seorang mahasiswa. Read more »

Tafsir Liberal dari Utan Kayu

Posted in -SKETSA 2001, AGAMA with tags , , on September 1, 2008 by spesies

BERMULA dari ajang kongko-kongko di Jalan Utan Kayu Nomor 68 H, Jakarta Timur. Lahirlah kemudian Komunitas Islam Utan Kayu, pertengahan Juli lalu. Dan, berbarengan dengan munculnya rubrik yang mereka asuh di harian Jawa Pos, “Akhirnya kami pilih nama Kajian Utan Kayu,” kata Ulil Abshar Abdalla, seorang perintis Komunitas Islam Utan Kayu.

Ulil Abshar bersama Ahmad Sahal, editor jurnal Kalam, dan Goenawan Mohamad, redaktur senior majalah Tempo, adalah penggagas kehadiran Komunitas Islam Utan Kayu. Para pemikir muda seperti Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaid, dan Saiful Mudjani turut pula membidani kelahirannya. Ada pula Nong Darol Mahmada dan Burhanuddin, yang kini dipercaya mengelola situs islamlib.com. Belakangan, bergabung pula Lutfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina Mulya. Read more »

Melacak Aliran 116 Rekening

Posted in -SKETSA 2001, EKONOMI with tags , on September 1, 2008 by spesies

JANGAN bermain api, bisa terbakar nanti. Peribahasa ini berlaku untuk pos dana nonbujeter Bulog yang menyimpan “uang panas” dalam jumlah besar. Walhasil, dua Kepala Bulog periode silam, yang karena kedudukannya harus berurusan dengan uang panas nonbujeter, kini mengalami nasib serupa, terjerat ancaman pidana.

Beddu Amang, 65 tahun, Kepala Bulog periode 1995-1998, terseret kasus penyalahgunaan duit Bulog Rp 96 milyar. Ia telah divonis dua tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, bulan lalu. Ia kini mengupayakan banding. Sedangkan Rahardi Ramelan, 61 tahun, Kepala Bulog di era B.J. Habibie, 1998-1999, menyandang status tersangka penyelewengan dana Bulog sebesar Rp 54,6 milyar. Read more »

Politik Lemah Syahwat

Posted in -SKETSA 2001, NASIONAL with tags , on September 1, 2008 by spesies

KEBHINEKAAN Indonesia benar-benar muncul di arena politik. Dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) boleh pusing. Betapa tidak, berita dari Departemen Kehakiman mengatakan, hingga akhir pekan lalu sudah tercatat 165 partai. Memang, jumlah itu termasuk 48 partai politik (parpol) kontestan Pemilu 1999, dan 100 partai lain yang gagal terjun ke pesta demokrasi dua tahun lalu. Jumlah itu tentu akan terus bertambah hingga 2004 nanti.

Bila jumlah peserta pemilu sampai ratusan, KPU bisa kelojotan. Sebagai penyelenggara pemilu, KPU akan kerepotan melayani banyak kontestan yang, kalau mengaca pada situasi tahun 1999, selalu banyak maunya. Maka, jurus penangkal pun agaknya disiapkan untuk mencegah lubernya jumlah kontestan ini. Caranya, akan dipasang pagar aturan agar tak sembarang partai boleh masuk. Read more »