Koalisi dengan Kebenaran
MANTAN Gubernur Timor Timur Mario de Viegas Carrascalao kini menjadi orang yang gampang curiga. Matanya selalu mengawasi orang-orang yang berseliweran di sekitarnya. Ia tidak mudah percaya. Juga, kala Dipo Handoko dari Gatra mengontak Mario lewat telepon genggamnya, Jumat pekan lalu, ia bertanya penuh selidik.
“Anda ini siapa. Jangan-jangan Anda orang yang mau membunuh saya,” sergahnya. Setelah yakin, barulah ia mempersilakan berbincang-bincang. Berikut petikannya:
Kabarnya, Anda kabur ke Makau?
Saya memang di luar negeri, tapi tidak akan saya sebut negaranya.
Mengapa kabur ke luar negeri?
Cari selamat. Habis, saya terus diburu, mau dibunuh.
Keluarga diajak?
Tidak. Anak-anak tetap di Jakarta. Yang diincar kan cuma saya.
Bagaimana Anda melihat kesepakatan perdamaian di Timor Timur?
Itu hanya perjanjian yang tak punya masa depan. Itu kan rekayasa Wiranto untuk cari muka. Padahal, selama 23 tahun, ABRI melakukan kejahatan di sana. ABRI tidak segan-segan mempersenjatai rakyat. Kini, tiba-tiba ia seakan-akan menjadi pahlawan. Kesepakatan itu, yang ditandatangani sehari menjelang pertemuan di New York, saya kira merupakan upaya Wiranto untuk memulihkan citra buruk ABRI.
Pendapat Anda atas keputusan Presiden Habibie yang memberi dua opsi terhadap rakyat Timor Timur?
Saya kira, pemerintah tak lagi sayang kepada rakyat Timor Timur. Pemerintah kan berusaha melepaskan embel-embel yang menjadi beban beratnya, dan Timor Timur merupakan masalah paling berat. Selain itu, melepas Timor Timur akan meningkatkan citra Indonesia di luar negeri.
Dalam waktu dekat, bisakah rakyat Timor Timur diminta menentukan sikapnya?
Mana bisa dilakukan pemungutan suara bila rakyat masih dicekam ketakutan. Perjanjian itu tak bisa memberikan jaminan apa- apa.
Apa yang akan Anda lakukan di luar negeri?
Kalau ada wartawan yang tanya, akan saya beberkan keadaan sebenarnya di Timor Timur.
Anda akan menjadi aktivis prokemerdekaan?
Tidak. Saya bukan aktivis. Saya hanya menyuarakan kebenaran. Saya katakan bahwa selama 23 tahun ABRI telah berbuat kejahatan di Timor Timur. Anehnya, tiba-tiba dalam waktu 18 jam saja Wiranto berhasil mengajak semua pihak membuat kesepakatan perdamaian.
Anda akan berkoalisi dengan Ramos Horta?
Saya tidak akan berkoalisi dengan siapa pun. Saya hanya berkoalisi dengan
kebenaran. Saya hanya ingin menciptakan keadaan lebih baik di Timor Timur.
Selama di luar negeri, bagaimana Anda memperjuangkan rakyat Timor Timur?
Saya akan mengatakan kebenaran kepada dunia internasional. Saya tidak akan kembali ke Indonesia sebelum Indonesia benar-benar menjadi negara yang demokratis, sebelum ada keadilan yang lebih baik. Saya tidak akan kembali sebelum Danrem, Gubernur Timor Timur, dan semua yang bertanggung jawab terhadap kejahatan di Timor Timur ditangkap.
Anda punya bukti ABRI mempersenjatai rakyat Timor Timur?
Semua tahu, selama ini ABRI mengirim senjata ke Timor Timur. Senjata M-16 yang dikirim ditukar dengan ketela dan air. Makanya, rakyat di sana tak pernah bisa menikmati kekayaannya, karena ABRI telah mengubah ketela dan air menjadi senjata.
Langkah apa yang bisa diambil untuk membuat kedamaian di sana?
Kita harus berusaha mengubah sandiwara perdamaian di Dili itu menjadi kenyataan. Tarik semua senjata di seluruh Timor Timur. Sebab, selama para milisi itu masih dipersenjatai, tak akan pernah ada kedamaian di Timor Timur. Pemerintah RI harus segera membubarkan milisi-milisi itu.
Gatra
EDISI: 24/05
TANGGAL: 990501