Dewasa Tanpa Letupan

LENGKING amat panjang, meliuk-liuk, mengalir mulus dari mulut Harvey Malaihollo. Gemuruh musik pengiring ditimpa gempita tepukan penonton. Gemerlap kilat cahaya lampu kian memarakkan suasana. Tembang Seandainya Selalu Satu itu menjadi klimaks pergelaran konser Harvey Malaihollo, di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, Kamis malam pekan lalu.

Pertunjukan bertajuk “Sebuah Pengabdian” itu digelar untuk memperingati 25 tahun Harvey Malaihollo berkarier. Konser dengan biaya Rp 400 juta itu berhasil mengundang penonton memenuhi ruangan berkapasitas 800 kursi. Tiket very important person (VIP) untuk 270 tempat duduk, yang dijual Rp 300.000 per seat, ludes seminggu sebelum pertunjukan.

Bukan pertama kali ini Harvey menyuguhkan konser tunggal. Sebelumnya, telah lima kali ia menggelar konser solo. Dua konser tunggalnya dilaksanakan di Jakarta, 1992 dan 1994. Selebihnya: 1993 di Singapura, serta 1994 dan 1996 di Kuala Lumpur. Konser kali ini, meski bertema besar, didukung oleh tata panggung cukup sederhana.

Hanya ada 15 tiang bersambungan dengan tirai biru muda menutupi background. Tak ada pameran aksara lewat spanduk atawa backdrop. Foto-foto dan sejumlah piala cuma dipajang berderet di luar ruangan. Menurut Harvey, pertunjukan musik jenis adult contemporary yang dinyanyikannya harus dinikmati tanpa mesti emosional.

“Saya tidak mau ada letupan, kembang api, atau penari,” katanya. Selama dua jam pergelaran, Harvey banyak bertutur tentang perjalanan prestasi olah vokalnya dengan didukung artis Vina Panduwinata dan AB-Three. Ada tiga tema kisah Harvey yang diselipkan di antara 21 tembang pilihan. Dimulai episode “Saya dan Tuhan”, “Saya dan Karier”, dan ditutup “Saya, Keluarga, dan Teman”.

Tembang Seandainya Selalu Satu, yang mengantarkan Harvey sebagai penyanyi terbaik pada World Popular Song Festival ke-17 di Tokyo, Jepang, 1986, menjadi puncak pergelaran. Anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Daniel Benyamin Malaihollo dan Maudy Titaley ini mengawali prestasi di dunia vokal sebagai Pemenang I Bintang Radio dan Televisi Remaja DKI Jakarta, 1975.

Setahun kemudian, ia menyabet nomor satu di tingkat nasional. Di bagian putri, saat itu, yang terbaik adalah Rafika Duri. Gelar penyanyi terbaik Tanah Air melekat pada Harvey pada 1986-1988, dan 1991. Di tingkat internasional, ia meraih penghargaan Kawakami di World Popular Song Festival ke-13 di Tokyo, Jepang, 1982. Empat tahun kemudian Harvey menyabet gelar Best Singer Award pada festival yang sama.

Berbagai festival internasional yang diikutinya dalam kurun 1988-1998 menghasilkan gelar juara. Harvey pun dijuluki “penyanyi festival”. Namun, sukses di festival tak serta-merta diikuti keberhasilannya di dunia rekaman. Padahal, Harvey terbilang produktif melempar album. Ada 24 kaset -lima di antaranya berduet dengan Rafika Duri- diluncurkan.

Tapi, albumnya tidak meledak di pasaran. “Yang jelas, saya punya penggemar tersendiri,” kata Harvey. Buktinya, Warner Music Indonesia tertarik mengontrak Harvey untuk rekaman. Album terbaru berjudul Terima Kasih, Cinta, akan diluncurkan bulan depan, bertutur tentang keluarganya, Lolita Kusumahati Leimena dan Joshua Benyamin Malaihollo -istri dan putra semata wayangnya.

Menurut Elfa Secoria, Harvey tergolong penyanyi komplet. “Spektrum suaranya luas, dari irama pop, sweet jazz, Latin, hingga keroncong,” kata Elfa, yang kerap mengiringi Harvey berfestival. Masih kata Elfa, kemampuan showmanship dan intelektualitas Harvey juga sangat menunjang kariernya. “Harvey memiliki kualitas dunia,” kata Elfa.

Di mata penyanyi Chintya Lamusu, personel baru AB Three, Harvey adalah satu-satunya penyanyi pria idolanya. “Gelar penyanyi legendaris pantas diberikan kepadanya,” kata Chintya. Bagi Harvey sendiri, apa yang dirasakan selama seperempat abad ini? “Pendewasaan dalam bermusik,” kata pria 38 tahun itu kepada Gatra.

Dipo Handoko dan Rita Triana Budiarti

Gatra

EDISI: 50/06

TANGGAL: 001028

2 Responses to “Dewasa Tanpa Letupan”

  1. Seperti kata yg begitu indah dan suara yg menusuk kalbu dan membawah terbang bersama mimpi akan menjadi kenyataan hidup…….saya berharap mas HARVEY MALEHOLO dan selalu dalam kesuksesan dan selalu sebagai seorang artis yg begitu menyentu hati…….dan selalu nama yg terukir indah di sukma…..dan jgn pernah berhenti selalu untuk bernyanyi suara yg sebening embun di pagi hari dan seperti matahari yg terbit dari barat (raut wajah yg begitu mempesona dan penuh kedamaian yg tdk akan pernah seoarang menemukan semua itu……dalam kedamaian diri dan menemukan satu cahaya yg pasti dan satu tujuan……yg tak akan pernah seoarang akan melupakan sebuah nada dan irama yg begitu berkilau seperti berlian….dan seputih mutiara…….(FEBRIANA)……penuh kedamaian dan meraih mimpi……

  2. Dengan warna-warni kehidupan mas harvey selalu suara anda menembus jantung dan selalu terukir begitu indah dan tak akan pernah seseorang dapat menggalahkan suara yg memberiakan ketenangan jiwa walau semua warna selalu menemani kehidupan yg penuh arti……walau semua harapan tlah aku temukan……di sudut suara yg membuka satu pintu dan membuka satu gambaran yg pasti warna begitu indah dan ceria seindah jalan bagaikan hembusan angin surgawi……yg aku rasakan seindah suara yg terdengar selalu ……. dan …….. (FEBRIANA)dan desahan hati yg tak pernah hilang walau waktu selalu berubah dan lambat laun tlah berlalu tapi suara itu bagaikan rahasia kehidupan yg hanya TUHAN yg tahu …….

Leave a Reply