Tunggu Lamaran Swasta

TUGU Monumen Nasional (Monas) yang menjulang tinggi, dengan jilatan api berbalut emas seberat 35 kilogram di puncaknya, tampak megah menghiasi atmosfer jantung Jakarta. Namun, kewibawaan Monas seketika luntur bila dilihat dari dekat. Rumput liar di sana-sini dibiarkan gondrong, taman kolamnya kotor, beberapa bangunan menyuguhkan pemandangan nan tak sedap.

Monas juga dimarakkan oleh pedagang kaki lima, tunawisma, dan bau mesum para penjaja cinta di malam hari. Padahal, areal seluas 100 hektare itu tak pernah sepi dari pembongkaran dan pembangunan. Saat ini, kawasan utara dan sebagian barat Monas sibuk oleh kegiatan penataan taman.

Di dua kawasan itu sedang dibangun jalan setapak seluas 59.000 meter persegi di utara, dan pemasangan con-block seluas 42.000 meter persegi di sebagian barat Taman Monas. Proyek yang dimulai tiga bulan lalu itu mendapat kucuran dana Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta tahun anggaran 1999-2000 sebesar Rp 7 milyar.

PT Odorma Tiara Handayani dan PT Bengawan Agung dipercaya menggarapnya. Selain jalan setapak, juga disiapkan areal penanaman pohon. Pemda DKI mendapat bantuan sejumlah pohon, senilai Rp 100 juta, dari PT Sony Music Indonesia. Seremoninya akan dimeriahkan artis-artis rekaman Sony Music, di antaranya Sheila On 7, 19 November mendatang.

Meski Monas terus berbenah, banyak kalangan menuding penataan Monas tak beres. Sejak tahun anggaran 1994/1995 hingga sekarang, proyek Monas telah menyedot duit Rp 70 milyar. Farid Rasyid Faqih, Koordinator Government Watch, menilai penataan Monas tak berkelanjutan. Misalnya, dulu pernah adapembangunan pagar di sekeliling Taman Monas, tapi tak berapa lama kemudian dibongkar.

“Saya tak melihat ada transparansi,” kata Farid Faqih. Tidak terbukanya anggaran setiap tahun, masih kata Farid, mengundang dugaan negatif. “Hanya semacam pekerjaan yang sengaja diproyekin,” ujarnya.

Rusdi Saleh, Ketua Badan Musyawarah Betawi, menganggap visi dan misi pembangunan Monas tak jelas. Ia melihat penataan Monas hanya bagian per bagian. “Tidak tahu akan seperti apa Monas itu nanti,” kata mantan penyiar TVRI Jakarta itu. Dulu Monas akan digarap dengan nuansa Prancis, namun hasilnya tak ada.

Tudingan penataan Monas hanyalah proyek yang diada-adakan dibantah Dadang Kusnandar, Kepala Dinas Pertamanan dan Keindahan Kota Pemda DKI Jakarta. “Tak ada bongkar-pasang. Yang sudah dibangun, ya, tidak pernah dibongkar lagi,” katanya kepada Gatra.

Penataan Monas dilaksanakan bertahap karena keterbatasan dana. Konsepnya, kata Dadang, dibagi dua bagian: permukaan dan underground. Hingga saat ini, kas pemda telah tersedot Rp 70 milyar. Duit sebesar itu -dari total dana yang dianggarkan Rp 765 milyar, enam tahun lalu- diperuntukkan bagi wilayah permukaan. “Pada kondisi sekarang kita butuh trilyunan rupiah. Pemda dapat uang dari mana?” ujarnya.

Dulunya, dalam rencana induk era Gubernur Wiyogo Atmodarminto, kawasan itu ditetapkan sebagai taman kota. Aksesori tugu adalah kolam taman, galeri terbuka dan bawah tanah, teater terbuka, plaza, dan lapangan parkir bawah tanah. Belakangan muncul pos polisi, areal parkir, dua restoran, kafe artis, WC umum, dan stasiun pengisian bahan bakar gas.

Di beberapa tempat di bawah naungan pohon mahoni, angsana, dan pohon tanjung berdiri bedeng-bedeng hunian para tunawisma. Para pedagang kaki lima yang tersebar di sekeliling Taman Monas ogah beranjak, meski berkali-kali dirazia. Problem itu membuat Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta, pusing.

Sutiyoso sadar, orang tak tertarik datang ke Monas bila melihat wajahnya kumuh dan belum tertata baik. Namun, Sutiyoso belum menemukan formulanya. “Yang pasti, pembangunan Monas lengkap dengan Taman Merdeka akan dipacu secepat mungkin,” katanya di depan wartawan.

Pengelolaan taman itu kini akan diswastakan. Selain di Monas, taman-taman lain di wilayah DKI juga ditawarkan ke publik. Pemda pun punya program menyulap daerah kumuh di 15 lokasi menjadi taman-taman yang asri. Yang berminat berhak mengelola taman selama lima tahun. Tapi, sejauh ini, kawasan Monas belum juga dilirik swasta.

Dipo Handoko

Gatra

EDISI: 52/06

TANGGAL: 001111

One Response to “Tunggu Lamaran Swasta”

  1. sri Wahyuningsih Says:

    aku sangat bagga dengan Budaya Indonesia.
    owh… monas,,
    tempat yng bgitu mnyenangkan dan bukti akan hebatnya Negara Indonesia.

    aku berharap akan tetap mnjdi logo ngara Jakarta dan mnjdi kbanggan bersama.

    indahnya budaya kita jika kita mau melestarikan dan ikut menjaga kenyamanan lingkungannya.

Leave a Reply