Tafsir Liberal dari Utan Kayu

BERMULA dari ajang kongko-kongko di Jalan Utan Kayu Nomor 68 H, Jakarta Timur. Lahirlah kemudian Komunitas Islam Utan Kayu, pertengahan Juli lalu. Dan, berbarengan dengan munculnya rubrik yang mereka asuh di harian Jawa Pos, “Akhirnya kami pilih nama Kajian Utan Kayu,” kata Ulil Abshar Abdalla, seorang perintis Komunitas Islam Utan Kayu.

Ulil Abshar bersama Ahmad Sahal, editor jurnal Kalam, dan Goenawan Mohamad, redaktur senior majalah Tempo, adalah penggagas kehadiran Komunitas Islam Utan Kayu. Para pemikir muda seperti Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaid, dan Saiful Mudjani turut pula membidani kelahirannya. Ada pula Nong Darol Mahmada dan Burhanuddin, yang kini dipercaya mengelola situs islamlib.com. Belakangan, bergabung pula Lutfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina Mulya.

Sosok Goenawan sendiri memang punya andil besar membuka Komunitas Utan Kayu pada 1996, jauh sebelum “komunitas Islam” itu lahir. Komunitas ini merupakan ajang pertemuan para pegandrung sastra, teater, musik, film, dan seni rupa. Areal seluas 400 meter persegi itu kini seakan berkembang menjadi “Taman Ismail Marzuki mini”.

Di Jalan Utan Kayu itu pula Institut Studi Arus Informasi (ISAI) berkantor. Ulil-Sahal-Goenawan dan beberapa pemikir muda kerap menggelar diskusi bertema pembaruan pemikiran Islam di kantor ISAI. Namun, baru pada akhir 1999 para pengusung wacana Islam liberal itu menemukan titik temu. Mereka pun sepakat mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL), Maret 2001.

Kehadiran JIL itu kian melengkapi Komunitas Utan Kayu. Ia menjadi perpaduan antara kebebasan seni-budaya dan agama. Meski JIL mengusung label Islam, di Utan Kayu tak ada masjid megah. Yang terlihat hanya musala mungil, berukuran 3 x 3 meter, terbuat dari bambu.

Soal salat dan puasa tak dikaji mendalam di lingkungan ini. Sebab, “Salat dan puasa itu menyangkut ruang pribadi. Sebaiknya, ya, berlaku untuk diri sendiri,” kata Burhanuddin. Saat berbuka puasa tiba, misalnya, tak ada kebiasaan berbuka puasa bersama. Salat tarawih pun tak digelar di tempat ini.

Penyebaran Islam liberal dari Utan Kayu itu kian membesar melalui beragam media. Tak lagi mengandalkan perjumpaan fisik semata, seperti kajian dan diskusi. Ia cepat menyebar lewat internet, radio, dan media cetak. Pengenalan JIL ke masyarakat dirintis lewat surat elektronik di internet.

Percakapan maya (mailing list) itu terus berkembang hingga tak kurang dari 400 orang yang terlibat. Lalu, muncullah pembicaraan Islam liberal di radio. Mulanya cuma kantor berita radio 68H yang mengudarakan dialog interaktif setiap Kamis sore. Acara itu kemudian menyebar di 15 stasiun radio dari Garut, Padang, Gorontalo, hingga Ambon.

Tulisan para pengusung JIL nongol pula di surat kabar. Misalnya, di harian Jawa Pos, JIL punya rubrik tetap berjudul “Kajian Utan Kayu”. Kontributor tulisan adalah Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat, dan Masdar F. Mas’udi. Mereka secara bergantian mengisi satu halaman tiap Ahad.

Kajian tentang Islam dan demokrasi berhamburan. Dari soal syariat, gender, jilbab, hingga teologi perbandingan antaragama. Selain di Jawa Pos, atas bantuan Asia Foundation, beragam tulisan itu dimuat serentak di 40 koran yang tersebar di Tanah Air.

Kiprah Asia Foundation dalam membesarkan JIL memang tak kecil. Organisasi sosial yang berdiri pada 1954 ini banyak mengucurkan duit untuk kegiatan penyebaran informasi JIL. “Bantuan kami dalam bentuk pengadaan situs dan jaringan media,” kata Ahmad Suaedy, juru bicara Asia Foundation, kepada Asmayani Kusrini dari Gatra.

Situsnya, islamlib.com, berdiri akhir Juli lalu. Banner-nya tak memajang “Utan Kayu”, melainkan label Jaringan Islam Liberal. Untuk tampilan di koran, kata Ulil Abshar, memang dipilih nama Utan Kayu. “Biar pembaca tidak terlalu kaget dengan istilah Islam liberal,” katanya.

Toh, menurut Ulil, kampanye Islam liberal tetap masih ekstensif. Beragam program yang sedang digodok, antara lain, rencana penerbitan booklet yang memuat rangkuman pemikiran Islam liberal. Lebih dari itu, Komunitas Islam Utan Kayu bakal menerbitkan tafsir Al Quran versi Islam liberal.

Dipo Handoko, Kholis Bahtiar Bakri, dan Sugiyanto

Gatra

EDISI: 03/08

TANGGAL: 011208

Leave a Reply