Meminta Maaf, Lupa Memaafkan

Lebaran selalu disibukkan ritual berkirim ucapan Idul Fitri… Di masa silam, ucapan “selamat idul Fitri” dan “mohon Maaf Lahir dan Bathin” banyak dikirim melalu kartu ucapan. Namun di era kini, masyarakat banyak tak lagi saling berkirim kartu ucapan lebaran. Hanya untuk relasi penting, atau antarperusahaan yang masih membutuhkan kartu ucapan lebaran. Era sekarang, ucapan lebaran telah tergantikan kiriman SMS atawa layanan pesan singkat via ponsel.. baik yg sekadar kiriman berupa teks ucapan, maupun yang berisikan image.

Praktis, memang, berkirim ucapan melalui media ponsel. Selain mudah, biayanya juga sangat murah. Antara Rp 50-Rp 100. Bandinkan dengan harga kartu ucapan, yang sekitar Rp 500-Rp 2000 untuk kelas murah sampai menengah. Belum lagi biaya perangko..Bisa diperkirakan biaya keselurahnnya setiap lembar kartu ucapan…

Tulisan ini bukan akan mempersoalkan tradisi berkirim ucapan via ponsel tersebut. Tapi, apa yg ditulis dalam SMS ucapan lebaran. Coba aja disimak, puluhan SMS Lebaran yang Anda terima. Dari yang bernada formal: Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir bathin, maunpun yg nyantai dengan sampiran berupa pantun. Ada juga ucapan model relijius, yang diawali doa/harapan buat si penerima SMS, baru diakhiri ucapan berlebaran…

Apanya yang salah dalam SMS tersebut? Yang kurang afdol, menurut saya, ketika seseorang menerima ucapan lebaran: permohonan maaf, kebanyakan membalasnya dengan ucapan yang relatif sama: memohon maaf juga.. Sehingga keduanya hanya sama-sama meminta maaf, dan selamat berlebaran. Belum jelas, apakah keduanya sudah “saling memaafkan.” Sebab tak ada ucapan, misalnya: Saya maafkan setulusnya, kesalahan2 Anda, saya juga meminta maaf…dst ..

Kebanyakan orang hanya bisa meminta maaf, tapi belum jelas (tentu) telah memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain.. Seumur2 saya, ucapan permintaan maaf saya, belum pernah dibalas dengan redaksi : kesalahan saya telah dimaafkan. Semua balasan SMS ke ponsel saya, ya sama saja, ucapan lebaran dan permintaan maaf.

Bahkan ucapan permintaan maaf yang disampaikan secara langsung, baik melalui kunjungan, telepon, or chatting, sama juga: ketika yg satu meminta maaf, yg lain mengatakan, kurang lebih: sama-sama, saya juga minta maaf, orangtua banyak salahnya…dst..

Benarkah mereka telah saling memaafkan? Atau mereka hanya sekadar mengikuti tradisi saja. Siapa yang tahu hati dan pikiran orang. Saya menulis ini, karena jujur saja, di antara mereka yg pernah mengirim ucapan permintaan maaf, ada yang belum bisa saya maafkan semua kesalahannya. Untuk sejumlah kesalahan, menurut kacamata saya, yg bisa termaafkan, ya memang tulus saya maafkan. Namun ada satu-dua kesalahan yang sangat-sangat sulit termaafkan.. Meski telah bertahun-tahun berlalu, sebuah “kesalahan berat” itu masih terhidden dalam memori saya… Dalam keseharian mungkin dalam kategori lupa.. atau enggak terngiang dalam ingatan. Namun ketika memori dibangkitkan pada sesuatu yg menuju si biang pembuat kesalahan, memori dgn cepat menangkap: saya belum memaafkan kesalahannya.

Jahatkah saya? Manusia masing2 punya kelemahan. Hanya Allah yang bisa menilainya. Sebab, kaidah Islam sendiri mengatakan bahwa kesalahan antarmuslim penebusnya ya, pemberian maaf dari orang yang kita mintai maaf. Kesalahan kita terhadap orang-orang mungkin saja telah dimaafkan Allah. Namun belum jelas betul, apakah sudah dimaafkan oleh orang-orang yang secara sadar dan enggak sadar telah kita “zolimi” atawa sekadar berbuat salah dan khilaf yang sepele.

Kembali ke ucapan permintaan maaf itu tadi. Saya, setidaknya dalam 3-4 tahun terakhir, berusaha menjawab
SMS permintaan maaf dengan jawaban, kurang lebih: Saya maafkan setulusnya semua kesalahan sampeyan..begitu juga saya, mohon maaf ..dst.. Dalam kasus ini: saya jelas sudah memaafkan secara tulus kesalahan2 yg orang lain pernah dibuat ke saya.. Namun, permintaan maaf saya, enggak jelas dimaafkan atawa tidak. Setelah saya kirim jawban SMS ke kolega saya, nyaris semuanya tidak menjawab ulang yang berisi pemberian maaf.

Tahun 2008 ini, hanya ada satu yang balik membalas, memberi maaf, dan meng-Amien-kan doa/harapan saya, yang tertulis di SMS saya. Selebihnya? entah irit pulsa SMS, atau karena memang tidak terbiasa dengan SMS berisi pemberian maaf.

Jika kita merunut jauh ke belakang, sejak tradisi mudik masyarakat ke kampung halaman, rasanya kebiasaan “meminta maaf, lupa memaafkan” itu kurang lebih sama umurnya dengan tradisi mudik. Rasanya mayoritas masyarakat hanya pandai meminta maaf, tapi lupa memaafkan, sejak jaman lampau hingga sekarang..

5 Responses to “Meminta Maaf, Lupa Memaafkan”

  1. Akhmad Budi Waluya Says:

    Ok, saya maafkan segala kesalahan sampeyan baik yang telah lalu maupun yang akan datang. :)
    Memang makin kesini kok kesannya pemberian maaf ini menjadi semacam ada perbedaan tingkatan antara yang meminta maaf dan yang memberi maaf. Jadinya yah karena perasaan kok memberi maaf itu seperti merasa lebih tinggi derajatnya atau paling tidak lebih senior lah.
    Akhirnya saya juga minta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah ataupun belum saya perbuat baik sengaja maupun tidak sengaja.
    Wassalam,
    AkhmadBW

  2. Thanks kawan Akhmad.. Maaf saya agak lama tidak membuka blog ini.. terima kasih sekali lagi atas maafnya. Memberi maaf memang bagian dari tuntunan Islam. Sebagaimana tauladan dari Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah uswatun hasanah, seseorang yang sangat pemaaf. Aisyiyah r. a. berkata: Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW membalas karena beliau dianiaya selama hukum Allah tidak dilanggar. Beliau akan memaafkan kesalahan orang lain yang mengenai dirinya, karena itu adalah sifat utama

  3. saya mita ma`af kalau saya punya salah
    Dan saya ma`afkan kesalahan2 mua………… ok all

    cocain`s yoga beecom weluhan jember
    beecom comunity
    LA

  4. Pemerian maaf adalah aktion no talk only
    Perbuatan Sia sia rasanya
    Bila pemerian maaf atawa minta maaf hanya dibibir saja
    Akhirnya hanya sebagai formalitas saja

    Nah inila fenomena kehidupan sekarang
    Kebanyakan hanya mengejar yang nampak saja
    Banyak mengobral kata,mengejar impian
    Namun kepedian,luka lama masih tersimpan didalam dada

    Itulah noda yang telah terinstal didalam memori kehidupannya
    Yang akan menolak segala informasi yang tidak sama
    Akhirnya hanya masuk kiri keluar kanan
    Akhirnya hidup dalam belenggu dosa/luka lama

    Aku ingin keluar dari belenggu kehidupan
    Ingin merples, mengintal ulang memori yang usang
    Aku tak mau hidup ini direcokin kendala masa silam
    Maafku telah tebarkan dendamku telah kuhapuskan
    akan kutulis kehidupanku dengan senyuman

  5. Pemerian maaf adalah aktion no talk only
    Perbuatan Sia sia rasanya
    Bila pemberian maaf atawa minta maaf hanya dibibir saja
    Akhirnya hanya sebagai formalitas saja

    Nah inila fenomena kehidupan sekarang
    Kebanyakan hanya mengejar yang nampak saja
    Banyak mengobral kata,mengejar impian
    Namun kepedian,luka lama masih tersimpan didalam dada

    Itulah noda yang telah terinstal didalam memori kehidupannya
    Yang akan menolak segala informasi yang tidak sama
    Akhirnya hanya masuk kiri keluar kanan
    Akhirnya hidup dalam belenggu dosa/luka lama

    Aku ingin keluar dari belenggu kehidupan
    Ingin merples, mengintal ulang memori yang usang
    Aku tak mau hidup ini direcokin kendala masa silam
    Maafku telah tebarkan dendamku telah kuhapuskan
    akan kutulis kehidupanku dengan senyuman

Leave a Reply