Stop: Tiada Maaf

jago1

Kesibukan kerja yang luar biasa membuat waktu buat mengisi blog ini sementara waktu hilang. Tulisan lama bertahun 2002 masih ada sekitar 50-an file yang belum masuk dalam blog ini. Saya tergelitik menulis lagi soal “maaf-memaafkan” lantaran belum lama berselang, secara tak sengaja saya membuat kesalahan terhadap seorang teman lama, yang baru bersua via ponsel, setelah 20 tahun tak pernah bersapa kabar sekali pun.

Kebetulan teman itu memang dulu, saat SMA, termasuk salah satu figur publik..setidaknya lebih dikenal dibanding saya… Selain pandai, dia juga cantik, dari keluarga berada dengan status sosial yang terpandang.

Di masa 1980-an, dia sebagai anak seorang dokter, di mata saya ya anak orang kaya.. Mungkin di masa kecilnya tak pernah bersentuhan dengan telek ayam seperti saya. Masa remaja saya, sehari-hari, sudah biasa bergaul dengan ayam-ayam peliharaan. Bukan sekadar dipelihara tentunya, tapi telurnya, tentu saja sang ayam itu sendiri menjadi barang berharga buat menambah biaya sekolah. Maklum, saya hanya anak PNS golongan II.

Selain ayam, hari-hari saya dulu pernah berkawan dengan mentok, bebek, dan kambing. Hampir 100% saya yakin, teman saya yang anak dokter itu, kebetulan dia sekarang juga berprofesi dokter, tidak pernah berkawan dengan ayam, mentok, bebek dan kambing. Lho apa hubungannya memaafkan dengan ayam, mentok, dan hewan piaraan masa remaja saya itu? Secara langsung mungkin tidak ada. Saya hanya merasa berterima kasih kepada alam, yang melahirkan saya sehingga masa remaja saya berkawan dengan unggas dan ternak itu. Sebab dengan bergaul akrab dengan hewan, saya bisa merasakan bahwa hewan itu “tulus” dalam menerima dan memberi.

Ayam-ayam itu di antaranya diberi nama Petruk (si jagoan warna hitam), Gareng (jago merah yang disegani), Kreak (si hitam legam yang termasuk susah diatur), Blirik, Terang Bintang, Dewa Resi, Chili Willy, hingga Untung. Ayam itu tulus ketika menerima perhatian kita, saat mencampurkan dedak dengan air.  Apalagi saat mengelus Gareng, jagoan yang paling disegani.. Seolah ia bangga bisa lebih dekat dengan saya, dibanding jago lainnya. Ayam-ayam ini bersikap beda dengan ayah saya yang lebih temperamental saat itu.. Sehingga lebih susah diatur saat bersama ayah saya. Suara makian biasa saya dengar saat itu.. Entahlah, rasanya ayam-ayam itu meski tidak bisa bercakap layaknya manusia, bisa memahami makian. Sehingga ia menyikapinya dengan ulah “kurang ajar.”

Begitu juga dengan bebek, mentok, dan kambing. Mereka bisa tulus menerima pemberian kita. yang susah payah mencarikan makan sehari-hari. Mereka juga paham saat setiap hari saya rela berbau-bau membersihkan kandangnya yang sudah pasti jorok, karena selalu dipenuhi tahi dan kencingnya, serta sisa-sisa santapannya. Memang, sesekali ada kambing yang sukanya menyeruduk saya ketika membelakanginya. Tapi saya merasa itu canda dia, atau entah kemarahan kepada ayah saya yang suka menghardiknya, lantas ditujukan ke saya. Saya hanya menanggapi serudukannya dengan senyum. Tak ada marah kepada ayam, bebek, mentok dan kambing saya itu.

Oiya ada satu lagi hewan akrab saya, yakni kucing.Sepanjang masa sekolah dulu, rasanya sudah banyak kucing beranak pinak untuk kali kesekian, atau kehadiran kucing spesies baru, saat kucing satu generasi saya sudah habis garis keturunannya. Nama-nama kucing saya, yg semoga berada di surga menemani Baginda Nabi Sulaiman, sang penyayang kucing, adalah Mia, yang beranak Mira (berwarna putih dan merah) dan Mita (berbulu putih dan hitam) –anak-anak Mia lainnya diberikan kepada tetangga dan kenalan. Dari Mira dan Mita juga banyak anak yang lahir, namun sejak kecil tidak dipelihara sendiri karena diminta tetangga dan kenalan.Lantas ada Mimi (yang galak, yang pernah makan kuthuk alias anak ayam tetangga. Mimi akhirnya meninggal jatuh dari pohon sirsak..)

Kucing baru generasi Mimi, ada Ayu, Alpina Capri, Blorek, hingga yang berusia cukup sepuh, Mas Blegendong atawa yang biasa disapa Mas Bleg. Kucing dengan bulu putih, totol-totol hitam ini, boleh dibilang kucing paling setia di antara kucing-kucing sejak masa usia SD. Kucing ini menemani saya sejak kelas 2 SMP. Ketika pindah rumah saat SMP kelas 3, Mas Bleg juga ikut serta. Dia mudah menyesuaikan diri dengan keadaan rumah baru yang di kiri kanan, saat itu dikepung sawah, lapangan rumput dan kebun panili. Dulunya, saya dan dia tinggal di pinggir jalan protokol utama, yang memiliki tanah buat menanam pepohonan.

komputer_kucingMas Bleg meninggal entah di mana jasadnya. Seingat saya, ketika masa awal kuliah saya, dia masih sehat. Namun entah mengapa di jadi sering bepergian, yang agak jauh, sehingga menurut laporan Ibu, Mas Bleg kadang pergi beberapa hari tidak di rumah. Hingga suatu saat, dia pergi entah kemana. Saya menganggap dia sudah meninggal. Ada kesedihan, karena dia cukup lama menemani hari-hari saya..Dia biasa bercanda seolah mengunyah jari-jemari saya, saat tangan ini menggelitik perutnya. Meski jemari saya berada di antara gigi geliginya yang tajam..dia tidak pernah benar-benar mengunyah.

Bagi saya Mas Bleg mengajarkan akan persahabatan tulus. Saya memang mencintai kucing. Sehingga dengan senang hati menyediakan makan setiap hari. Kadang ikan pindang yang dicampur nasi. Paling tidak nasi berteman rese, remah udang kecil-kecil. Baunya enggak enak. Saudara-saudara saya paling malas buat memberi makan Mas Bleg.

Persahabatan dengan kucing tetap terjalin saat saya sudah beranak dua, saat ini. Kucing turut meramaikan rumah kami, ketika anak pertama saya, Dzikrina Qonita Fillah waktu itu berusia 4 tahun. Sekarang dia kelas 4 SD. Namun, dalam beberapa tahun itu, kucing kami datang pergi. Yang agak awet adalah Spongebob dan Patrick. Keduanya sama-sama berbulu putih-hitam. Bedanya pada mulut Patrick ada totol hitam. Spongebob juga lebih putih bulu di wajahnya. Spongebob hilang sekitar 2 tahun lalu. Senarnya tidak benar-benar hilang, karana saya kadang melihat dia di rumah tetangga saya, yang berjarak 50-an meter. Patrick pun sejak setahun terakhir jarang pulang rumah. Saya sendiri memang tidak setiap hari berada di rumah. Ketika  saya berada di rumah, Patrick lebih sering pulang. Dia selalu menesulup di antara kaki saya, menggosok-gosokkan badanya di kaki saya..

Kembali lagi ke soal teman saya, yang mendadak berubah dalam hitungan jam.. Saat kali pertama saya telepon dia menyambut dengan grapyak. Bahkan dia berujar kalau tidak punya kontak dengan teman-teman SMA, satu pun. Sejak lulus kuliah. Tapi entah kenapa, sambutan hangat itu berubah drastis saat saya berbuat salah, yang menurut saya tidak terlalu prinsipil. Saya hanya membuatkan email baginya, dan mendaftarkannya langsung ke milis sekolah, yang kebetulan saya kelola. Dia marah karena saya dinilai mendahului dia. Saya meminta maaf sembari memberi alternatif solusi, email dia (yang saya buatkan itu) saya hapus dari member milis. Dia sepakat tapi, tidak ada pemberian maaf. Hanya ada pesan singkat: ya didelete saja. Mksh.

SMS permintaan maaf berkali-kali saya kirimkan. Panggilan telepon berkali-kali saya lakukan. Tak ada respons.Kemarahan dia bergeming. Meskipun boleh dibilang saya sudah memohon-mohon, Bukan sekadar meminta maaf. Berkali-kali.

Jujur saya heran. Tidak bisa memahami sikapnya. Sepertinya, bagi dia, betapa mahal harga sebuah maaf. Saya mencoba memahami lagi, ketika membuka blog ini dan ada pesan dari kawan baik saya yang kurang lebih mengatakan: ada pergeseran, seolah memberi maaf itu tingkatannya lebih tinggi dari yang meminta maaf. Benarkah demikian. Kalau benar, artinya teman saya yang belum memberi maaf itu menempatkan dirinya lebih tinggi dari saya. Bagi saya tidak mengapa, karena toh saya memang sudah merendahkan diri saya untuk memohon kata maaf. Apakah saya kurang merendahkan sehingga posisi dia semakin tinggi di atas saya?

Sekadar mengutip di internet, tulisan Dr Isnawati, MA, dosen IAIN Imam Bonjol, tentang Perilaku Orang Bertakwa. Dia menukil Surah Ali Imran 133-136 sebagai kajiannya:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan (juga) orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal (Qs. Ali Imran 133-136).

Telaahnya yang berhubungan dengan menahan marah dan memaafkan adalah:

Menahan marah

Perilaku orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

Orang yang mampu menahan marah, oleh Nabi SAW disebut sebagai orang yang kuat. Beliau bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud). Dalam hadits lain nabi juga bersabda: Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka di hari kiamat Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan.

Memaafkan

Memaafkan berarti menghapuskan. Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.

Untuk memberikan dorongan kepada manusia agar mau memaafkan, Allah berulang kali memerintahkannya di dalam Al-Quran, antara lain dalam surat Al-Araf 199, Al-Hijr 85, dan Asy-Syura 43. Sementara itu Rasulullah SAW juga menjelaskan keuntungan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, di antaranya:

Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengampuninya saat ia kesukaran. Dan Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat (Lengkapnya dapat dilihat dalam Muhammad Ahmad al-Hufy, Edisi Indonesia, hal. 272).

Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah kita, adalah seseorang yang sangat pemaaf. Aisyiyah r. a. berkata: Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW membalas karena beliau dianiaya selama hukum Allah tidak dilanggar. Beliau akan memaafkan kesalahan orang lain yang mengenai dirinya, karena itu adalah sifat utama.

Terima kasih Ibu Isnawati atas telaahnya yang memberi inspirasi dan mengingatkan saya… Setelah menyimak firman Allah dan hadist Nabi tentang marah dan memaafkan itu, saya jadi malu saat pernah marah kemudian menghapus sejumlah orang dalam daftar teman karena telah menyakiti saya, mencurangi, hingga menzolimi saya. Prinsip saya sebelum ini, saya memaafkan bila mereka meminta maaf. Namun ternyata tak pernah ada permintaan maaf dari mereka.

Saya berpinsip: saya telah memaafkan kesalahan mereka, meski mereka tak pernah meminta maaf. Stop: tiada maaf bagi siapapun, meski mereka tidak pernah meminta maaf. Semoga saya dan Anda termasuk golongan Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat…

One Response to “Stop: Tiada Maaf”

  1. alkisah mo jadi orang pemaaf itu sulit banget…

Leave a Reply