Celathu Sang Presiden

Judul: Presiden Guyonan

Penulis: Butet Kartaredjasa

Penerbit: Kitab Sarimin Yogyakarta, cetakan I November 2008

Tebal: xiv + 285 halaman

Butet Kartaredjasa menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan.

Mas Celathu namanya. Penampilannya bersahaja: baju berbahan katun dengan model “itu-itu saja.” Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa leluasa menyapa bulu keteknya. Matanya dilapis kaca ukuran minus setebal wingko babat, dengan model telor sebulat-bulatnya telor ceplok. Dan lihatlah kakinya! Sepatu sandal bikinan Yogya dari kulit sapi lokal selalu membungkus kaki, dan mengingatkan kita kepada biarawan dan guru-guru Taman Siswa. Dalam penampilan seperti itu, semestinya dia lebih pantas berpredikat rohaniawan atau guru. Setidaknya tutur katanya akan familiar dengan adat kesopanan yang terkadang lamis dan canggih menyajikan kepalsuan. Tapi ternyata tidak.

Begitu kita melihat wajahnya yang berbibir seperti iwak empal alias rada tebal, dan tabiatnya yang rajin menyambar omongan orang sesuka dan sekena-kenanya –untuk tidak disebut waton njeplak– maka gugurlah semua imajinasi yang stereotipe itu. Saya malah semakin mempercayai pemeo yang menyebutkan bahwa “nama membawa tuah” Sesuai namanya, Mas Celathu memang suka melontarkan celathu. Jika diindonesiakan celathu berarti “berujar” atau “menyergah”. Peristiwa apapun dikomentari.

Itulah salam pembukaan Butet Kartaredjasa mengenalkan tokoh Mas Celathu yang menjadi wahana baginya menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. Tokoh sentral inilah yang menjadi aktor utama tulisan dalam buku Presiden Guyonan. Buku setebal 285 halaman ini merupakan kumpulan kolom karya Butet, yang lebih dikenal sebagai aktor teater, selain sebagai penulis esai. Tulisan Butet ini pernah dimuat secara rutin, sepekan sekali, di koran Suara Merdeka, Semarang, dalam kurun September 2007-September 2008.

PAHLAWAN TONGSENG

Celathu Butet itu bisa melompat dari persoalan satu ke persoalan lain. Misalnya setelah berbicara soal hakiki dari kemerdekaan di tulisan paling awal, Butet menyoroti soal kekerasan, yang ketika itu ada peristiwa penganiayaan sejumlah mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di halaman 7. Terus ngoceh soal pahlawan (Pahlawan Tongseng, halaman 51). Pada peringatan Hari Pahlawan, Mas Celathu masih bingung mengartikan pahlawan.

”Rupanya pahlawan itu harus tega membunuh sesamanya ya?” Mas Celathu menggugat, meski dalam hati. Yang ada dalam pikirannya, mereka yang jadi pahlawan adalah yang berbaring di pusara Taman Makam Pahlawan. Di uar itu bukan pahlawan. Artinya, hanya mereka yang pernah angkat senjata dan mungkin pernah secara heorik membunuh pahlawan, yang bisa dipredikati pahlawan.

Mas Celathu berharap ada koreksi mengenai tafsir sosok pahlawan. Sebab bisa jadi mereka yang bermimpi jadi pahlawan akan selalu merindukan datangnya perang. Padahal, Mas Celathu sendiri mafhum menyelesaikan persoalan dengan menyelenggarakan peperangan sudah jadi mode yang kedaluwarsa.

”Jika nilai kepahlawanan boleh dimaknai sebagai ikhtiar memuliakan kehidupan dengan kesediaan diri menjadi tumbalnya, maka siapa saja kelak boleh mendapatkan kapling di pusaranya para pahlawan. Bukan hanya pembunuh yang terampil menggunakan bedil,” katanya.

Saat ada bencana banjir, kritik Butet disampaikan melalui Mas Celathu yang akan membuka usaha baru” jualan kasur (Halaman 97). Bencana banjir, dalam logikanya, adalah sawab subur yang bisa diolah sebagai peluang untuk memanen keuntungan. Butet menyisipkan sosok Mbakyu Celathu, istri Mas Celathu, yang bisa mengingatkan dari perilaku tak etis. ”Mosok cari untung kok di tengah orang yang lagi susah,” sergah Mbakyu Celathu.

Jelas sekali ini sentilan Butet pada kalangan yang ”memproyekkan” bencana dan penderitaan khalayak, mengeksploitir musibah untuk dijadikan berkah. Dia berharap ada sosok ”istri bernyali” yang bisa mengingatkan suami-suami yang pejabat publik, agar tidak mem-proyek-kan bencana dan penderitaan rakyatnya.

PERSOALAN SEKUKU

Celoteh Mas Celathu juga terasa mengena saat ia menggelitik para pejabat publik, anggota lembaga legislatif dan para politisi. Amsalnya soal Mas Celathu yang sedang bengkak jempol kakinya, gara-gara tidak merawat dengan baik si kuku jempol.

Saban saat Mas Celathu hanya bisa mengerang-erang karena sakit akibat infeksi di kuku jempol kainya, bisa merayap hingga ke otak. Suhu badannya meningi. Kepalanya cekot-cekot, sepertia da ratusan jari menjitaki. Biarpun hanya sepotong kuku, jika tak diurus dengan baik nyatanya bisa bikin kehidupan macet.

”Makanya, jangan hanya memikirkan perkara-perkara besar. Sok ngomong politik. Pilkada. Korupsi…,” terasa menohok sindiran Butet melalui mulut Mbakyu Celathu. Rasa sakit, juga sakitnya kehidupan masyarakat, acapkali memang tidak selalu disebabkan oleh hal-hal besar, begitu Butet menyimpulkan.

PRESIDEN SEMU

Akan halnya judul buku ini Presiden Guyonan, nafasnya pernah menjadi salah satu tulisan berjudul Presiden Semu. Mas Celathu selalu membayangkan rumahnya tak ubahnya sebuah negara. Maka, dialah presidennya. Lebai, memang. Katanya, dengan menyangka dirinya adalah ”presiden”, setidaknya dia cukup puas dengan ge-er memiliki jabatan tinggi tersebut. Berhubung cuma fantasi, imajinasi Butet nggak tanggung-tanggung: presiden seumur hidup.

Sebagai presiden seumur hidup, Mas Celathu hanya ingin konsisten berjuang memuliakan kehidupan keluarga dan lingkungannya. Apapun yang dilakukan adalah gerak menuju cita-cita itu: kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dia tidak ingin terganggu. Atau diganggu. ”Ini kan Republik Celathu, jadi sistem dan aturannya bisa dibuat sesuka kita,” katanya.

Tentu saja, nisbah Butet itu kritik pedas kepada para petinggi, pejabat, atau anggota Dewan yang menjadikan jabatannya ibarat presiden, sang pemimpin negeri. Bisa membuat aturan sesukanya untuk meraup kebahagiaan dan kesejahteraan lahir bathin.

SENSE OF HUMOR

Presiden Guyonan menurut Todung Mulya Lubis adalah kritik terhadap budaya birokratik yang inhuman dan arogan. ”Membahas persoalan negara jelas harus sangat serius, tetapi pada sisi lain juga dengan suatu sense of humor,” katanya dalam komentar buku ini. Bangsa yang tidak mampu menertawakan dirinya akan menjadi negara yang gagal. ”Buku Presiden Guyonan ini mengajarkan kepada kita untuk tajam dan jenaka dalam mengelola negara.”

Mohamad Sobary dalam pengantar buku ini menyebut Butet mampu mengolah hidup menjadi bahan ketawa. Nggeguyu alias menertawakan, menurut Sobary, adalah konsep campur aduk antara mengkritik, sekadar membuat lelucon, mengejek, atau mencemooh, sekaligus diam-diam balas dendam. Butet berada di pinggir kekuasaan. Dia dalam posisi menertawakan gerak-gerik para empunya kekuasaan. ”Ini merupakan moralitas orang-orang yang bersikap resisten terhadap keangkuhan penguasa, atau siapa saja yang berlagak sok kuasa,” kata Sobary.

Di luar soal salah ketik ejaan, Presiden Guyonan enak dinikmati. Salah ketik sudah tampak sejak sampul buku disibak. Tertulis ”Kolom Celathu Suara Merdeka, September 2007-September 2009.” Tentu itu bukan sengaja sebagai guyonan Butet.

Dimuat di Majalah INFO SOCIETA Edisi Kaleidoskop 2008

One Response to “Celathu Sang Presiden”

  1. Saya salah satu yg setia mengikuti kolom mas celathu di harian Suara Merdeka.

    Gaya berceritanya memang selalu kritis, tajam, sekaligus jenaka.

Leave a Reply