Mencari Jalan Keluar

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya(QS .Al-Furqan ayat 2).

Nukilan ayat Allah itu merupakan satu di antara banyak ayat yang mengangkat tentang qadha (ketetapan Allah) dan qadhar (kepastian terjadinya ketetapan Allah).. Entah sejak kapan, saya memandang qadha dan qadar jika diwujudkan dalam visual ibarat permainan mencari jalan keluar, yang sejak usia Taman Kanak-Kanak (TK) sudah saya kenal. Dari yang sederhana, dengan alternatif jalan bercabang yang sedikit, target yang dituju juga dekat, hingga yang rumit, sehingga memerlukan coba-coba memilih jalan ini atau itu, sampai akhirnya ketemu jalan keluarnya. 

Saya senang mainan ini, karena merangsang imajinasi saya menemukan jalan menuju target. Tanpa harus mencoret jalan yang akan ditempuh di gambar. Hanya otak yang membayangkan jalan mana saja yg bisa dilalui menuju pintu keluar. Kadang dengan sekali dua kali berimajinasi, jalan keluar didapat. Namun pada permainan yg rumit, dgn cabang2 jalan yg banyak, tak mudah sekadar membayangkan jalan yg dilalui tanpa hrs menandainya. Di era teknologi skrg, varian games ini semakin banyak. Permainan ini masuk kategori strategy games. Misalnya menyambung pipa beragam bentuk, untuk mengalirkan cairan menuju target. Ada juga yang menyusun jalan rel dengan beragam cabang agar bisa dilalui dua rangkaian kereta api.

Kehidupan ini tak ubahnya permainan mencari jalan keluar. Bahkan dalam sekuel kecil kehidupan, yakni kejadian sehari-hari. Dari pagi, saat azan subuh memanggil2. Selalu ada pilihan jalan keluar bagi kita. Bisa membuka mata, kemudian terpejam lagi. Bisa membuka mata, kemudian duduk karena masih mengantuk, terrnyata terlelap lagi dalam tidur. Namun bagi yang punya ketetapan hati, panggilan azan akan diikuti dengan berwudlu, kemudian menegakkan subuh. Menegakkan subuh memang berat, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadist : “Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Perjalanan menuju kantor atau sekolah juga tak lepas dari permainan memilih jalan keluar. Ada banyak jalan yg bisa dilalui menuju kantor..kecuali letak kantor dan rumah cuma dalam satu jalur jalan yang dekat, sehingga tak perlu memilih jalan lain. Masing2 pilihan mengandung risiko: jalan yg dipilih macet, ada kecelakaan, ditilang polisi, atau sebaliknya mulus2 saja. Meski pilihan jalan sama, kejadian setiap hari tidak selalu sama, bahkan sejatinya selalu berbeda, meski kelihatannya sama saja.

Peristiwa menggemparkan, “Xenia maut” yang menewaskan 9 orang, itupun adalah pilihan hidup, baik sopir maupun korban. (Anehnya, banyak media menulis “tabrakan” padahal jelas bukan saling menabrak, melainkan xenia yang menabrak pejalan kaki). Si sopir punya pilihan sebelum ia mengendarai mobil, begitu juga pilihan jalan yang akan dia tempuh. Kepada korbannya, mereka semua juga punya pilihan untuk berada di mana saat xenia berkecepatan tinggi lepas kendali di jalan. Namun selalu ada misteri qadha dan qadar yang sepenuhnya harus kita imani, tanpa harus mempertanyakan. Mengapa mereka yang menjadi korban, mengapa  ada ibu hamil, ada anak kecil, ada remaja yg msh punya masa depan panjang. Tak ada yang mau memilih berada di sekitar halte Kemendag pada jam kecelakaan itu, jika tahu ada bahaya yang bakal merenggut nyawanya. Berbeda halnya dgn si sopir. Ia mestinya bisa memilih jalan yg risiko menabrak dihindari. Jika menenggak miras, ekstasi, efeknya bisa mencabut kesadarannya, sehingga tak mampu membuat jalan pilihan terbaik. Apa lacur, kesadarannya sudah hilang karena aktivitas harian yang dipilihnya memang menebar risiko bahaya bagi diri dan orang lain.

Permainan mencari jalan keluar dlm kehidupan ini memang sangat sangat rumit. Tak sekadar pilihan mau mandi pakai sabun apa, atau makan menu apa. Pilihan sulit itu menjadi semakin sulit ketika kita tak bisa membayangkan, jalan yg kita pilih itu ujungnya di mana. Anak-anak sepertinya tak memilih, ketika ia “diharuskan” ortunya bersekolah di kampung halamannya, atau berpindah ke kota tetangga dengan alasan sekolah itu RSBI atau “bermasa depan cerah”. Begitu juga saya, ketika TK dan SD disekolahkan orangtua di TK Dharmayusiwi IV Magelang dan SD Kristen 2 Magelang, meski saya muslim. Namun saya menjalani sekolah di situ bukan lagi pilihan ortu. Saya bebas menentukan jalan saya. Saya memilih menjadi yg terbaik, selalu juara hingga tamat. Dengan nilai bagus, kemampuan bagus untuk melewati ujian masuk SMP, saya bisa memilih sendiri melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Magelang. Dan seterusnya, di jenjang lebih tinggi, saya bertanggung jawab terhadp pilihan saya sendiri.

Selalu ada saatnya, kita tak tahu pilihan jalan mana yang terbaik. Saat menentukan pilihan UGM untuk tujuan kuliah, tak ada kebimbangan, karena sejak kecil memang itu cita-cita saya. Tapi jurusan apa? Teknik Sipil sebenarnya bukan pilihan saya 100%, sebab itu pilihan bapak saya. Saya sendiri bimbang saat itu. Namun isia dalam lembar UMPTN adalah Teknik Sipil dan MIPA Fisika. Saya sebenarnya lolos seleksi D-3 Fakultas Nongelar Teknologi UGM, sebagai cadangan jika UMPTN gagal. Anehnya saya memilih D-3 Teknik Mesin. Saya sebenarnya juga ingin kuliah di ISI Yogyakarta. Namun entahlah, saya tak berani mewujudkannya karena takut  pilihan itu akan membuat bapak saya murka..

Jalan hidup saya sebagai penulis, hingga saat ini, sebenarnya bukan jalan pilihan yang terang benderang muncul dan dijalani sejak remaja, seperti halnya para penulis ngetop. Namun jalan menuju ke sana mulai tampak ketika saya amat senang bergabung dengan Clapeyron, Majalah Kampus Teknik Sipil UGM. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus Pogung, yang sekarang jadi Gedung Pascasarjana UGM, bawah sadar saya sudah menetapkan pilihan, saya harus masuk di Clapeyron. Tapi anehnya, saya memilih bagian artistik, layout dan produksi. Bahkan ketika ada Diklat Jurnalistik Tingkat lanjut I yang diadakan Balairung, saya ikut kelas Artistik. Pembimbingnya adalah Ponang Praptadi (SCTV). Masih ingat waktu itu saya bergaul dengan orang2 artistik seperti Raharjo Waluyo Jati (Filsafat UGM) dan Kuss Indarto (ISI).

Toh, akhirnya pilihan saya aktif di Clapeyron itu menjadi pembuka jalan saya masuk Majalah Gatra. Ketika krisis ekonomi merebak akhir 1997, saya yang tadinya bekerja di kontraktor bangunan, kena imbasnya. Proyek mandeg. Mencari pekerjaan baru di Jakarta, sama saja: semua proyek akhirnya berhenti. Di penghujung 1997 itulah ada lowongan reporter Gatra Biro Yogya. Alhamdulillah, pilihan jalan saya sampai juga ke pintu keluar dari krisis. Masih ingat betul berapa gaji saya di Gatra sejak masa calon reporter: Rp 575.000. Lepas dari masa percobaan tiga bulan, gaji naik menjadi Rp 675.000. Saat itulah saya memilih jalan untuk menikah. padahal, masa saya harus menjalani 6 bulan masa calon reporter, sebelum diangkat sebagai reporter. Artinya, saya memilih menikah, meski pintu keluar pada 6 bulan ke depan belum tahu. Selama beberapa bulan bersama istri, saya indekos dengan kamar sempit ukuran 3×3 meter persegi. Setelah bisa mengontrak rumah kecil, satu persatu perabotan dipenuhi. Dari meja kursi di ruang tamu seharga Rp 500.000, springbed murah juga Rp 500.000, meja-kursi makan, kompor gas, dll. Secara matematika tak mencukupi. Tapi pilihan jalan untuk bisa menambah pendapatan selalu dibukakan Allah dalam pikiran saya.

Pilihan hidup semakin sulit ketika saya dimutasi ke Gatra Jakarta, Februari 2000. Kemudian saya memilih keluar dari Gatra tahun 2003. Pilihan kembali lagi ke Jakarta tahun 2004. Di awal saya dimutasi ke Jakarta, saya harus berpisah dengan istri dan anak sulung saya Dzikrina Qonita Fillah (Erin), yang baru genap setahun pada 24 Juni 2000. Ketika kembali lagi ke Jakarta, saya juga harus berpisah dengan anak kedua saya Syadzarasyida Qonita Fillah (Asya) yang lahir 22 Februari 2007. Erin Asya dibesarkan boleh dibilang harus memilih jalannya, jarang bertemu bapaknya. Kala di Gatra, saya hanya bisa pulang sebulan sekali, kadang lebih dari sebulan. Setelah keluar dari Gatra, saya bisa agak sering pulang, dua-tiga minggu sekali.

Meski jauh dari Erin Asya, saya masih punya pilihan untuk tetap dekat. Yakni dengan mendoakan setiap bakda salat, membacakan Quran, menulis diari, atau membelikan hadiah. Saya masih selalu berharap bisa menetap di Magelang, merawat orangtua yang sudah sepuh dan selalu bersama Erin Asya. Itu pilihan yang selalu memenuhi benak saya setiap saat. Meski, kerinduan kepada bidadari saya, ErinAsya, dirasakan setiap detik, setiap tarikan nafas. Permainan mencari jalan keluar di level yang tinggi memang tak mudah dipecahkan….

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,169 other followers

%d bloggers like this: