<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sketsa sedari dulu</title>
	<atom:link href="http://spesies.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spesies.wordpress.com</link>
	<description>Perjalanan hidup itu masih berupa sketsa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 02:15:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='spesies.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sketsa sedari dulu</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://spesies.wordpress.com/osd.xml" title="Sketsa sedari dulu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://spesies.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Akad Pemberian</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2012/01/26/akad-pemberian/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2012/01/26/akad-pemberian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 02:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2012]]></category>
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>
		<category><![CDATA[PERCIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[ijab kabul]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[nafkah]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Pagi tadi, saya mendapatkan hikmah dari melihat tayangan Mamah dan Aa, di Indosiar. Ada jamaah bertanya: seseorang memberikan sesuatu kepada A, disaksikan banyak orang. Suatu ketika orang tersebut meminta kembali pemberiannya ke A. Bagaimana hukumnya? Mamah menjawab pemberian tidak boleh diminta lagi. Kecuali, pemberian orangtua kepada anaknya, juga pemberian suami kepada istrinya. Mamah Dedeh menjelaskan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=1279&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi tadi, saya mendapatkan hikmah dari melihat tayangan <em>Mamah dan Aa, </em>di Indosiar. Ada jamaah bertanya: seseorang memberikan sesuatu kepada A, disaksikan banyak orang. Suatu ketika orang tersebut meminta kembali pemberiannya ke A. Bagaimana hukumnya? Mamah menjawab pemberian tidak boleh diminta lagi. Kecuali, pemberian orangtua kepada anaknya, juga pemberian suami kepada istrinya. Mamah Dedeh menjelaskan, jika suami memberi sesuatu kepada istri, istri hanya mengucapkan ya. Maka suami berhak meminta kembali suatu saat, kecuali ada ijab kabul.</p>
<p>Ini hal baru bagi saya. Artinya, pemberian suami kepada istrinya, tanpa ijab kabul, maka pemberian tersebut masih menjadi hak suami. Ketika saya memberikan uang, atau pun barang kepada istri, seringkali dibarengi ucapan (ijab): ini buat sayang; ada uang buat tambah-tambah belanja sayang; atau kadang bilang ada hadiah buat sayang. Alhamdulillah istri saya selalu mengucapkan: Alhamdulillah, makasih sayang pemberiannya. Ia juga pernah berucap, apapun dan berapapun pemberian sayang, aku terima dengan senang, bersyukur, dan harus selalu bilang tengkiu.<span id="more-1279"></span></p>
<p>Saya bersyukur, sebab pemberian nafkah, hadiah, kepada istri sudah disertai ijab kabul. Semoga pahalanya jelas, yakni sebagai pemberian nafkah, hadiah, atau hibah. Pemberian bentuk hibah mungkin ketika saya membelikan perabot rumah tangga atau peranti yang bisa dipakai bersama, misalnya kompor gas, sepeda motor, televisi, laptop, ponsel, baju, sepatu, tas. Saya tak mengucapkan pemberian itu sebagai hadiah. Kalau tidak salah, saya mengucapkan: ibu buat sayang dan anak-anak. Istri saya seperti biasa, akan menjawab dengan terima kasih sayang, Alhamdulillah.</p>
<p>Mamah Dedeh tidak menyertakan dasar hukum tentang ijab qabul pemberian suami kepada isteri, yang menjadikan pemberian suami itu sepenuhnya hak isteri. Dari hasil <em>googling</em>, saya belum menemukan hukum akad pemberian suami kepada istri. Akan halnya pemberian seacara umum, mungkin bisa mengacu hadist Rasulullah ini. Dikisahkan Umar bin Khattb pernah menghadiahkan seekor kuda pada seseorang yang akan berjuang di jalan Allah, namun hadiah tersebut tidak diurus dengan baik oleh si penerima hadiah. Sehingga Umar berencana mengambil kembali kuda tersebut dengan cara membeli dengan harga murah. Maka kemudian Umar bertanya kepada Nabi dan Nabi saw bersabda <em>“Jangan kau beli darinya dan jangan kau ambil kembali barang yang sudah kau hadiahkan, meskipun dia hanya menghargainya dengan satu dirham. Sesungguhnya orang yang mengambil kembali barang yang telah dihadiahkan bagaikan sesorang yang muntah dan menelan kembali muntahnya”</em>(Muttafaq Alaih)</p>
<p>Mengenai pemberian orangtua kepada anak, hadist Rasulullah mengaturnya sbb: Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda <em>“Janganlah seseorang mengambil kembali barang yang telah dihadiahkan pada orang lain, kecuali pembelian orangtua pada anaknya (boleh diambil lagi)”</em> -HR Ibnu Majah-</p>
<p>Saya rasa hukum perlunya ijab kabul pada pemberian suami kepada istri, jika demikian halnya, menjadi penting. Sebab kebanyakan suami-istri dalam bermuamalah tak jelas hukumnya. Ketika suami memberikan apapun, ya sekedar diberikan, atau mungkin hanya ditransfer jika dalam bentuk uang. Istri yang menemui tabungannya bertambah ya hanya tersenyum, tanpa mengucapkan kabul, terima kasih papa, atas pemberiannya. Jika mengacu pada penjelasan Mamah Dedeh, pemberian suami seperti kondisi itu tadi masih menjadi hak milik suami. Jika suatu saat, misalnya, mereka bercerai, harta kekayaan di rumah itu adalah hak suami. Bukan harta gono gini, yang bisa dibagi. Istri pun harus mengembalikan pemberian suami, seandainya, sang suami mengatakan kembali semua pemberianku. Sepertinya sepele, namun bisa berdampak besar bagi suami istri.</p>
<p>Mohon pencerahan bagi yang lebih memahami hukum tentang ijab kabul pemberian suami kepada istri. Mungkin ada baiknya saya tanyakan lebih detil hukum ini kepada Mamah Dedeh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/1279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/1279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=1279&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2012/01/26/akad-pemberian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Jalan Keluar (2)</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2012/01/26/mencari-jalan-keluar-2/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2012/01/26/mencari-jalan-keluar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 01:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2012]]></category>
		<category><![CDATA[PERCIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dokter rina]]></category>
		<category><![CDATA[jalan keluar]]></category>
		<category><![CDATA[mengubah takdir]]></category>
		<category><![CDATA[rohmat haryadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=1274</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini menjadi sambungan dari tulisan terdahulu Mencari Jalan Keluar. Pagi ini saya teringat bahwa qadha (ketetapan Allah) memang sudah pasti, manusia tidak dapat menolak qadha, atau orang sering bilang: sudah takdirnya. Benarlah pernyataan ini, namun ada tuntunan Baginda Rasulullah SAW, bahwa taqdir bisa diubah dengan doa. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=1274&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini menjadi sambungan dari tulisan terdahulu <em>Mencari Jalan Keluar</em>. Pagi ini saya teringat bahwa qadha (ketetapan Allah) memang sudah pasti, manusia tidak dapat menolak qadha, atau orang sering bilang: sudah takdirnya. Benarlah pernyataan ini, namun ada tuntunan Baginda Rasulullah SAW, bahwa taqdir bisa diubah dengan doa.</p>
<p>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي).</p>
<p>Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)<br />
<em></em><span id="more-1274"></span><em><br />
</em>Saya menyederhanakan makna &#8220;mengubah takdir&#8221; masih dengan perumpamaan permainan mencari jalan keluar. Qadha yang sudah ditetapkan Allah adalah berbagai jalan alternatif di hadapan kita, bisa juga di samping atau di belakang kita. Jalan alternatif di belakang kita adalah pilihan jalan berdasarkan pengalaman masa lalu yang terbukti berhasil dan baik. Nah, menurut saya, qadha itu sudah ada dan tidak ada perubahan. Makna mengubah takdir adalah memilih takdir, memilih jalan keluar yang diyakini qadar-nya baik. Pilihan untuk &#8220;mengubah takdir&#8221; itu tak mudah dilakukan, satu di antaranya dengan keutamaan doa. Ketika orang sudah berdoa, kemudian ada ketetapan hati untuk memilih jalan keluar, dan berhasil baik, itulah ijabah dari doa.</p>
<p>Kebanyakan orang menganggap perubahan yang terjadi pada diri kita, dalam kehidupan sehari-hari, adalah hal biasa. Sudah seharusnya terjadi. Misalnya, ketika kita sakit, ada banyak jalan keluar yang bisa dipilih. Berobat ke dokter, membeli obat ke apotik karena sudah paham sakitnya, istirahat saja, atau tetap bekerja meski dalam kepayahan. Itu semua adalah pilihan takdir. Hasilnya tentu bisa berbeda-beda. Ketika Anda kemudia sehat, sejatinya Anda sudah &#8220;mengubah takdir&#8221;. Sebab jika Anda hanya pasrah, bisa jadi sakit, yang sepele, misalnya masuk angin biasa, ternyata bisa menjadi sebab kematian.</p>
<p>Saya pernah mengalami kejadian sakit lumayan parah, saat sendirian di kamar kost, ketika masih berjibaku di Majalah Gatra. Maag saya kambuh, lantaran terlampau banyak pekerjaan tak diimbangi pola makan yang benar. Ketika itu Sabtu pagi, fisik saya sudah lemah sekali untuk berjalan dari Gatra menuju kost. Sesampainya di kost saya langsung ambruk, tak kuasa untuk berjalan lagi, mau membeli sarapan pun tak kuasa. Suasana kost sepi. Entah apa yang terjadi jika saya pasrah membiarkan saya tertidur lemas.</p>
<p>Saya memilih &#8220;mengubah takdir&#8221; dengan menelepon teman saya yang dokter. Dokter Rina namanya. Saya bilang sakit maag saya kambuh. Dokter Rina memberikan resep, hanya melalui telepon. Saya catatan seadanya di secarik kertas. Ia bilang akan menjenguk saya. Saya tak bisa menunggu bantuan. Saya kembali memilih jalan keluar lain: harus segera membeli obat di apotik. Saya paksakan berjalan, meski pelan. Kurang lebih 200 meter saya berjalan dalam kepayahan. Beruntung itu hari Sabtu, sehingga apotik terdekat tetap buka. Saya kemudian membeli sarapan, kalau tidak salah gudeg telor. Alhamdulillah, saya bisa kembali ke kost, sarapan sedikit, kemudian meminum obat. Badan sudah mendingan. Ketika dokter Rina menjenguk, membawakan roti, saya sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih. Tulisan ini sekaligus juga ucapan terima kasih kembali kepada Dokter Rina, yang entah berada di mana, karena turut &#8220;mengubah takdir&#8221; saya.</p>
<p>Kondisi sakit maag kambuh lagi juga saya alami kali kedua, sama-sama masih bekerja di Majalah Gatra. Kali ini saya ditolong sobat saya Rohmat Haryadi, yang sekarang masih bekerja di Gatra. Ketika itu sakit saya tidak separah kejadian di atas. Saya masih di kantor dan masih bekerja. Kawan Rohmat melihat saya tidak dalam kondisi baik. Ia menawarkan diri mengantar saya berobat. Kalau tidak salah waktu itu sudah petang. Saya tak bertanya mau dibawa berobat ke mana. Yang jelas saya mengikuti niat baiknya. Saya agak lupa perjalan menuju klinik 24 jam menggunakan apa.  Yang saya ingat, dari pertigaan STEKPI, kami berdua naik ojek, menuju klinik yang berada di daerah Pengadegan. Kelak ketika saya berkantor di Jalan Pengadegan Barat, klinik 24 jam itu rupanya dekat dengan kantor. Sekali lagi saya sembuh dari sakit, dengan memilih jalan, mengubah takdir, melalui perantara kebaikan sahabat Rohmat Haryadi. Thanks yo Rohmat&#8230;</p>
<p>Namun ada kalanya orang sudah berdoa, sebelum memilih jalan keluar, ternyata hasilnya buruk? Jangan keburu bilang sudah takdirnya, tak bisa diubah, doa saya tak diijabahi, tak didengar Tuhan. Ingat, kita tak boleh berputus asa dari rahmat Allah, lantaran salah memilih jalan keluar atau tak bisa &#8220;mengubah takdir&#8221; .</p>
<p>قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ</p>
<p>“Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS Az-Zumar 53-54)</p>
<p>Saya teringat dengan ucapan sobat lama saya Joko Syahban: doa itu akan mudah dikabulkan Allah jika kita dikenal Allah dengan baik. Berdoa ibarat orang yang meminta tolong seseorang, dengan mendatangi rumahnya. Berharap dibukakan pintu, dan diberi pertolongan. Jika sang tuan rumah tak mengenal tamunya, apakah ia mau mengindahkan bel yang berbunyi, membukakan pintu, menyilakan duduk, dan memberinya pertolongan? Bisa jadi tidak dibukakan pintu sama sekali. Kalau pun sudah bertatap muka, bisa jadi tak dipersilakan masuk, hanya ditanya keperluanya apa. Hasilnya? Karena kita tak dikenal tuan rumah, bisa jadi tak diberi apa-apa, atau mungkin  hanya dijanjikan akan dibantu, tapi tidak saat itu.</p>
<p>Tamsil yang indah. Ketika kita sudah dikenal baik oleh seseorang, saat ia meminta bantuan tak perlu harus menyambangi rumahnya. Ia cukup menelepon, atau bahkan cukup mengirim sms. Orang diseberang akan mengindahkan permintaan bantuan itu, karena sudah mengenal baik. Sudahkah kita merasa dikenal Allah dengan baik? Semoga kita bisa mengindahkan adab berdoa, serta mengiringi doa dengan amalan yang baik. Logikanya, meski kita sudah melalui adab meminta tolong dengan baik, tapi jika kita tak pernah berbuat baik di mata &#8220;yang dimintai pertolongan&#8221;, rasanya 50-50 permintaan pertolongan akan dikabulkan. Mungkin malah peluangnya kurang dari 50%. Sudahkah kita menjaga amalan kita dengan baik?</p>
<p>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>
<p>“Dan Tuhanmu berfirman, &#8220;Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.&#8221; (QS Al-Mu’min 60).</p>
<p>Ayat ini tegas menyatakan bahwa doa hamba Allah akan diijabahi, kecuali orang sombong yang tak mau taat pada Allah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena orang yang tak pernah berdoa merupakan kesombongan, yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah ta’aala yang pedih. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ</p>
<p>“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah ta’aala, maka Allah ta’aala murka kepadaNya.” (HR Ahmad 9342)</p>
<p>Semoga kita bukan termasuk dalam golongan orang yang dimurkai Allah, lantaran dicap sombong tak pernah berdoa. Ada doa bagus yang bisa menjadi amalan kita.<br />
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ</p>
<p>“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku, yang ia adalah benteng segala urusanku. Perbaikilah urusan duniaku yg padanya terdapat penghidupanku dan perbaikilah urusan akheratku yg kepadanya tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagiku dan jadikanlah mati sebagai titik henti untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897) .</p>
<p>Amiin. Allahuma ammin..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/1274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/1274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=1274&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2012/01/26/mencari-jalan-keluar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzikrina</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/dzikrina/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/dzikrina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 23:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2012]]></category>
		<category><![CDATA[PERCIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[asya]]></category>
		<category><![CDATA[dzikrina]]></category>
		<category><![CDATA[dzikrina qonita fillah]]></category>
		<category><![CDATA[erin]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[syadzarasyida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[Lama sekali saya ingin menulis buku kecil tentang sejarah anak saya, tapi tertunda-tunda &#8230; Saya teringatkan kembali ketika bertemu dengan Faiz Ahsoul, sosok spesial di mata saya, sekitar pertengahan Juli 2011. Faiz orang biasa yang suka membaca dan menulis, meski tak setenar penulis2 ngetop yang ingar bingar mewarnai jagat  buku seperti Andrea Hirata atau Habiburrahman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=1265&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama sekali saya ingin menulis buku kecil tentang sejarah anak saya, tapi tertunda-tunda &#8230; Saya teringatkan kembali ketika bertemu dengan Faiz Ahsoul, sosok spesial di mata saya, sekitar pertengahan Juli 2011. Faiz orang biasa yang suka membaca dan menulis, meski tak setenar penulis2 ngetop yang ingar bingar mewarnai jagat  buku seperti Andrea Hirata atau Habiburrahman El Shirazy. Tapi Faiz telah menelorkan ide besar dengan mendorong lahirnya Babersku alias Belajar Bersama Menulis Sejarah Kampung. Warga  Kampung Patehan, Yogyakarta, pun sukses menulis buku sejarah kampung yang dijuduli <em>Ngeteh di Patehan</em> (2011).</p>
<p>Bagi saya gagasan Faiz itu luar biasa. Mungkin orang lain banyak yang menulis sejarah sejumlah tempat. Namun yang menularkan kemampuan menulis itu kepada orang-orang kampung, agar bisa menulis sejarah kampung mereka, ya hanya Faiz. Buah kerja Faiz setidaknya sudah diakui dengan penghargaan sebagai Juara I Lomba Karya Nyata Pengelola Taman Bacaan Masyarakat pada Jambore 1000 PTK PAUDNI 2011 lalu. Jambore 1000 PTK PAUDNI adalah ajang kompetesi bagi pendidik dan tenaga kependidikan jalur Pendidikan Aanak Usia Dini (PAUD), nonformal dan informal. Babersku turut mengantarkan Faiz menjadi yang terbaik. <span id="more-1265"></span></p>
<p>Kembali ke buku kecil tentang anak saya. Mengapa penting, karena segela hal tentang anak, terutama sejak kecil, tak banyak diketahui si anak, kecuali dari cerita org lain. Mestinya yang punya banyak kisah sang anak adalah orangtua, ayah-ibunya. Misalnya soal nama bagi saya nama adalah doa, pembeda, tanda, karakter, juga kebanggaan. Saya sendiri sejak dulu bangga punya nama Dipo Handoko. Saya masih ingat, bapak saya Soenaryo sering bercerita, meski singkat, tentang nama saya, juga nama-nama kakak-kakak saya dan adik-adik saya. Cerita bapak saya itu masih melekat di memori saya. Saya pun hapal tanggal lahir lima saudara kandung saya, begitu juga kelahiran bapak dan ibu saya.</p>
<p>Entah berapa kali bapak saya bercerita, bahwa nama Dipo itu artinya benteng. Tentu saya tak sependapat dengan Sindhunata yang menulis dalam <em>Manusia dan Pengharapan Segelas Beras untuk Berdua</em> (2006), bahwa dipo itu <em>edi tapi ora ana apa-apane (i</em>ndah tapi tidak ada apa-apanya). Saya rasa itu hanya jarwo dhosok yang dicocokkan dengan pemikiran pribadi Pak Sindhunata ketika bercerita tentang sejarah Indonesia, yang dipilahnya menurut tiga zaman, yakni era Dipo, Londo, Karno.</p>
<p>Namun saya sepakat dengan Sujiwo Tejo dalam tulisannya <em>Wayang Durangpo Episode 79: Ketika Para Bule Kenal Indrajit</em> (2011). Kata Presiden Jancuk ini, dipo artinya penerang. Ini klop dengan buku <em>Kaweruh Jowo Dipo</em> (1997). Dipo maknanya padhang gilang gemilang, sinar dari Tuhan yang memberi hidup. Sedangkan yang bermakna benteng, bisa dilihat dengan adanya nama Jamur Dipo, atau jamur benteng. Bagaimana dengan &#8220;dipo lokomotif&#8221; ..hehe.. Saya belum pernah menanyakan hal itu ke orang Kereta Api Indonesia (KAI), mengapa memakai istilah dipo. Jika yang dimaksud adalah tempat untuk menyimpan lokomotif mestinya yang dipakai adalah istilah depot, seperti yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).</p>
<p>Nama anak2 saya pun punya kisah sendiri. Bukan sekadar nama yang kedengaran indah di telinga. Si sulung Dzikrina Qonita Fillah Difalaily. Setiap mengucap namanya saja saya selalu senang, bahagia, bangga. Sebagian nama ini muncul justru jauh sebelum kelahirannya, bahkan saya masih sendiri. Mungkin di masa kuliah, 1990-an awal, saya sudah menginginkan nama anak saya kelak adalah Dzikrina. Belum ada embel-embel di belakangnya. Dzikrina diambil dari kata dzikr, atau zikir, yang bermakna: 1)  puji-pujian kpd Allah yg diucapkan berulang-ulang; <strong>2)</strong> doa atau puji-pujian berlagu (dilakukan pd perayaan Maulid Nabi); <strong>3)</strong> perbuatan mengucapkan zikir (KBBI). Itulah doa saya sejak Dzikrina belum ada sama sekali.</p>
<p>Ketika kakak saya Ratri Candrasari (45 tahun), dosen Universitas Negeri Malikussaleh, Lhokseumawe, menikah lebih dulu dari saya, kemudian mengandung. Ia senang dengan nama Dzikrina, dan akan dipakai jika anaknya perempuan. Saya pun merelakannya. Karena toh saya masih bisa memakai Dzikrina, dengan tambahan nama di belakangnya yang berbeda dengan Dzikrina yang akan dipakai mbak saya. Ternyata anak mbak saya laki-laki. Hingga tiga anaknya, ternyata semuanya laki-laki. Saya berpikir, nama Dzikrina memang berjodoh dengan anak saya.</p>
<p>Ringkasnya, Dzikrina pun lahir dengan tambahan nama Qonita Fillah Difalaily. Qonita bermakna taat. Fillah artinya di jalan Allah. Difalaily adalah gabungan beberapa kata, yakni Dipo, Farida (mamanya), dan laily (malam). Doa saya buat anak saya adalah kelak menjadi orang yang selalu berzikir kepada Allah, mengingat dan berdoa untuk orangtuanya, selalu taat di jalan Allah, yakni dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, dengan menjadi muslimah yang istiqomah&#8230;.</p>
<p>Banyak yang berkomentar nama itu sangat berat, sulit diucapkan, bahkan saudara dari mamahnya ada yang memplesetkan panggilannya menjadi dzikirno..  Saya hanya beristigfar, seraya mengucapkan dalam hati bahwa Dzikrina kelak akan menjadi wanita hebat melebihi kamu.. InsyaAllah. Panggilan Dzikrina adalah Erin, dan sungguh itu panggilan indah di telinga saya. Di akherat pun, setiap orang akan dipanggil dengan namanya.</p>
<p>Saya sudah menulis sejarah Dzikrina (Erin) maupun adiknya Syadzarasyida  Qonita Fillah (Asya). Erin Asya memang belum pernah membacanya. Saya memang sudah sering bercerita kepada Erin di masa kecilnya, apa arti namanya. Biarlah tulisan panjang tentang sejarahnya baru dibaca saat ia sudah dewasa.</p>
<p>Insyaallah bersambung&#8230;</p>
<p><span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;"><span style="font-size:11px;line-height:normal;"><br />
</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/1265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=1265&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/dzikrina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/mendekatkan-yang-jauh-menjauhkan-yang-dekat-2/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/mendekatkan-yang-jauh-menjauhkan-yang-dekat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 22:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[asya]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[dzikrina qonita fillah]]></category>
		<category><![CDATA[erin]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[mendekatkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjauhkan]]></category>
		<category><![CDATA[sadzarasyida qonita fillah]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=877</guid>
		<description><![CDATA[Rutinitas perjalanan CGK-JOG PP masih saya jalani saban 2 minggu sekali. Dan selalu ada pemandangan yang membuat saya sebal sejak mula saya melihatnya. Yakni kebiasaan orang menyalakan ponsel saat sudah di dalam pesawat, baik sebelum berangkat maupun ketika pesawat mendarat. Dialog yang sering saya dengar adalah: saya sudah di dalam pesawat ini, bla bla bla.. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=877&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rutinitas perjalanan CGK-JOG PP masih saya jalani saban 2 minggu sekali. Dan selalu ada pemandangan yang membuat saya sebal sejak mula saya melihatnya. Yakni kebiasaan orang menyalakan ponsel saat sudah di dalam pesawat, baik sebelum berangkat maupun ketika pesawat mendarat. Dialog yang sering saya dengar adalah: saya sudah di dalam pesawat ini, bla bla bla.. Atau saya baru mendarat masih di dalam pesawat, bla bla bla&#8230; Padahal tanpa pemberitahuan itu, orang di seberang sudah tahu bahwa ia sedang terbang bukan naik bus atau kereta. Tak perlu harus ditegaskan saya sudah atau masih di pesawat&#8230;</p>
<p>Pemandangan lain yang menyebalkan adalah kebiasaan asyik berceloteh di twitter, ngobrol di Facebook, atau BBM ketika sudah di dalam pesawat. Sebelum ditegur pramugari, ponsel masih on.. Begitu juga saat pesawat landing, bisa dihitung dalam beberapa detik, akan berlomba-lomba mengaktifkan ponsel mereka. Mereka langsung tenggelam dalam keasyikan dengan lawan bicara di dunia maya, entah siapa, entah di mana. <span id="more-877"></span></p>
<p>Padahal dalam hemat saya, apa sih yang diobrolkan mereka menjelang dan setelah pesawat <em>landing</em>. Sebegitu pentingkah? Saya biasa mengirim sms kepada istri saya, persis menjelang boarding. Artinya masih dalam antrian menuju pesawat. SMS saya pun hampir selalu sama, Bismillahi majriiha wa mursaha inna rabbi laghafururrahiima.. Ayah boarding, I love u so much&#8230;. Ketika mendarat, ponsel saya aktif dalam perjalanan setelah turun peswat menuju gedung terminal. Dan selalu berkirim sms kepada istri: alhamdulillah ayah sudah mendarat. Tak ada hal penting bagi saya untuk mengabarkan kepada khalayak teman2 di FB, bahwa saya sedang terbang atau sudah mendarat.</p>
<p>Sepanjang yang saya amati, penumpang bersama pasangan, atau teman seperjalanan masing-masing asyik dengan ponselnya ketika menunggu peswat boarding. Ketika saya bertemu kawan lama, suatu ketika, obrolan hangat itu selalu terputus oleh pesan yang masuk di ponsel teman saya itu. Sang teman pun dengan santainya mengobrol dengan teman di seberang, dan menganggap saya seolah tak ada. Obrolan baru berlanjut kala ia selesai menulis pesan. Mungkin jika saya ikutan nimbrung menulis pesan melalui internet, sang kawan baru mengacuhkan saya.</p>
<p>Jejaring sosial yang digandrungi banyak orang, dari remaja hingga kaum sepuh, harus diakui mampu mendekatkan orang2 yang berada jauh dari jangkauan. Apakah itu teman, saudara, kolega, lebih utama istri atau suami yang diharuskan berjauhkan kota domisili. Sayangnya, banyak orang cenderungan berubah perilakunya dengan orang-orang di dekatnya, yang jelas ada di dunia nyata. Obrolan semakin berkurang dengan istri/suami, teman sekantor, teman perjalanan pulang, dan teman main. Ia justru lebih nyaman dan menikmati ngobrol dengan teman jauh.</p>
<p>Kini dianggap biasa ketika seorang ayah tak mengetahui apa saja kegiatan anaknya, sementara teman sang anak di dunia antah berantah pun tahu. Anak lebih suka curhat dengan teman, bahkan orang yang baru dikenal sekalipun daripada kepada ayah-ibunya. Begitu juga pasangan suami-istri merasa lebih nyaman berbincang dengan teman masing2, bahkan curhat masalah rumah tangga. Ketika seorang ayah memberi batasan2 kepada anak dalam bergaul di dunia maya, banyak anak protes, bahkan ada yang marah. Anak beranggapan bahwa akun media jejaring sosial adalah hal pribadi yang tak boleh diatur2, bahkan ayah-ibunya.</p>
<p>Pernah saya membaca status FB seorang anak, yang mengumpat ayahnya dengan makian yang sungguh2 tak patut. Mungkin karena ayahnya tak memiliki akun FB sehingga si anak berani berbicara sesuka hati. Ada pula yang sampai menulis aku benci bapakku. Semoga saja itu hanya lontaran emosi sesaat, karena si anak &#8220;jauh&#8221; dari kasih sayang ayahnya. Tuntunan Islam jelas melarang anak membenci bapaknya. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: <em>Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir</em>. [HR Muslim].</p>
<p>Ungkapan mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat pun pas untuk memerikan dampak media jejaring sosial. Bahkan bukan semata menjauhkan dalam wujud wadag, namun menjauhkan pada hakikat. Keberadaan orang-orang dekat, dari ayah ibu, saudara, kerabat, hanya tinggal nama yang mereka yang dimasukkkan ke dalam &#8220;daftar keluarga&#8221; dalam akun FB. Ayat Quran berikut sudah amat dikenal sebagai pengingat kita untuk selalu berbuat baik kepada orangtua. <em>“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”</em> (QS. Al Isrâ’ [17]: 23).</p>
<p>Semoga saya bisa selalu berbuat sebaik-baiknya kepada bapak dan ibu saya yang sudah sepuh, merawat bapak ibu di masa tuanya. Saya pun hanya bisa berdoa dan berharap kepada anak-anak saya, Dzikrina Qonita Fillah (Erin) dan Sadzarasyida Qonita Fillah (Asya), kelak hingga masa dewasanya, tetap berbuat baik kepada saya, syukur-syukur mau merawat saya dan menemani saat-saat akhir saya. Jika boleh memilih, saat kematian saya kelak, yang paling saya harapkan kebaradaannya hanyalah anak-anak saya Erin Asya, tak ada yang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/877/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=877&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/mendekatkan-yang-jauh-menjauhkan-yang-dekat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Jalan Keluar</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/mencari-jalan-keluar/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/mencari-jalan-keluar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 08:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2012]]></category>
		<category><![CDATA[asya]]></category>
		<category><![CDATA[dzikrina qonita fillah]]></category>
		<category><![CDATA[erin]]></category>
		<category><![CDATA[ezien]]></category>
		<category><![CDATA[jalan keluar]]></category>
		<category><![CDATA[syadzarasyida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS .Al-Furqan ayat 2). Nukilan ayat Allah itu merupakan satu di antara banyak ayat yang mengangkat tentang qadha (ketetapan Allah) dan qadhar (kepastian terjadinya ketetapan Allah).. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=873&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya</em><em>. </em>(QS .Al-Furqan ayat 2).</p>
<p>Nukilan ayat Allah itu merupakan satu di antara banyak ayat yang mengangkat tentang qadha (ketetapan Allah) dan qadhar (kepastian terjadinya ketetapan Allah).. Entah sejak kapan, saya memandang qadha dan qadar jika diwujudkan dalam visual ibarat permainan mencari jalan keluar, yang sejak usia Taman Kanak-Kanak (TK) sudah saya kenal. Dari yang sederhana, dengan alternatif jalan bercabang yang sedikit, target yang dituju juga dekat, hingga yang rumit, sehingga memerlukan coba-coba memilih jalan ini atau itu, sampai akhirnya ketemu jalan keluarnya. <span id="more-873"></span></p>
<p>Saya senang mainan ini, karena merangsang imajinasi saya menemukan jalan menuju target. Tanpa harus mencoret jalan yang akan ditempuh di gambar. Hanya otak yang membayangkan jalan mana saja yg bisa dilalui menuju pintu keluar. Kadang dengan sekali dua kali berimajinasi, jalan keluar didapat. Namun pada permainan yg rumit, dgn cabang2 jalan yg banyak, tak mudah sekadar membayangkan jalan yg dilalui tanpa hrs menandainya. Di era teknologi skrg, varian games ini semakin banyak. Permainan ini masuk kategori strategy games. Misalnya menyambung pipa beragam bentuk, untuk mengalirkan cairan menuju target. Ada juga yang menyusun jalan rel dengan beragam cabang agar bisa dilalui dua rangkaian kereta api.</p>
<p>Kehidupan ini tak ubahnya permainan mencari jalan keluar. Bahkan dalam sekuel kecil kehidupan, yakni kejadian sehari-hari. Dari pagi, saat azan subuh memanggil2. Selalu ada pilihan jalan keluar bagi kita. Bisa membuka mata, kemudian terpejam lagi. Bisa membuka mata, kemudian duduk karena masih mengantuk, terrnyata terlelap lagi dalam tidur. Namun bagi yang punya ketetapan hati, panggilan azan akan diikuti dengan berwudlu, kemudian menegakkan subuh. Menegakkan subuh memang berat, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadist : &#8220;Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, &#8220;Malam masih panjang, tidurlah!&#8221;. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.&#8221; (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)</p>
<p>Perjalanan menuju kantor atau sekolah juga tak lepas dari permainan memilih jalan keluar. Ada banyak jalan yg bisa dilalui menuju kantor..kecuali letak kantor dan rumah cuma dalam satu jalur jalan yang dekat, sehingga tak perlu memilih jalan lain. Masing2 pilihan mengandung risiko: jalan yg dipilih macet, ada kecelakaan, ditilang polisi, atau sebaliknya mulus2 saja. Meski pilihan jalan sama, kejadian setiap hari tidak selalu sama, bahkan sejatinya selalu berbeda, meski kelihatannya sama saja.</p>
<p>Peristiwa menggemparkan, &#8220;Xenia maut&#8221; yang menewaskan 9 orang, itupun adalah pilihan hidup, baik sopir maupun korban. (Anehnya, banyak media menulis &#8220;tabrakan&#8221; padahal jelas bukan saling menabrak, melainkan xenia yang menabrak pejalan kaki). Si sopir punya pilihan sebelum ia mengendarai mobil, begitu juga pilihan jalan yang akan dia tempuh. Kepada korbannya, mereka semua juga punya pilihan untuk berada di mana saat xenia berkecepatan tinggi lepas kendali di jalan. Namun selalu ada misteri qadha dan qadar yang sepenuhnya harus kita imani, tanpa harus mempertanyakan. Mengapa mereka yang menjadi korban, mengapa  ada ibu hamil, ada anak kecil, ada remaja yg msh punya masa depan panjang. Tak ada yang mau memilih berada di sekitar halte Kemendag pada jam kecelakaan itu, jika tahu ada bahaya yang bakal merenggut nyawanya. Berbeda halnya dgn si sopir. Ia mestinya bisa memilih jalan yg risiko menabrak dihindari. Jika menenggak miras, ekstasi, efeknya bisa mencabut kesadarannya, sehingga tak mampu membuat jalan pilihan terbaik. Apa lacur, kesadarannya sudah hilang karena aktivitas harian yang dipilihnya memang menebar risiko bahaya bagi diri dan orang lain.</p>
<p>Permainan mencari jalan keluar dlm kehidupan ini memang sangat sangat rumit. Tak sekadar pilihan mau mandi pakai sabun apa, atau makan menu apa. Pilihan sulit itu menjadi semakin sulit ketika kita tak bisa membayangkan, jalan yg kita pilih itu ujungnya di mana. Anak-anak sepertinya tak memilih, ketika ia &#8220;diharuskan&#8221; ortunya bersekolah di kampung halamannya, atau berpindah ke kota tetangga dengan alasan sekolah itu RSBI atau &#8220;bermasa depan cerah&#8221;. Begitu saya, ketika TK dan SD disekolahkan orangtua di TK Dharmayusiwi IV Magelang dan SD Kristen 2 Magelang, meski saya muslim. Namun saya menjalani sekolah di situ bukan lagi pilihan ortu. Saya bebas menentukan jalan saya. Saya memilih menjadi yg terbaik, selalu juara hingga tamat. Dengan nilai bagus, kemampuan bagus untuk melewati ujian masuk SMP, saya bisa memilih sendiri melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Magelang. Dan seterusnya, di jenjang lebih tinggi, saya bertanggung jawab terhadp pilihan saya sendiri.</p>
<p>Selalu ada saatnya, kita tak tahu pilihan jalan mana yang terbaik. Saat menentukan pilihan UGM untuk tujuan kuliah, tak ada kebimbangan, karena sejak kecil memang itu cita-cita saya. Tapi jurusan apa? Teknik Sipil sebenarnya bukan pilihan saya 100%, sebab itu pilihan bapak saya. Saya sendiri bimbang saat itu. Namun isia dalam lembar UMPTN adalah Teknik Sipil dan MIPA Fisika. Saya sebenarnya lolos seleksi D-3 Fakultas Nongelar Teknologi UGM, sebagai cadangan jika UMPTN gagal. Anehnya saya memilih D-3 Teknik Mesin. Saya sebenarnya juga ingin kuliah di ISI Yogyakarta. Namun entahlah, saya tak berani mewujudkannya karena takut  pilihan itu akan membuat bapak saya murka..</p>
<p>Jalan hidup saya sebagai penulis, hingga saat ini, sebenarnya bukan jalan pilihan yang terang benderang muncul dan dijalani sejak remaja, seperti halnya para penulis ngetop. Namun jalan menuju ke sana mulai tampak ketika saya amat senang bergabung dengan Clapeyron, Majalah Kampus Teknik Sipil UGM. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus Pogung, yang sekarang jadi Gedung Pascasarjana UGM, bawah sadar saya sudah menetapkan pilihan, saya harus masuk di Clapeyron. Tapi anehnya, saya memilih bagian artistik, layout dan produksi. Bahkan ketika ada Diklat Jurnalistik Tingkat lanjut I yang diadakan Balairung, saya ikut kelas Artistik. Pembimbingnya adalah Ponang Praptadi (SCTV). Masih ingat waktu itu saya bergaul dengan orang2 artistik seperti Raharjo Waluyo Jati (Filsafat UGM) dan Kuss Indarto (ISI).</p>
<p>Toh, akhirnya pilihan saya aktif di Clapeyron itu menjadi pembuka jalan saya masuk Majalah Gatra. Ketika krisis ekonomi merebak akhir 1997, saya yang tadinya bekerja di kontraktor bangunan, kena imbasnya. Proyek mandeg. Mencari pekerjaan baru di Jakarta, sama saja: semua proyek akhirnya berhenti. Di penghujung 1997 itulah ada lowongan reporter Gatra Biro Yogya. Alhamdulillah, pilihan jalan saya sampai juga ke pintu keluar dari krisis. Masih ingat betul berapa gaji saya di Gatra sejak masa calon reporter: Rp 575.000. Lepas dari masa percobaan tiga bulan, gaji naik menjadi Rp 675.000. Saat itulah saya memilih jalan untuk menikah. padahal, masa saya harus menjalani 6 bulan masa calon reporter, sebelum diangkat sebagai reporter. Artinya, saya memilih menikah, meski pintu keluar pada 6 bulan ke depan belum tahu. Selama beberapa bulan bersama istri, saya indekos dengan kamar sempit ukuran 3&#215;3 meter persegi. Setelah bisa mengontrak rumah kecil, satu persatu perabotan dipenuhi. Dari meja kursi di ruang tamu seharga Rp 500.000, springbed murah juga Rp 500.000, meja-kursi makan, kompor gas, dll. Secara matematika tak mencukupi. Tapi pilihan jalan untuk bisa menambah pendapatan selalu dibukakan Allah dalam pikiran saya.</p>
<p>Pilihan hidup semakin sulit ketika saya dimutasi ke Gatra Jakarta, Februari 2000. Kemudian saya memilih keluar dari Gatra tahun 2003. Pilihan kembali lagi ke Jakarta tahun 2004. Di awal saya dimutasi ke Jakarta, saya harus berpisah dengan istri dan anak sulung saya Dzikrina Qonita Fillah (Erin), yang baru genap setahun pada 24 Juni 2000. Ketika kembali lagi ke Jakarta, saya juga harus berpisah dengan anak kedua saya Syadzarasyida Qonita Fillah (Asya) yang lahir 22 Februari 2007. Erin Asya dibesarkan boleh dibilang harus memilih jalannya, jarang bertemu bapaknya. Kala di Gatra, saya hanya bisa pulang sebulan sekali, kadang lebih dari sebulan. Setelah keluar dari Gatra, saya bisa agak sering pulang, dua-tiga minggu sekali.</p>
<p>Meski jauh dari Erin Asya, saya masih punya pilihan untuk tetap dekat. Yakni dengan mendoakan setiap bakda salat, membacakan Quran, menulis diari, atau membelikan hadiah. Saya masih selalu berharap bisa menetap di Magelang, merawat orangtua yang sudah sepuh dan selalu bersama Erin Asya. Itu pilihan yang selalu memenuhi benak saya setiap saat. Meski, kerinduan kepada bidadari saya, ErinAsya, dirasakan setiap detik, setiap tarikan nafas. Permainan mencari jalan keluar di level yang tinggi memang tak mudah dipecahkan&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/873/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=873&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2012/01/24/mencari-jalan-keluar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedari Dulu</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2010/07/10/sedari-dulu-2/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2010/07/10/sedari-dulu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 07:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[SKETSA 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=862&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://spesies.wordpress.com/2010/07/10/sedari-dulu-2/"><img src="http://img.youtube.com/vi/fVEemZoOVRI/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/862/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/862/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=862&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2010/07/10/sedari-dulu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/fVEemZoOVRI/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sedari Dulu</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 10:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[MUSIK]]></category>
		<category><![CDATA[sedari dulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=854&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/"><img src="http://img.youtube.com/vi/TD0PAFUdMN8/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=854&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/TD0PAFUdMN8/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Celathu Sang Presiden</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/12/26/celathu-sang-presiden/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/12/26/celathu-sang-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 04:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2008]]></category>
		<category><![CDATA[BUKU]]></category>
		<category><![CDATA[butet]]></category>
		<category><![CDATA[kartaredjasa]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Presiden Guyonan Penulis: Butet Kartaredjasa Penerbit: Kitab Sarimin Yogyakarta, cetakan I November 2008 Tebal: xiv + 285 halaman Butet Kartaredjasa menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. Mas Celathu namanya. Penampilannya bersahaja: baju berbahan katun dengan model “itu-itu saja.” Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=849&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Judul: Presiden Guyonan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Penulis: Butet Kartaredjasa</span></p>
<p class="MsoNormal">Penerbit: Kitab Sarimin Yogyakarta, cetakan I November 2008</p>
<p class="MsoNormal">Tebal: xiv + 285 halaman</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Butet Kartaredjasa menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. </em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mas Celathu namanya. Penampilannya bersahaja: baju berbahan katun dengan model “itu-itu saja.” Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa leluasa menyapa bulu keteknya. Matanya dilapis kaca ukuran minus setebal wingko babat, dengan model telor sebulat-bulatnya telor ceplok. Dan lihatlah kakinya! Sepatu sandal bikinan Yogya dari kulit sapi lokal selalu membungkus kaki, dan mengingatkan kita kepada biarawan dan guru-guru Taman Siswa. Dalam penampilan seperti itu, semestinya dia lebih pantas berpredikat rohaniawan atau guru. Setidaknya tutur katanya akan familiar dengan adat kesopanan yang terkadang lamis dan canggih<span> </span>menyajikan kepalsuan. Tapi ternyata tidak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Begitu kita melihat wajahnya yang berbibir seperti iwak empal alias rada tebal, dan tabiatnya yang rajin menyambar omongan orang sesuka dan sekena-kenanya –untuk tidak disebut <em>waton njeplak</em>&#8211; maka gugurlah semua imajinasi yang stereotipe itu. Saya malah semakin mempercayai pemeo yang menyebutkan bahwa “nama membawa tuah” Sesuai namanya, Mas Celathu memang suka melontarkan celathu. Jika diindonesiakan celathu berarti “berujar” atau “menyergah”. Peristiwa apapun dikomentari. <span> <span id="more-849"></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Itulah salam pembukaan Butet Kartaredjasa mengenalkan tokoh Mas Celathu yang menjadi wahana baginya menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. <span lang="SV">Tokoh sentral inilah yang menjadi aktor utama tulisan dalam buku <em>Presiden Guyonan</em>. Buku setebal 285 halaman ini merupakan kumpulan kolom karya Butet, yang lebih dikenal sebagai aktor teater, selain sebagai penulis esai. Tulisan Butet ini pernah dimuat secara rutin, sepekan sekali, di koran Suara Merdeka, Semarang, dalam kurun September 2007-September 2008.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">PAHLAWAN TONGSENG</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FI">Celathu</span></em><span lang="FI"> Butet itu bisa melompat dari persoalan satu ke persoalan lain. Misalnya setelah berbicara soal hakiki dari kemerdekaan di tulisan paling awal, Butet menyoroti soal kekerasan, yang ketika itu ada peristiwa penganiayaan sejumlah mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di halaman 7. Terus <em>ngoceh</em> soal pahlawan (<em>Pahlawan Tongseng,</em> halaman 51). </span><span lang="SV">Pada peringatan Hari Pahlawan, Mas Celathu masih bingung mengartikan pahlawan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Rupanya pahlawan itu harus tega membunuh sesamanya ya?” Mas Celathu menggugat, meski dalam hati. Yang ada dalam pikirannya, mereka yang jadi pahlawan adalah yang berbaring di pusara Taman Makam Pahlawan. Di uar itu bukan pahlawan. Artinya, hanya mereka yang pernah angkat senjata dan mungkin pernah secara heorik membunuh pahlawan, yang bisa dipredikati pahlawan. <span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Mas Celathu berharap ada koreksi mengenai tafsir sosok pahlawan. Sebab bisa jadi mereka yang bermimpi jadi pahlawan akan selalu merindukan datangnya perang. Padahal, Mas Celathu sendiri mafhum menyelesaikan persoalan dengan menyelenggarakan peperangan sudah jadi mode yang kedaluwarsa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Jika nilai kepahlawanan boleh dimaknai sebagai ikhtiar memuliakan kehidupan dengan kesediaan diri menjadi tumbalnya, maka siapa saja kelak boleh mendapatkan kapling di pusaranya para pahlawan. Bukan hanya pembunuh yang terampil menggunakan bedil,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saat ada bencana banjir, kritik Butet disampaikan melalui Mas Celathu yang akan membuka usaha baru” jualan kasur (Halaman 97). <span> </span>Bencana banjir, dalam logikanya, adalah sawab subur yang bisa diolah sebagai peluang untuk memanen keuntungan. Butet menyisipkan sosok Mbakyu Celathu, istri Mas Celathu, yang bisa mengingatkan dari perilaku tak etis. ”Mosok cari untung kok di tengah orang yang lagi susah,” sergah Mbakyu Celathu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jelas sekali ini sentilan Butet pada kalangan yang ”memproyekkan” bencana dan penderitaan khalayak, mengeksploitir musibah untuk dijadikan berkah. Dia berharap ada sosok ”istri bernyali” yang bisa mengingatkan suami-suami yang pejabat publik, agar tidak mem-proyek-kan bencana dan penderitaan rakyatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">PERSOALAN SEKUKU</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Celoteh Mas Celathu juga terasa mengena saat ia menggelitik para pejabat publik, anggota lembaga legislatif dan para politisi. Amsalnya soal Mas Celathu yang sedang bengkak jempol kakinya, gara-gara tidak merawat dengan baik si kuku jempol. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saban saat Mas Celathu hanya bisa mengerang-erang karena sakit akibat infeksi di kuku jempol kainya, bisa merayap hingga ke otak. </span><span lang="FI">Suhu badannya meningi. Kepalanya <em>cekot-cekot</em>, sepertia da ratusan jari menjitaki. Biarpun hanya sepotong kuku, jika tak diurus dengan baik nyatanya bisa bikin kehidupan macet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Makanya, jangan hanya memikirkan perkara-perkara besar. Sok ngomong politik. Pilkada. Korupsi&#8230;,” terasa menohok sindiran Butet melalui mulut Mbakyu Celathu. Rasa sakit, juga sakitnya kehidupan masyarakat, acapkali memang tidak selalu disebabkan oleh hal-hal besar, begitu Butet menyimpulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">PRESIDEN SEMU</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Akan halnya judul buku ini <em>Presiden Guyonan</em>, nafasnya pernah menjadi salah satu tulisan berjudul <em>Presiden Semu</em>. Mas Celathu selalu membayangkan rumahnya tak ubahnya sebuah negara. Maka, dialah presidennya. <em>Lebai</em>, memang. Katanya, dengan menyangka dirinya adalah ”presiden”, setidaknya dia cukup puas dengan <em>ge-er</em> memiliki jabatan tinggi tersebut. Berhubung cuma fantasi, imajinasi Butet nggak tanggung-tanggung: presiden seumur hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebagai presiden seumur hidup, Mas Celathu hanya ingin konsisten berjuang memuliakan kehidupan keluarga dan lingkungannya. Apapun yang dilakukan adalah gerak menuju cita-cita itu: kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dia tidak ingin terganggu. Atau diganggu. ”Ini kan Republik Celathu, jadi sistem dan aturannya bisa dibuat sesuka kita,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tentu saja, nisbah Butet itu kritik pedas kepada para petinggi, pejabat, atau anggota Dewan yang menjadikan jabatannya ibarat presiden, sang pemimpin negeri. Bisa membuat aturan sesukanya untuk meraup kebahagiaan dan kesejahteraan lahir bathin.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">SENSE OF HUMOR </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Presiden Guyonan</span></em><span lang="SV"> menurut Todung Mulya Lubis adalah kritik terhadap budaya birokratik yang inhuman dan arogan. ”Membahas persoalan negara jelas harus sangat serius, tetapi pada sisi lain juga dengan suatu <em>sense of humor,</em>” katanya dalam komentar buku ini. Bangsa yang tidak mampu menertawakan dirinya akan menjadi negara yang gagal. ”Buku <em>Presiden Guyonan</em> ini mengajarkan kepada kita untuk tajam dan jenaka dalam mengelola negara.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Mohamad Sobary dalam pengantar buku ini menyebut Butet mampu mengolah hidup menjadi bahan ketawa. <em>Nggeguyu</em> alias menertawakan, menurut Sobary, adalah konsep campur aduk antara mengkritik, sekadar membuat lelucon, mengejek, atau mencemooh, sekaligus diam-diam balas dendam. Butet berada di pinggir kekuasaan. Dia dalam posisi menertawakan gerak-gerik para empunya kekuasaan.<span> </span>”Ini merupakan moralitas orang-orang yang bersikap resisten terhadap keangkuhan penguasa, atau siapa saja yang berlagak sok kuasa,” kata Sobary.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Di luar soal salah ketik ejaan, <em>Presiden Guyonan</em> enak dinikmati. Salah ketik sudah tampak sejak sampul buku disibak. Tertulis ”Kolom Celathu Suara Merdeka, September 2007-September 2009.” Tentu itu bukan sengaja sebagai guyonan Butet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Dimuat di Majalah INFO SOCIETA Edisi Kaleidoskop 2008<br />
</span></em>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=849&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/12/26/celathu-sang-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stop: Tiada Maaf</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/11/08/stop-tiada-maaf/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/11/08/stop-tiada-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 05:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2008]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[memaafkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[Kesibukan kerja yang luar biasa membuat waktu buat mengisi blog ini sementara waktu hilang. Tulisan lama bertahun 2002 masih ada sekitar 50-an file yang belum masuk dalam blog ini. Saya tergelitik menulis lagi soal &#8220;maaf-memaafkan&#8221; lantaran belum lama berselang, secara tak sengaja saya membuat kesalahan terhadap seorang teman lama, yang baru bersua via ponsel, setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=834&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/jago1.jpg"><img class="size-full wp-image-836 alignleft" title="jago1" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/jago1.jpg?w=450" alt="jago1"   /></a></p>
<p class="MsoNormal">Kesibukan kerja yang luar biasa membuat waktu buat mengisi blog ini sementara waktu hilang. Tulisan lama bertahun 2002 masih ada sekitar 50-an file yang belum masuk dalam blog ini. Saya tergelitik menulis lagi soal &#8220;maaf-memaafkan&#8221; lantaran belum lama berselang, secara tak sengaja saya membuat kesalahan terhadap seorang teman lama, yang baru bersua via ponsel, setelah 20 tahun tak pernah bersapa kabar sekali pun.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kebetulan teman itu memang dulu, saat SMA, termasuk salah satu figur publik..setidaknya lebih dikenal dibanding saya&#8230; Selain pandai, dia juga cantik, dari keluarga berada dengan status sosial yang terpandang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di masa 1980-an, dia sebagai anak seorang dokter, di mata saya ya anak orang kaya.. Mungkin di masa kecilnya tak pernah bersentuhan dengan <em>telek </em>ayam seperti saya. Masa remaja saya, sehari-hari, sudah biasa bergaul dengan ayam-ayam peliharaan. Bukan sekadar dipelihara tentunya, tapi telurnya, tentu saja sang ayam itu sendiri menjadi barang berharga buat menambah biaya sekolah. Maklum, saya hanya anak PNS golongan II.<span id="more-834"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Selain ayam, hari-hari saya dulu pernah berkawan dengan mentok, bebek, dan kambing. Hampir 100% saya yakin, teman saya yang anak dokter itu, kebetulan dia sekarang juga berprofesi dokter, tidak pernah berkawan dengan ayam, mentok, bebek dan kambing. Lho apa hubungannya memaafkan dengan ayam, mentok, dan hewan piaraan masa remaja saya itu? Secara langsung mungkin tidak ada. Saya hanya merasa berterima kasih kepada alam, yang melahirkan saya sehingga masa remaja saya berkawan dengan unggas dan ternak itu. Sebab dengan bergaul akrab dengan hewan, saya bisa merasakan bahwa hewan itu &#8220;tulus&#8221; dalam menerima dan memberi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ayam-ayam itu di antaranya diberi nama Petruk (si jagoan warna hitam), Gareng (jago merah yang disegani), Kreak (si hitam legam yang termasuk susah diatur), Blirik, Terang Bintang, Dewa Resi, Chili Willy, hingga Untung. Ayam itu tulus ketika menerima perhatian kita, saat mencampurkan dedak dengan air.  Apalagi saat mengelus Gareng, jagoan yang paling disegani.. Seolah ia bangga bisa lebih dekat dengan saya, dibanding jago lainnya. Ayam-ayam ini bersikap beda dengan ayah saya yang lebih temperamental saat itu.. Sehingga lebih susah diatur saat bersama ayah saya. Suara makian biasa saya dengar saat itu.. Entahlah, rasanya ayam-ayam itu meski tidak bisa bercakap layaknya manusia, bisa memahami makian. Sehingga ia menyikapinya dengan ulah &#8220;kurang ajar.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Begitu juga dengan bebek, mentok, dan kambing. Mereka bisa tulus menerima pemberian kita. yang susah payah mencarikan makan sehari-hari. Mereka juga paham saat setiap hari saya rela berbau-bau membersihkan kandangnya yang sudah pasti jorok, karena selalu dipenuhi tahi dan kencingnya, serta sisa-sisa santapannya. Memang, sesekali ada kambing yang sukanya menyeruduk saya ketika membelakanginya. Tapi saya merasa itu canda dia, atau entah kemarahan kepada ayah saya yang suka menghardiknya, lantas ditujukan ke saya. Saya hanya menanggapi serudukannya dengan senyum. Tak ada marah kepada ayam, bebek, mentok dan kambing saya itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Oiya ada satu lagi hewan akrab saya, yakni kucing.Sepanjang masa sekolah dulu, rasanya sudah banyak kucing beranak pinak untuk kali kesekian, atau kehadiran kucing spesies baru, saat kucing satu generasi saya sudah habis garis keturunannya. Nama-nama kucing saya, yg semoga berada di surga menemani Baginda Nabi Sulaiman, sang penyayang kucing, adalah Mia, yang beranak Mira (berwarna putih dan merah) dan Mita (berbulu putih dan hitam) &#8211;anak-anak Mia lainnya diberikan kepada tetangga dan kenalan. Dari Mira dan Mita juga banyak anak yang lahir, namun sejak kecil tidak dipelihara sendiri karena diminta tetangga dan kenalan.Lantas ada Mimi (yang galak, yang pernah makan <em>kuthuk </em>alias anak ayam tetangga. Mimi akhirnya meninggal jatuh dari pohon sirsak..)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kucing baru generasi Mimi, ada Ayu, Alpina Capri, Blorek, hingga yang berusia cukup sepuh, Mas Blegendong atawa yang biasa disapa Mas Bleg. Kucing dengan bulu putih, totol-totol hitam ini, boleh dibilang kucing paling setia di antara kucing-kucing sejak masa usia SD. Kucing ini menemani saya sejak kelas 2 SMP. Ketika pindah rumah saat SMP kelas 3, Mas Bleg juga ikut serta. Dia mudah menyesuaikan diri dengan keadaan rumah baru yang di kiri kanan, saat itu dikepung sawah, lapangan rumput dan kebun panili. Dulunya, saya dan dia tinggal di pinggir jalan protokol utama, yang memiliki tanah buat menanam pepohonan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/komputer_kucing.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-837" title="komputer_kucing" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/komputer_kucing.jpg?w=450" alt="komputer_kucing"   /></a>Mas Bleg meninggal entah di mana jasadnya. Seingat saya, ketika masa awal kuliah saya, dia masih sehat. Namun entah mengapa di jadi sering bepergian, yang agak jauh, sehingga menurut laporan Ibu, Mas Bleg kadang pergi beberapa hari tidak di rumah. Hingga suatu saat, dia pergi entah kemana. Saya menganggap dia sudah meninggal. Ada kesedihan, karena dia cukup lama menemani hari-hari saya..Dia biasa bercanda seolah mengunyah jari-jemari saya, saat tangan ini menggelitik perutnya. Meski jemari saya berada di antara gigi geliginya yang tajam..dia tidak pernah benar-benar mengunyah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagi saya Mas Bleg mengajarkan akan persahabatan tulus. Saya memang mencintai kucing. Sehingga dengan senang hati menyediakan makan setiap hari. Kadang ikan pindang yang dicampur nasi. Paling tidak nasi berteman rese, remah udang kecil-kecil. Baunya enggak enak. Saudara-saudara saya paling malas buat memberi makan Mas Bleg.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Persahabatan dengan kucing tetap terjalin saat saya sudah beranak dua, saat ini. Kucing turut meramaikan rumah kami, ketika anak pertama saya, Dzikrina Qonita Fillah waktu itu berusia 4 tahun. Sekarang dia kelas 4 SD. Namun, dalam beberapa tahun itu, kucing kami datang pergi. Yang agak awet adalah Spongebob dan Patrick. Keduanya sama-sama berbulu putih-hitam. Bedanya pada mulut Patrick ada totol hitam. Spongebob juga lebih putih bulu di wajahnya. Spongebob hilang sekitar 2 tahun lalu. Senarnya tidak benar-benar hilang, karana saya kadang melihat dia di rumah tetangga saya, yang berjarak 50-an meter. Patrick pun sejak setahun terakhir jarang pulang rumah. Saya sendiri memang tidak setiap hari berada di rumah. Ketika  saya berada di rumah, Patrick lebih sering pulang. Dia selalu menesulup di antara kaki saya, menggosok-gosokkan badanya di kaki saya..</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kembali lagi ke soal teman saya, yang mendadak berubah dalam hitungan jam.. Saat kali pertama saya telepon dia menyambut dengan <em>grapyak</em>. Bahkan dia berujar kalau tidak punya kontak dengan teman-teman SMA, satu pun. Sejak lulus kuliah. Tapi entah kenapa, sambutan hangat itu berubah drastis saat saya berbuat salah, yang menurut saya tidak terlalu prinsipil. Saya hanya membuatkan email baginya, dan mendaftarkannya langsung ke milis sekolah, yang kebetulan saya kelola. Dia marah karena saya dinilai mendahului dia. Saya meminta maaf sembari memberi alternatif solusi, email dia (yang saya buatkan itu) saya hapus dari member milis. Dia sepakat tapi, tidak ada pemberian maaf. Hanya ada pesan singkat: ya didelete saja. Mksh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">SMS permintaan maaf berkali-kali saya kirimkan. Panggilan telepon berkali-kali saya lakukan. Tak ada respons.Kemarahan dia bergeming. Meskipun boleh dibilang saya sudah memohon-mohon, Bukan sekadar meminta maaf. Berkali-kali.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jujur saya heran. Tidak bisa memahami sikapnya. Sepertinya, bagi dia, betapa mahal harga sebuah maaf. Saya mencoba memahami lagi, ketika membuka blog ini dan ada pesan dari kawan baik saya yang kurang lebih mengatakan: ada pergeseran, seolah memberi maaf itu tingkatannya lebih tinggi dari yang meminta maaf. Benarkah demikian. Kalau benar, artinya teman saya yang belum memberi maaf itu menempatkan dirinya lebih tinggi dari saya. Bagi saya tidak mengapa, karena toh saya memang sudah merendahkan diri saya untuk memohon kata maaf. Apakah saya kurang merendahkan sehingga posisi dia semakin tinggi di atas saya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->Sekadar mengutip di internet, tulisan Dr Isnawati, MA, dosen IAIN Imam Bonjol, tentang Perilaku Orang Bertakwa. Dia menukil Surah Ali Imran 133-136 sebagai kajiannya:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan (juga) orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal (Qs. Ali Imran 133-136).</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Telaahnya yang berhubungan dengan menahan marah dan memaafkan adalah:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Menahan marah</strong></p>
<p class="MsoNormal">Perilaku orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Orang yang mampu menahan marah, oleh Nabi SAW disebut sebagai orang yang kuat. Beliau bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud). Dalam hadits lain nabi juga bersabda: Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka di hari kiamat Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Memaafkan</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Memaafkan berarti menghapuskan. Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk memberikan dorongan kepada manusia agar mau memaafkan, Allah berulang kali memerintahkannya di dalam Al-Quran, antara lain dalam surat Al-Araf 199, Al-Hijr 85, dan Asy-Syura 43. Sementara itu Rasulullah SAW juga menjelaskan keuntungan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, di antaranya:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengampuninya saat ia kesukaran. Dan Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat </em>(Lengkapnya dapat dilihat dalam Muhammad Ahmad al-Hufy, Edisi Indonesia, hal. 272).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah kita, adalah seseorang yang sangat pemaaf. Aisyiyah r. a. berkata: Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW membalas karena beliau dianiaya selama hukum Allah tidak dilanggar. Beliau akan memaafkan kesalahan orang lain yang mengenai dirinya, karena itu adalah sifat utama.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Terima kasih Ibu Isnawati atas telaahnya yang memberi inspirasi dan mengingatkan saya&#8230; Setelah menyimak firman Allah dan hadist Nabi tentang marah dan memaafkan itu, saya jadi malu saat pernah marah kemudian menghapus sejumlah orang dalam daftar teman karena telah menyakiti saya, mencurangi, hingga menzolimi saya. Prinsip saya sebelum ini, saya memaafkan bila mereka meminta maaf. Namun ternyata tak pernah ada permintaan maaf dari mereka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya berpinsip: saya telah memaafkan kesalahan mereka, meski mereka tak pernah meminta maaf. Stop: tiada maaf bagi siapapun, meski mereka tidak pernah meminta maaf. Semoga saya dan Anda termasuk golongan Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat&#8230;</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=834&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/11/08/stop-tiada-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/jago1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jago1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/komputer_kucing.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">komputer_kucing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meminta Maaf, Lupa Memaafkan</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/10/11/meminta-maaf-lupa-memaafkan/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/10/11/meminta-maaf-lupa-memaafkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 04:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2008]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran selalu disibukkan ritual berkirim ucapan Idul Fitri&#8230; Di masa silam, ucapan &#8220;selamat idul Fitri&#8221; dan &#8220;mohon Maaf Lahir dan Bathin&#8221; banyak dikirim melalu kartu ucapan. Namun di era kini, masyarakat banyak tak lagi saling berkirim kartu ucapan lebaran. Hanya untuk relasi penting, atau antarperusahaan yang masih membutuhkan kartu ucapan lebaran. Era sekarang, ucapan lebaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=828&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/10/spa51214cilik.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-832" title="spa51214cilik" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/10/spa51214cilik.jpg?w=450" alt=""   /></a>Lebaran selalu disibukkan ritual berkirim ucapan Idul Fitri&#8230; Di masa silam, ucapan &#8220;selamat idul Fitri&#8221; dan &#8220;mohon Maaf Lahir dan Bathin&#8221; banyak dikirim melalu kartu ucapan. Namun di era kini, masyarakat banyak tak lagi saling berkirim kartu ucapan lebaran. Hanya untuk relasi penting, atau antarperusahaan yang masih membutuhkan kartu ucapan lebaran. Era sekarang, ucapan lebaran telah tergantikan kiriman SMS atawa layanan pesan singkat via ponsel.. baik yg sekadar kiriman berupa teks ucapan, maupun yang berisikan image.</p>
<p>Praktis, memang, berkirim ucapan melalui media ponsel. Selain mudah, biayanya juga sangat murah. Antara Rp 50-Rp 100. Bandinkan dengan harga kartu ucapan, yang sekitar Rp 500-Rp 2000 untuk kelas murah sampai menengah. Belum lagi biaya perangko..Bisa diperkirakan biaya keselurahnnya setiap lembar kartu ucapan&#8230;<span id="more-828"></span></p>
<p>Tulisan ini bukan akan mempersoalkan tradisi berkirim ucapan via ponsel tersebut. Tapi, apa yg ditulis dalam SMS ucapan lebaran. Coba aja disimak, puluhan SMS Lebaran yang Anda terima. Dari yang bernada formal: Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir bathin, maunpun yg nyantai dengan sampiran berupa pantun. Ada juga ucapan model relijius, yang diawali doa/harapan buat si penerima SMS, baru diakhiri ucapan berlebaran&#8230;</p>
<p>Apanya yang salah dalam SMS tersebut? Yang kurang afdol, menurut saya, ketika seseorang menerima ucapan lebaran: permohonan maaf, kebanyakan membalasnya dengan ucapan yang relatif sama: memohon maaf juga.. Sehingga keduanya hanya sama-sama meminta maaf, dan selamat berlebaran. Belum jelas, apakah keduanya sudah &#8220;saling memaafkan.&#8221; Sebab tak ada ucapan, misalnya: Saya maafkan setulusnya, kesalahan2 Anda, saya juga meminta maaf&#8230;dst ..</p>
<p>Kebanyakan orang hanya bisa meminta maaf, tapi belum jelas (tentu) telah memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain.. Seumur2 saya, ucapan permintaan maaf saya, belum pernah dibalas dengan redaksi : kesalahan saya telah dimaafkan. Semua balasan SMS ke ponsel saya, ya sama saja, ucapan lebaran dan permintaan maaf.</p>
<p>Bahkan ucapan permintaan maaf yang disampaikan secara langsung, baik melalui kunjungan, telepon, or chatting, sama juga: ketika yg satu meminta maaf, yg lain mengatakan, kurang lebih: sama-sama, saya juga minta maaf, orangtua banyak salahnya&#8230;dst..</p>
<p>Benarkah mereka telah saling memaafkan? Atau mereka hanya sekadar mengikuti tradisi saja. Siapa yang tahu hati dan pikiran orang. Saya menulis ini, karena jujur saja, di antara mereka yg pernah mengirim ucapan permintaan maaf, ada yang belum bisa saya maafkan semua kesalahannya. Untuk sejumlah kesalahan, menurut kacamata saya, yg bisa termaafkan, ya memang tulus saya maafkan. Namun ada satu-dua kesalahan yang sangat-sangat sulit termaafkan.. Meski telah bertahun-tahun berlalu, sebuah &#8220;kesalahan berat&#8221; itu masih terhidden dalam memori saya&#8230; Dalam keseharian mungkin dalam kategori lupa.. atau enggak terngiang dalam ingatan. Namun ketika memori dibangkitkan pada sesuatu yg menuju si biang pembuat kesalahan, memori dgn cepat menangkap: saya belum memaafkan kesalahannya.</p>
<p>Jahatkah saya? Manusia masing2 punya kelemahan. Hanya Allah yang bisa menilainya. Sebab, kaidah Islam sendiri mengatakan bahwa kesalahan antarmuslim penebusnya ya, pemberian maaf dari orang yang kita mintai maaf. Kesalahan kita terhadap orang-orang mungkin saja telah dimaafkan Allah. Namun belum jelas betul, apakah sudah dimaafkan oleh orang-orang yang secara sadar dan enggak sadar telah kita &#8220;zolimi&#8221; atawa sekadar berbuat salah dan khilaf yang sepele.</p>
<p>Kembali ke ucapan permintaan maaf itu tadi. Saya, setidaknya dalam 3-4 tahun terakhir, berusaha menjawab<br />
SMS permintaan maaf dengan jawaban, kurang lebih: Saya maafkan setulusnya semua kesalahan sampeyan..begitu juga saya, mohon maaf ..dst.. Dalam kasus ini: saya jelas sudah memaafkan secara tulus kesalahan2 yg orang lain pernah dibuat ke saya.. Namun, permintaan maaf saya, enggak jelas dimaafkan atawa tidak. Setelah saya kirim jawban SMS ke kolega saya, nyaris semuanya tidak menjawab ulang yang berisi pemberian maaf.</p>
<p>Tahun 2008 ini, hanya ada satu yang balik membalas, memberi maaf, dan meng-Amien-kan doa/harapan saya, yang tertulis di SMS saya. Selebihnya? entah irit pulsa SMS, atau karena memang tidak terbiasa dengan SMS berisi pemberian maaf.</p>
<p>Jika kita merunut jauh ke belakang, sejak tradisi mudik masyarakat ke kampung halaman, rasanya kebiasaan &#8220;meminta maaf, lupa memaafkan&#8221; itu kurang lebih sama umurnya dengan tradisi mudik. Rasanya mayoritas masyarakat hanya pandai meminta maaf, tapi lupa memaafkan, sejak jaman lampau hingga sekarang..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&amp;blog=4500471&amp;post=828&amp;subd=spesies&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/10/11/meminta-maaf-lupa-memaafkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/10/spa51214cilik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">spa51214cilik</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
