<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sketsa sedari dulu</title>
	<atom:link href="http://spesies.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spesies.wordpress.com</link>
	<description>Perjalanan hidup itu masih berupa sketsa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jul 2009 10:09:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='spesies.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/789b316a395784a0ffe85498e56ddd40?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sketsa sedari dulu</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sedari Dulu</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 10:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[MUSIK]]></category>
		<category><![CDATA[sedari dulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=854&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/"><img src="http://img.youtube.com/vi/TD0PAFUdMN8/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/854/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=854&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2009/07/02/sedari-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/TD0PAFUdMN8/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Celathu Sang Presiden</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/12/26/celathu-sang-presiden/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/12/26/celathu-sang-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 04:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKESTA 2008]]></category>
		<category><![CDATA[BUKU]]></category>
		<category><![CDATA[butet]]></category>
		<category><![CDATA[kartaredjasa]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[
Judul: Presiden Guyonan 
Penulis: Butet Kartaredjasa
Penerbit: Kitab Sarimin Yogyakarta, cetakan I November 2008
Tebal: xiv + 285 halaman

Butet Kartaredjasa menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. 

Mas Celathu namanya. Penampilannya bersahaja: baju berbahan katun dengan model “itu-itu saja.” Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa leluasa menyapa bulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=849&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Judul: Presiden Guyonan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Penulis: Butet Kartaredjasa</span></p>
<p class="MsoNormal">Penerbit: Kitab Sarimin Yogyakarta, cetakan I November 2008</p>
<p class="MsoNormal">Tebal: xiv + 285 halaman</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Butet Kartaredjasa menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. </em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mas Celathu namanya. Penampilannya bersahaja: baju berbahan katun dengan model “itu-itu saja.” Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa leluasa menyapa bulu keteknya. Matanya dilapis kaca ukuran minus setebal wingko babat, dengan model telor sebulat-bulatnya telor ceplok. Dan lihatlah kakinya! Sepatu sandal bikinan Yogya dari kulit sapi lokal selalu membungkus kaki, dan mengingatkan kita kepada biarawan dan guru-guru Taman Siswa. Dalam penampilan seperti itu, semestinya dia lebih pantas berpredikat rohaniawan atau guru. Setidaknya tutur katanya akan familiar dengan adat kesopanan yang terkadang lamis dan canggih<span> </span>menyajikan kepalsuan. Tapi ternyata tidak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Begitu kita melihat wajahnya yang berbibir seperti iwak empal alias rada tebal, dan tabiatnya yang rajin menyambar omongan orang sesuka dan sekena-kenanya –untuk tidak disebut <em>waton njeplak</em>&#8211; maka gugurlah semua imajinasi yang stereotipe itu. Saya malah semakin mempercayai pemeo yang menyebutkan bahwa “nama membawa tuah” Sesuai namanya, Mas Celathu memang suka melontarkan celathu. Jika diindonesiakan celathu berarti “berujar” atau “menyergah”. Peristiwa apapun dikomentari. <span> <span id="more-849"></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Itulah salam pembukaan Butet Kartaredjasa mengenalkan tokoh Mas Celathu yang menjadi wahana baginya menyampaikan sketsa sosial, merekam dan membidik kenyataan kehidupan dengan perspektif kejenakaan. <span lang="SV">Tokoh sentral inilah yang menjadi aktor utama tulisan dalam buku <em>Presiden Guyonan</em>. Buku setebal 285 halaman ini merupakan kumpulan kolom karya Butet, yang lebih dikenal sebagai aktor teater, selain sebagai penulis esai. Tulisan Butet ini pernah dimuat secara rutin, sepekan sekali, di koran Suara Merdeka, Semarang, dalam kurun September 2007-September 2008.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">PAHLAWAN TONGSENG</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FI">Celathu</span></em><span lang="FI"> Butet itu bisa melompat dari persoalan satu ke persoalan lain. Misalnya setelah berbicara soal hakiki dari kemerdekaan di tulisan paling awal, Butet menyoroti soal kekerasan, yang ketika itu ada peristiwa penganiayaan sejumlah mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di halaman 7. Terus <em>ngoceh</em> soal pahlawan (<em>Pahlawan Tongseng,</em> halaman 51). </span><span lang="SV">Pada peringatan Hari Pahlawan, Mas Celathu masih bingung mengartikan pahlawan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Rupanya pahlawan itu harus tega membunuh sesamanya ya?” Mas Celathu menggugat, meski dalam hati. Yang ada dalam pikirannya, mereka yang jadi pahlawan adalah yang berbaring di pusara Taman Makam Pahlawan. Di uar itu bukan pahlawan. Artinya, hanya mereka yang pernah angkat senjata dan mungkin pernah secara heorik membunuh pahlawan, yang bisa dipredikati pahlawan. <span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Mas Celathu berharap ada koreksi mengenai tafsir sosok pahlawan. Sebab bisa jadi mereka yang bermimpi jadi pahlawan akan selalu merindukan datangnya perang. Padahal, Mas Celathu sendiri mafhum menyelesaikan persoalan dengan menyelenggarakan peperangan sudah jadi mode yang kedaluwarsa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Jika nilai kepahlawanan boleh dimaknai sebagai ikhtiar memuliakan kehidupan dengan kesediaan diri menjadi tumbalnya, maka siapa saja kelak boleh mendapatkan kapling di pusaranya para pahlawan. Bukan hanya pembunuh yang terampil menggunakan bedil,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saat ada bencana banjir, kritik Butet disampaikan melalui Mas Celathu yang akan membuka usaha baru” jualan kasur (Halaman 97). <span> </span>Bencana banjir, dalam logikanya, adalah sawab subur yang bisa diolah sebagai peluang untuk memanen keuntungan. Butet menyisipkan sosok Mbakyu Celathu, istri Mas Celathu, yang bisa mengingatkan dari perilaku tak etis. ”Mosok cari untung kok di tengah orang yang lagi susah,” sergah Mbakyu Celathu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jelas sekali ini sentilan Butet pada kalangan yang ”memproyekkan” bencana dan penderitaan khalayak, mengeksploitir musibah untuk dijadikan berkah. Dia berharap ada sosok ”istri bernyali” yang bisa mengingatkan suami-suami yang pejabat publik, agar tidak mem-proyek-kan bencana dan penderitaan rakyatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">PERSOALAN SEKUKU</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Celoteh Mas Celathu juga terasa mengena saat ia menggelitik para pejabat publik, anggota lembaga legislatif dan para politisi. Amsalnya soal Mas Celathu yang sedang bengkak jempol kakinya, gara-gara tidak merawat dengan baik si kuku jempol. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saban saat Mas Celathu hanya bisa mengerang-erang karena sakit akibat infeksi di kuku jempol kainya, bisa merayap hingga ke otak. </span><span lang="FI">Suhu badannya meningi. Kepalanya <em>cekot-cekot</em>, sepertia da ratusan jari menjitaki. Biarpun hanya sepotong kuku, jika tak diurus dengan baik nyatanya bisa bikin kehidupan macet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Makanya, jangan hanya memikirkan perkara-perkara besar. Sok ngomong politik. Pilkada. Korupsi&#8230;,” terasa menohok sindiran Butet melalui mulut Mbakyu Celathu. Rasa sakit, juga sakitnya kehidupan masyarakat, acapkali memang tidak selalu disebabkan oleh hal-hal besar, begitu Butet menyimpulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">PRESIDEN SEMU</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Akan halnya judul buku ini <em>Presiden Guyonan</em>, nafasnya pernah menjadi salah satu tulisan berjudul <em>Presiden Semu</em>. Mas Celathu selalu membayangkan rumahnya tak ubahnya sebuah negara. Maka, dialah presidennya. <em>Lebai</em>, memang. Katanya, dengan menyangka dirinya adalah ”presiden”, setidaknya dia cukup puas dengan <em>ge-er</em> memiliki jabatan tinggi tersebut. Berhubung cuma fantasi, imajinasi Butet nggak tanggung-tanggung: presiden seumur hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebagai presiden seumur hidup, Mas Celathu hanya ingin konsisten berjuang memuliakan kehidupan keluarga dan lingkungannya. Apapun yang dilakukan adalah gerak menuju cita-cita itu: kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dia tidak ingin terganggu. Atau diganggu. ”Ini kan Republik Celathu, jadi sistem dan aturannya bisa dibuat sesuka kita,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tentu saja, nisbah Butet itu kritik pedas kepada para petinggi, pejabat, atau anggota Dewan yang menjadikan jabatannya ibarat presiden, sang pemimpin negeri. Bisa membuat aturan sesukanya untuk meraup kebahagiaan dan kesejahteraan lahir bathin.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">SENSE OF HUMOR </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Presiden Guyonan</span></em><span lang="SV"> menurut Todung Mulya Lubis adalah kritik terhadap budaya birokratik yang inhuman dan arogan. ”Membahas persoalan negara jelas harus sangat serius, tetapi pada sisi lain juga dengan suatu <em>sense of humor,</em>” katanya dalam komentar buku ini. Bangsa yang tidak mampu menertawakan dirinya akan menjadi negara yang gagal. ”Buku <em>Presiden Guyonan</em> ini mengajarkan kepada kita untuk tajam dan jenaka dalam mengelola negara.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Mohamad Sobary dalam pengantar buku ini menyebut Butet mampu mengolah hidup menjadi bahan ketawa. <em>Nggeguyu</em> alias menertawakan, menurut Sobary, adalah konsep campur aduk antara mengkritik, sekadar membuat lelucon, mengejek, atau mencemooh, sekaligus diam-diam balas dendam. Butet berada di pinggir kekuasaan. Dia dalam posisi menertawakan gerak-gerik para empunya kekuasaan.<span> </span>”Ini merupakan moralitas orang-orang yang bersikap resisten terhadap keangkuhan penguasa, atau siapa saja yang berlagak sok kuasa,” kata Sobary.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Di luar soal salah ketik ejaan, <em>Presiden Guyonan</em> enak dinikmati. Salah ketik sudah tampak sejak sampul buku disibak. Tertulis ”Kolom Celathu Suara Merdeka, September 2007-September 2009.” Tentu itu bukan sengaja sebagai guyonan Butet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Dimuat di Majalah INFO SOCIETA Edisi Kaleidoskop 2008<br />
</span></em>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/849/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=849&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/12/26/celathu-sang-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stop: Tiada Maaf</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/11/08/stop-tiada-maaf/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/11/08/stop-tiada-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 05:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKESTA 2008]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[memaafkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[

Kesibukan kerja yang luar biasa membuat waktu buat mengisi blog ini sementara waktu hilang. Tulisan lama bertahun 2002 masih ada sekitar 50-an file yang belum masuk dalam blog ini. Saya tergelitik menulis lagi soal &#8220;maaf-memaafkan&#8221; lantaran belum lama berselang, secara tak sengaja saya membuat kesalahan terhadap seorang teman lama, yang baru bersua via ponsel, setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=834&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/jago1.jpg"><img class="size-full wp-image-836 alignleft" title="jago1" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/jago1.jpg?w=375&#038;h=500" alt="jago1" width="375" height="500" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Kesibukan kerja yang luar biasa membuat waktu buat mengisi blog ini sementara waktu hilang. Tulisan lama bertahun 2002 masih ada sekitar 50-an file yang belum masuk dalam blog ini. Saya tergelitik menulis lagi soal &#8220;maaf-memaafkan&#8221; lantaran belum lama berselang, secara tak sengaja saya membuat kesalahan terhadap seorang teman lama, yang baru bersua via ponsel, setelah 20 tahun tak pernah bersapa kabar sekali pun.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kebetulan teman itu memang dulu, saat SMA, termasuk salah satu figur publik..setidaknya lebih dikenal dibanding saya&#8230; Selain pandai, dia juga cantik, dari keluarga berada dengan status sosial yang terpandang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di masa 1980-an, dia sebagai anak seorang dokter, di mata saya ya anak orang kaya.. Mungkin di masa kecilnya tak pernah bersentuhan dengan <em>telek </em>ayam seperti saya. Masa remaja saya, sehari-hari, sudah biasa bergaul dengan ayam-ayam peliharaan. Bukan sekadar dipelihara tentunya, tapi telurnya, tentu saja sang ayam itu sendiri menjadi barang berharga buat menambah biaya sekolah. Maklum, saya hanya anak PNS golongan II.<span id="more-834"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Selain ayam, hari-hari saya dulu pernah berkawan dengan mentok, bebek, dan kambing. Hampir 100% saya yakin, teman saya yang anak dokter itu, kebetulan dia sekarang juga berprofesi dokter, tidak pernah berkawan dengan ayam, mentok, bebek dan kambing. Lho apa hubungannya memaafkan dengan ayam, mentok, dan hewan piaraan masa remaja saya itu? Secara langsung mungkin tidak ada. Saya hanya merasa berterima kasih kepada alam, yang melahirkan saya sehingga masa remaja saya berkawan dengan unggas dan ternak itu. Sebab dengan bergaul akrab dengan hewan, saya bisa merasakan bahwa hewan itu &#8220;tulus&#8221; dalam menerima dan memberi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ayam-ayam itu di antaranya diberi nama Petruk (si jagoan warna hitam), Gareng (jago merah yang disegani), Kreak (si hitam legam yang termasuk susah diatur), Blirik, Terang Bintang, Dewa Resi, Chili Willy, hingga Untung. Ayam itu tulus ketika menerima perhatian kita, saat mencampurkan dedak dengan air.  Apalagi saat mengelus Gareng, jagoan yang paling disegani.. Seolah ia bangga bisa lebih dekat dengan saya, dibanding jago lainnya. Ayam-ayam ini bersikap beda dengan ayah saya yang lebih temperamental saat itu.. Sehingga lebih susah diatur saat bersama ayah saya. Suara makian biasa saya dengar saat itu.. Entahlah, rasanya ayam-ayam itu meski tidak bisa bercakap layaknya manusia, bisa memahami makian. Sehingga ia menyikapinya dengan ulah &#8220;kurang ajar.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Begitu juga dengan bebek, mentok, dan kambing. Mereka bisa tulus menerima pemberian kita. yang susah payah mencarikan makan sehari-hari. Mereka juga paham saat setiap hari saya rela berbau-bau membersihkan kandangnya yang sudah pasti jorok, karena selalu dipenuhi tahi dan kencingnya, serta sisa-sisa santapannya. Memang, sesekali ada kambing yang sukanya menyeruduk saya ketika membelakanginya. Tapi saya merasa itu canda dia, atau entah kemarahan kepada ayah saya yang suka menghardiknya, lantas ditujukan ke saya. Saya hanya menanggapi serudukannya dengan senyum. Tak ada marah kepada ayam, bebek, mentok dan kambing saya itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Oiya ada satu lagi hewan akrab saya, yakni kucing.Sepanjang masa sekolah dulu, rasanya sudah banyak kucing beranak pinak untuk kali kesekian, atau kehadiran kucing spesies baru, saat kucing satu generasi saya sudah habis garis keturunannya. Nama-nama kucing saya, yg semoga berada di surga menemani Baginda Nabi Sulaiman, sang penyayang kucing, adalah Mia, yang beranak Mira (berwarna putih dan merah) dan Mita (berbulu putih dan hitam) &#8211;anak-anak Mia lainnya diberikan kepada tetangga dan kenalan. Dari Mira dan Mita juga banyak anak yang lahir, namun sejak kecil tidak dipelihara sendiri karena diminta tetangga dan kenalan.Lantas ada Mimi (yang galak, yang pernah makan <em>kuthuk </em>alias anak ayam tetangga. Mimi akhirnya meninggal jatuh dari pohon sirsak..)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kucing baru generasi Mimi, ada Ayu, Alpina Capri, Blorek, hingga yang berusia cukup sepuh, Mas Blegendong atawa yang biasa disapa Mas Bleg. Kucing dengan bulu putih, totol-totol hitam ini, boleh dibilang kucing paling setia di antara kucing-kucing sejak masa usia SD. Kucing ini menemani saya sejak kelas 2 SMP. Ketika pindah rumah saat SMP kelas 3, Mas Bleg juga ikut serta. Dia mudah menyesuaikan diri dengan keadaan rumah baru yang di kiri kanan, saat itu dikepung sawah, lapangan rumput dan kebun panili. Dulunya, saya dan dia tinggal di pinggir jalan protokol utama, yang memiliki tanah buat menanam pepohonan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/komputer_kucing.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-837" title="komputer_kucing" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/komputer_kucing.jpg?w=394&#038;h=400" alt="komputer_kucing" width="394" height="400" /></a>Mas Bleg meninggal entah di mana jasadnya. Seingat saya, ketika masa awal kuliah saya, dia masih sehat. Namun entah mengapa di jadi sering bepergian, yang agak jauh, sehingga menurut laporan Ibu, Mas Bleg kadang pergi beberapa hari tidak di rumah. Hingga suatu saat, dia pergi entah kemana. Saya menganggap dia sudah meninggal. Ada kesedihan, karena dia cukup lama menemani hari-hari saya..Dia biasa bercanda seolah mengunyah jari-jemari saya, saat tangan ini menggelitik perutnya. Meski jemari saya berada di antara gigi geliginya yang tajam..dia tidak pernah benar-benar mengunyah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagi saya Mas Bleg mengajarkan akan persahabatan tulus. Saya memang mencintai kucing. Sehingga dengan senang hati menyediakan makan setiap hari. Kadang ikan pindang yang dicampur nasi. Paling tidak nasi berteman rese, remah udang kecil-kecil. Baunya enggak enak. Saudara-saudara saya paling malas buat memberi makan Mas Bleg.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Persahabatan dengan kucing tetap terjalin saat saya sudah beranak dua, saat ini. Kucing turut meramaikan rumah kami, ketika anak pertama saya, Dzikrina Qonita Fillah waktu itu berusia 4 tahun. Sekarang dia kelas 4 SD. Namun, dalam beberapa tahun itu, kucing kami datang pergi. Yang agak awet adalah Spongebob dan Patrick. Keduanya sama-sama berbulu putih-hitam. Bedanya pada mulut Patrick ada totol hitam. Spongebob juga lebih putih bulu di wajahnya. Spongebob hilang sekitar 2 tahun lalu. Senarnya tidak benar-benar hilang, karana saya kadang melihat dia di rumah tetangga saya, yang berjarak 50-an meter. Patrick pun sejak setahun terakhir jarang pulang rumah. Saya sendiri memang tidak setiap hari berada di rumah. Ketika  saya berada di rumah, Patrick lebih sering pulang. Dia selalu menesulup di antara kaki saya, menggosok-gosokkan badanya di kaki saya..</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kembali lagi ke soal teman saya, yang mendadak berubah dalam hitungan jam.. Saat kali pertama saya telepon dia menyambut dengan <em>grapyak</em>. Bahkan dia berujar kalau tidak punya kontak dengan teman-teman SMA, satu pun. Sejak lulus kuliah. Tapi entah kenapa, sambutan hangat itu berubah drastis saat saya berbuat salah, yang menurut saya tidak terlalu prinsipil. Saya hanya membuatkan email baginya, dan mendaftarkannya langsung ke milis sekolah, yang kebetulan saya kelola. Dia marah karena saya dinilai mendahului dia. Saya meminta maaf sembari memberi alternatif solusi, email dia (yang saya buatkan itu) saya hapus dari member milis. Dia sepakat tapi, tidak ada pemberian maaf. Hanya ada pesan singkat: ya didelete saja. Mksh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">SMS permintaan maaf berkali-kali saya kirimkan. Panggilan telepon berkali-kali saya lakukan. Tak ada respons.Kemarahan dia bergeming. Meskipun boleh dibilang saya sudah memohon-mohon, Bukan sekadar meminta maaf. Berkali-kali.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jujur saya heran. Tidak bisa memahami sikapnya. Sepertinya, bagi dia, betapa mahal harga sebuah maaf. Saya mencoba memahami lagi, ketika membuka blog ini dan ada pesan dari kawan baik saya yang kurang lebih mengatakan: ada pergeseran, seolah memberi maaf itu tingkatannya lebih tinggi dari yang meminta maaf. Benarkah demikian. Kalau benar, artinya teman saya yang belum memberi maaf itu menempatkan dirinya lebih tinggi dari saya. Bagi saya tidak mengapa, karena toh saya memang sudah merendahkan diri saya untuk memohon kata maaf. Apakah saya kurang merendahkan sehingga posisi dia semakin tinggi di atas saya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->Sekadar mengutip di internet, tulisan Dr Isnawati, MA, dosen IAIN Imam Bonjol, tentang Perilaku Orang Bertakwa. Dia menukil Surah Ali Imran 133-136 sebagai kajiannya:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan (juga) orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal (Qs. Ali Imran 133-136).</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Telaahnya yang berhubungan dengan menahan marah dan memaafkan adalah:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Menahan marah</strong></p>
<p class="MsoNormal">Perilaku orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Orang yang mampu menahan marah, oleh Nabi SAW disebut sebagai orang yang kuat. Beliau bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud). Dalam hadits lain nabi juga bersabda: Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka di hari kiamat Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Memaafkan</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Memaafkan berarti menghapuskan. Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk memberikan dorongan kepada manusia agar mau memaafkan, Allah berulang kali memerintahkannya di dalam Al-Quran, antara lain dalam surat Al-Araf 199, Al-Hijr 85, dan Asy-Syura 43. Sementara itu Rasulullah SAW juga menjelaskan keuntungan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, di antaranya:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengampuninya saat ia kesukaran. Dan Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat </em>(Lengkapnya dapat dilihat dalam Muhammad Ahmad al-Hufy, Edisi Indonesia, hal. 272).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah kita, adalah seseorang yang sangat pemaaf. Aisyiyah r. a. berkata: Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW membalas karena beliau dianiaya selama hukum Allah tidak dilanggar. Beliau akan memaafkan kesalahan orang lain yang mengenai dirinya, karena itu adalah sifat utama.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Terima kasih Ibu Isnawati atas telaahnya yang memberi inspirasi dan mengingatkan saya&#8230; Setelah menyimak firman Allah dan hadist Nabi tentang marah dan memaafkan itu, saya jadi malu saat pernah marah kemudian menghapus sejumlah orang dalam daftar teman karena telah menyakiti saya, mencurangi, hingga menzolimi saya. Prinsip saya sebelum ini, saya memaafkan bila mereka meminta maaf. Namun ternyata tak pernah ada permintaan maaf dari mereka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya berpinsip: saya telah memaafkan kesalahan mereka, meski mereka tak pernah meminta maaf. Stop: tiada maaf bagi siapapun, meski mereka tidak pernah meminta maaf. Semoga saya dan Anda termasuk golongan Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat&#8230;</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/834/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=834&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/11/08/stop-tiada-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/jago1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jago1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/11/komputer_kucing.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">komputer_kucing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meminta Maaf, Lupa Memaafkan</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/10/11/meminta-maaf-lupa-memaafkan/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/10/11/meminta-maaf-lupa-memaafkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 04:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKESTA 2008]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran selalu disibukkan ritual berkirim ucapan Idul Fitri&#8230; Di masa silam, ucapan &#8220;selamat idul Fitri&#8221; dan &#8220;mohon Maaf Lahir dan Bathin&#8221; banyak dikirim melalu kartu ucapan. Namun di era kini, masyarakat banyak tak lagi saling berkirim kartu ucapan lebaran. Hanya untuk relasi penting, atau antarperusahaan yang masih membutuhkan kartu ucapan lebaran. Era sekarang, ucapan lebaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=828&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/10/spa51214cilik.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-832" title="spa51214cilik" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/10/spa51214cilik.jpg?w=408&#038;h=306" alt="" width="408" height="306" /></a>Lebaran selalu disibukkan ritual berkirim ucapan Idul Fitri&#8230; Di masa silam, ucapan &#8220;selamat idul Fitri&#8221; dan &#8220;mohon Maaf Lahir dan Bathin&#8221; banyak dikirim melalu kartu ucapan. Namun di era kini, masyarakat banyak tak lagi saling berkirim kartu ucapan lebaran. Hanya untuk relasi penting, atau antarperusahaan yang masih membutuhkan kartu ucapan lebaran. Era sekarang, ucapan lebaran telah tergantikan kiriman SMS atawa layanan pesan singkat via ponsel.. baik yg sekadar kiriman berupa teks ucapan, maupun yang berisikan image.</p>
<p>Praktis, memang, berkirim ucapan melalui media ponsel. Selain mudah, biayanya juga sangat murah. Antara Rp 50-Rp 100. Bandinkan dengan harga kartu ucapan, yang sekitar Rp 500-Rp 2000 untuk kelas murah sampai menengah. Belum lagi biaya perangko..Bisa diperkirakan biaya keselurahnnya setiap lembar kartu ucapan&#8230;<span id="more-828"></span></p>
<p>Tulisan ini bukan akan mempersoalkan tradisi berkirim ucapan via ponsel tersebut. Tapi, apa yg ditulis dalam SMS ucapan lebaran. Coba aja disimak, puluhan SMS Lebaran yang Anda terima. Dari yang bernada formal: Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir bathin, maunpun yg nyantai dengan sampiran berupa pantun. Ada juga ucapan model relijius, yang diawali doa/harapan buat si penerima SMS, baru diakhiri ucapan berlebaran&#8230;</p>
<p>Apanya yang salah dalam SMS tersebut? Yang kurang afdol, menurut saya, ketika seseorang menerima ucapan lebaran: permohonan maaf, kebanyakan membalasnya dengan ucapan yang relatif sama: memohon maaf juga.. Sehingga keduanya hanya sama-sama meminta maaf, dan selamat berlebaran. Belum jelas, apakah keduanya sudah &#8220;saling memaafkan.&#8221; Sebab tak ada ucapan, misalnya: Saya maafkan setulusnya, kesalahan2 Anda, saya juga meminta maaf&#8230;dst ..</p>
<p>Kebanyakan orang hanya bisa meminta maaf, tapi belum jelas (tentu) telah memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain.. Seumur2 saya, ucapan permintaan maaf saya, belum pernah dibalas dengan redaksi : kesalahan saya telah dimaafkan. Semua balasan SMS ke ponsel saya, ya sama saja, ucapan lebaran dan permintaan maaf.</p>
<p>Bahkan ucapan permintaan maaf yang disampaikan secara langsung, baik melalui kunjungan, telepon, or chatting, sama juga: ketika yg satu meminta maaf, yg lain mengatakan, kurang lebih: sama-sama, saya juga minta maaf, orangtua banyak salahnya&#8230;dst..</p>
<p>Benarkah mereka telah saling memaafkan? Atau mereka hanya sekadar mengikuti tradisi saja. Siapa yang tahu hati dan pikiran orang. Saya menulis ini, karena jujur saja, di antara mereka yg pernah mengirim ucapan permintaan maaf, ada yang belum bisa saya maafkan semua kesalahannya. Untuk sejumlah kesalahan, menurut kacamata saya, yg bisa termaafkan, ya memang tulus saya maafkan. Namun ada satu-dua kesalahan yang sangat-sangat sulit termaafkan.. Meski telah bertahun-tahun berlalu, sebuah &#8220;kesalahan berat&#8221; itu masih terhidden dalam memori saya&#8230; Dalam keseharian mungkin dalam kategori lupa.. atau enggak terngiang dalam ingatan. Namun ketika memori dibangkitkan pada sesuatu yg menuju si biang pembuat kesalahan, memori dgn cepat menangkap: saya belum memaafkan kesalahannya.</p>
<p>Jahatkah saya? Manusia masing2 punya kelemahan. Hanya Allah yang bisa menilainya. Sebab, kaidah Islam sendiri mengatakan bahwa kesalahan antarmuslim penebusnya ya, pemberian maaf dari orang yang kita mintai maaf. Kesalahan kita terhadap orang-orang mungkin saja telah dimaafkan Allah. Namun belum jelas betul, apakah sudah dimaafkan oleh orang-orang yang secara sadar dan enggak sadar telah kita &#8220;zolimi&#8221; atawa sekadar berbuat salah dan khilaf yang sepele.</p>
<p>Kembali ke ucapan permintaan maaf itu tadi. Saya, setidaknya dalam 3-4 tahun terakhir, berusaha menjawab<br />
SMS permintaan maaf dengan jawaban, kurang lebih: Saya maafkan setulusnya semua kesalahan sampeyan..begitu juga saya, mohon maaf ..dst.. Dalam kasus ini: saya jelas sudah memaafkan secara tulus kesalahan2 yg orang lain pernah dibuat ke saya.. Namun, permintaan maaf saya, enggak jelas dimaafkan atawa tidak. Setelah saya kirim jawban SMS ke kolega saya, nyaris semuanya tidak menjawab ulang yang berisi pemberian maaf.</p>
<p>Tahun 2008 ini, hanya ada satu yang balik membalas, memberi maaf, dan meng-Amien-kan doa/harapan saya, yang tertulis di SMS saya. Selebihnya? entah irit pulsa SMS, atau karena memang tidak terbiasa dengan SMS berisi pemberian maaf.</p>
<p>Jika kita merunut jauh ke belakang, sejak tradisi mudik masyarakat ke kampung halaman, rasanya kebiasaan &#8220;meminta maaf, lupa memaafkan&#8221; itu kurang lebih sama umurnya dengan tradisi mudik. Rasanya mayoritas masyarakat hanya pandai meminta maaf, tapi lupa memaafkan, sejak jaman lampau hingga sekarang..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/828/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=828&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/10/11/meminta-maaf-lupa-memaafkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/10/spa51214cilik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">spa51214cilik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berilir-Ilir Sampai Dewa Ruci</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/berili-ilir-sampai-dewa-ruci/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/berili-ilir-sampai-dewa-ruci/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2001]]></category>
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>
		<category><![CDATA[lokajaya]]></category>
		<category><![CDATA[sunan kalijaga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[ HUTAN Jatiwangi, pada suatu masa. Di rindang lebat pepohonan jati di kawasan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, itu dua lelaki berbeda umur tegak berhadapan. Yang satu pemuda berpakaian serba hitam. Di depannya seorang pria lebih tua, dibalut busana serba putih. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya.

 Pemuda berbaju hitam itu bernama Lokajaya, berandal yang gemar membegal pejalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=818&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span> </span><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/sunan_kali_jaga.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-819" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/sunan_kali_jaga.jpg?w=200&#038;h=264" alt="" width="200" height="264" /></a>HUTAN Jatiwangi, pada suatu masa. Di rindang lebat pepohonan jati di kawasan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, itu dua lelaki berbeda umur tegak berhadapan. Yang satu pemuda berpakaian serba hitam. Di depannya seorang pria lebih tua, dibalut busana serba putih. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pemuda berbaju hitam itu bernama Lokajaya, berandal yang gemar membegal pejalan yang melewati hutan Jatiwangi. Ia silau oleh kemilau kuning keemasan gagang tongkat yang dibawa pria berjubah putih. Siapa pun orang berjubah putih itu, layaklah ia menjadi mangsa Lokajaya. Dan ketika tongkat itu direbut, orang tua tadi sama sekali tak berlawan.<span id="more-818"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ia tersungkur di tanah, kehilangan keseimbangan. Tongkat berkepala emas itu berpindah tangan. Bangkit dari jatuhnya, orang tua itu memberi nasihat, dengan tutur kata lembut. Nasihat inilah yang mengubah jalan hidup Lokajaya. Ia menjadi murid orang tua itu &#8211;yang tiada lain daripada Sunan Bonang. Lokajaya sendiri kemudian dikenal sebagai Sunan Kalijaga.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Begitulah legenda Sunan Kalijaga mengalir, dalam berbagai versi. Jalan hidup sunan yang satu ini tercantum dalam berbagai naskah kuno, babad, serat, hikayat, atau hanya cerita tutur turun-temurun. Mudah dipahami kalau muatannya berbeda-beda. Begitu pula halnya dengan asal-usul Sunan Kalijaga.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga adalah putra Wilwatikta, Adipati Tuban. Nama aslinya Raden Said, atau Raden Sahid. Menurut babad dan serat, Sunan Kalijaga juga disebut Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, dan Pangeran Tuban. Gelar &#8220;Kalijaga&#8221; sendiri punya banyak tafsir.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ada yang menyatakan, asalnya dari kata jaga (menjaga) dan kali (sungai). Versi ini didasarkan pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun, di tepi sungai. Ada juga yang menulis, kata itu berasal dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat Sunan Kalijaga pernah berdakwah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kelahiran Sunan Kalijaga pun menyimpan misteri. Ia diperkirakan lahir pada 1430-an, dihitung dari tahun pernikahan Kalijaga dengan putri Sunan Ampel. Ketika itu Sunan Kalijaga diperkirakan berusia 20-an tahun. Sunan Ampel, yang diyakini lahir pada 1401, ketika menikahkan putrinya dengan Sunan Kalijaga, berusia 50-an tahun.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580- an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senopati di Mataram.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tak lama setelah itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode para wali yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ia memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu. Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan &#8211;paduan melodi Arab dan Jawa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tembang lainnya adalah Ilir-Ilir, meski ada yang menyebutnya karya Sunan Bonang. Lariknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai agama baru, diamsalkan penganten anyar, alias pengantin baru.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Peninggalan Sunan Kalijaga lainnya adalah gamelan, yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan itu kini disimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, seiring dengan berpindahnya kekuasan Islam ke Mataram. Pasangan gamelan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekaten.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Karya Sunan Kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan disungging di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Di wilayah Pajajaran, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga bersalin nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat. Bahkan kebiasan kenduri pun jadi sarana syiarnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Quran. Di awal syiarnya, Kalijaga selalu berkeliling ke pelosok desa. Menurut catatan Prof. Husein Jayadiningrat, Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah dibaiat sebagai murid Sunan Bonang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di Palembang, ia sempat berguru pada Syekh Sutabaris. Cuma, keberadaan Sunan Kalijaga di &#8220;bumi Sriwijaya&#8221; itu tidak meninggalkan catatan tertulis. Hanya disebut dalam Babad Cerbon, Sunan Kalijaga tiba di kawasan Cirebon setelah berdakwah dari Palembang. Konon, Kalijaga ingin menyusul Sunan Bonang, yang pergi ke Mekkah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tapi, oleh Syekh Maulana Magribi, Kalijaga diperintahkan balik ke Jawa. Babad Cerbon menulis, Sunan Kalijaga menetap beberapa tahun di Cirebon, persisnya di Desa Kalijaga, sekitar 2,5 kilometer arah selatan kota. Pada awal kedatangannya, Kalijaga menyamar dan bekerja sebagai pembersih masjid Keraton Kasepuhan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di sinilah Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Kisah pertemuannya rada-rada aneh. Sunan Gunung Jati sengaja menguji Kalijaga dengan sebongkah emas. Emas itu ditaruh di padasan, tempat orang mengambil wudu. Kalijaga sendiri tak kaget mengingat ajaran Sunan Ampel, &#8220;ojo gumunan lan kagetan&#8221; (jangan mudah heran dan terkejut).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ia &#8220;menyulap&#8221; emas menjadi batu bata, dan menjadikannya tempat menaruh bakiak bagi orang yang berwudu. Giliran Sunan Gunung Jati yang takjub. Ia pun &#8220;menganugerahkan&#8221; adiknya, Siti Zaenah, untuk diperistri Sunan Kalijaga. Hanya beberapa tahun Sunan Kalijaga dikisahkan menetap di Cirebon.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dakwahnya berlanjut ke arah timur, lewat pesisir utara sampai ke Kadilangu, Demak. Di sinilah diyakini Sunan Kalijaga menetap lama hingga akhir hayatnya. Kadilangu merupakan tempat Sunan Kalijaga membina kehidupan rumah tangga. Istri yang disebut-sebut hanyalah Dewi Sarah, putri Maulana Ishak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pernikahan dengan Dewi Sarah itu membuahkan tiga anak, satu di antaranya Raden Umar Said, yang kelak bergelar Sunan Muria. Sunan Muria dan Sunan Kudus tergolong satu aliran dalam berdakwah dengan Sunan Kalijaga. Metode dakwah aliran Kalijaga itu amat keras ditentang Sunan Ampel, mertuanya, dan Sunan Drajat, kakak iparnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Hingga kini para pengikut ajaran Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Kudus dikenal dengan sebutan kelompok &#8220;Islam abangan&#8221;. Julukan ini hingga kini melekat pada masyarakat di sepanjang pesisir utara, dari Demak, Semarang, Tegal, hingga Cirebon. Selain dakwah dengan kontak budaya, kisah spektakuler lainnya adalah pendirian Masjid Agung Demak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Babad Demak menyebutkan, masjid itu berdiri pada 1477, berdasarkan candrasengkala &#8220;Lawang Trus Gunaning Janma&#8221; &#8211;bermakna angka 1399 tahun Saka. Kisah pendirian Masjid Agung Demak sendiri banyak bercampur dengan dongeng. Masih belum jelas, benarkah kesembilan wali berada di tempat ini dalam satu waktu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dipo Handoko</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gatra</p>
<p class="MsoNormal">EDISI: 05/08</p>
<p class="MsoNormal">TANGGAL: 011222</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesies.wordpress.com/818/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesies.wordpress.com/818/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/818/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=818&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/berili-ilir-sampai-dewa-ruci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/sunan_kali_jaga.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tur ke Galangan Jerman</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/tur-ke-galangan-jerman/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/tur-ke-galangan-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2001]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Aker MTW Werft Gmbh]]></category>
		<category><![CDATA[kapal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[

 TANPA banyak menebar berita, sejumlah anggota Komisi IV DPR melancong ke Jerman, 18-24 November lalu. Keberangkatan ke-13 anggota Sub-Komisi IV, yang membidangi perhubungan dan telekomunikasi itu, katanya sih, untuk studi banding ke Aker MTW Werft Gmbh, dok pembuat kapal. Ini berkaitan dengan rencana PT Pelni melakukan tender pengadaan 17 kapal.

 Rombongan itu dipimpin Amri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=816&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>TANPA banyak menebar berita, sejumlah anggota Komisi IV DPR melancong ke Jerman, 18-24 November lalu. Keberangkatan ke-13 anggota Sub-Komisi IV, yang membidangi perhubungan dan telekomunikasi itu, katanya sih, untuk studi banding ke Aker MTW Werft Gmbh, dok pembuat kapal. Ini berkaitan dengan rencana PT Pelni melakukan tender pengadaan 17 kapal.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Rombongan itu dipimpin Amri Husni Siregar, dari Fraksi Persatuan Pembangunan. Ia disertai tiga kolega sefraksinya: Ali Hardi Kiaidemak, Chairul Anwar Lubis, dan Syahrial Agamas. Golkar menyertakan tiga anggotanya, Fraksi PDI Perjuangan cuma dua orang, dan masing-masing satu dari Fraksi TNI/Polri, Fraksi Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Daulat Umat, serta Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia.<span id="more-816"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Uniknya, tur ke Jerman itu digugat sesama anggota Komisi IV. Dalam rapat komisi, Rabu pekan lalu, sejumlah anggota yang tidak kebagian tiket mempersoalkannya. Soemaryoto, Ketua Komisi IV, tidak kuasa memberi penjelasan yang memuaskan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ia hanya mengatakan, pemilihan itu diserahkan sepenuhnya kepada ketua kelompok fraksi (poksi). &#8220;Masing-masing menentukan anggotanya yang akan berangkat,&#8221; katanya. Ternyata, Sofyan Mile, Ketua Poksi Golkar, mengaku tak tahu-menahu soal program tur ke Jerman itu. &#8220;Tak ada pemberitahuan,&#8221; kata Mile, yang juga Wakil Ketua Komisi IV.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sebenarnya, pergi ke mana saja bagi anggota DPR boleh saja. Cuma, dalam kasus ini, prosedurnya gelap. Pimpinan DPR belum menerima pemberitahuan. Padahal, aturannya cukup jelas, sebagaimana termaktub pada Bab V Pasal 8 Kode Etik DPR: &#8220;Dalam hal perjalanan dinas atas biaya pengundang, baik di dalam maupun luar negeri, harus sepengetahuan pimpinan DPR.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ketua DPR, Akbar Tandjung, belum mengetahui untuk apa kegiatan ke Jerman itu. Ia juga tak merasa memberikan persetujuan. &#8220;Kalau dari saya, tidak ada izin. Entah pimpinan yang lain,&#8221; katanya. Di Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR, tembusan surat izin ke Jerman juga tak jelas. Faisal Jamal, Wakil Ketua Setjen DPR, malah sama sekali tak tahu acara ke Jerman itu. &#8220;Wah, saya belum memeriksanya,&#8221; kata Faisal.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bagi Soemaryoto, pemberitahuan ke Ketua DPR tak perlu dilakukan. Justru, katanya, undangan PT Holindo Asia Pratama, perwakilan Aker di Indonesia, itu ditujukan ke pimpinan DPR yang turun ke komisinya. Ia lalu menyerahkan sepenuhnya kepada ketua poksi. &#8220;Saya berasumsi, pimpinan DPR sudah tahu, karena suratnya saja ditujukan ke pimpinan,&#8221; katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Toh, bisik-bisik di Komisi IV DPR mengatakan, undangan itu langsung jatuh ke Sub-Komisi IV Bidang Perhubungan dan Telekomunikasi. Meski membantahnya, Soemaryoto tak tahu biaya ke Jerman itu berasal dari mana. &#8220;Aku tidak ngerti siapa yang membiayainya,&#8221; ujarnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sedangkan menurut Amri Husni, semua pengeluaran ditanggung PT Holindo. Dari tiket pesawat pergi-pulang sebesar Rp 13 juta per kepala hingga akomodasinya. Kunjungan itu, kata Amri Husni, untuk mengetahui kemampuan galangan Aker di Jerman. Pada rapat komisi terdahulu disepakati untuk menolak monopoli pengadaan kapal Pelni oleh produsen kapal Jos L. Meyer.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Selama ini, Meyer, yang juga dari Jerman, seolah jadi pemasok tunggal kebutuhan Pelni. Maka, untuk pengadaan 17 armada kapal baru, Pelni bakal menggelar tender pada awal 2002. &#8220;Terserah mau dibilang traveling. Semangat kami mengurangi monopoli, kok,&#8221; kata Amri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tapi, tentu undangan Aker sebagai salah satu peserta tender mengundang tanda tanya. Kok, yang lain tidak? Di mata pengamat politik Denny J.A., kepergian anggota Komisi IV itu menyalahi wilayah kerja DPR. Mestinya, kegiatan studi banding cukup dilakukan PT Pelni, yang berkepentingan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Jika diniatkan untuk investigasi peserta tender, seharusnya tak cuma Aker yang dikunjungi. Biaya yang ditanggung salah satu peserta tender pun, menurut Denny, merupakan penyimpangan. &#8220;Ini pelanggaran etik, belum melanggar hukum,&#8221; kata pembawa acara &#8220;Parliament Watch&#8221; di Metro TV itu kepada Divera Wicaksono dari Gatra.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Toh, kegiatan &#8220;melancong&#8221; Amri Husni cs itu seolah tertelan ingar-bingar berita tertangkapnya Tommy Soeharto dan kasus Buloggate II yang menyerimpung Akbar Tandjung. Maka, tak ada tiupan berita pansus untuk tur ke Jerman ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dipo Handoko</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gatra</p>
<p class="MsoNormal">EDISI: 04/08</p>
<p class="MsoNormal">TANGGAL: 011215</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesies.wordpress.com/816/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesies.wordpress.com/816/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/816/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=816&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/tur-ke-galangan-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilema Tikus Hitam</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/dilema-tikus-hitam/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/dilema-tikus-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2001]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[buloggate II]]></category>
		<category><![CDATA[widjanarko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[

 MESKI dengan berat hati, juru bicara Kejaksaan Agung Mulyohardjo pun mendapat tantangan unik Politik Mencari Kawan menangkap mencit (tikus kecil). Mencit hitam yang dibawa rombongan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) itu lalu diletakkan di atas meja. Mulyo mengambil ancang-ancang untuk membekuk tikus jinak yang biasa dipakai untuk percobaan di lab itu.

 Tapi, mencit hitam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=814&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>MESKI dengan berat hati, juru bicara Kejaksaan Agung Mulyohardjo pun mendapat tantangan unik Politik Mencari Kawan menangkap mencit (tikus kecil). Mencit hitam yang dibawa rombongan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) itu lalu diletakkan di atas meja. Mulyo mengambil ancang-ancang untuk membekuk tikus jinak yang biasa dipakai untuk percobaan di lab itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tapi, mencit hitam itu cukup lincah untuk menghindar dari terkaman Mulyo. Bahkan, hup&#8230; sang mencit berhasil menggigit kelingking Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung itu. Mahasiswa bersorak. &#8220;Wah, bagaimana mungkin menangkap koruptor besar, membekuk tikus kecil saja tak becus,&#8221; kata seorang mahasiswa.<span id="more-814"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Adegan mencit hitam itu mewarnai dialog mahasiswa IPB dengan Bachri Fachri Nasution, SH, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, di Kejaksaan Agung, Rabu lalu. Temanya, penyelewengan dana nonbujeter Bulog, dengan Akbar Tandjung sebagai &#8220;bintangnya&#8221;. Mencit diusung ke ruang itu sebagai simbol. &#8220;Tikus ini koruptor seperti halnya Akbar Tandjung,&#8221; kata seorang mahasiswa IPB itu. Yang tak ikut dibicarakan, tentu, sinyalemen dari Bulog sendiri yang menyebut ada pula cipratan dana Rp 330 juta dari pos nonbujeter Bulog untuk IPB dan Universitas Indonesia pada periode 1998-1999.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Apa pun, gagalnya Mulyohardjo menangkap tikus itu segera ditafsirkan kurang geregetnya kejaksaan menjerat &#8220;tikus-tikus&#8221; Bulog. Pemeriksaan atas saksi-saksi pengeluaran dana nonbujeter Bulog senilai Rp 40 milyar belum dianggap bisa memunculkan kabar mengejutkan. Rumor yang beredar bahwa Kejaksaan Agung bakal meningkatkan status Akbar menjadi tersangka tak juga terlaksana.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sepanjang Selasa hingga Kamis lalu, kejaksaan memeriksa lagi Dadang Sukandar dan Haryono Suyono. B.J. Habibie, yang ditunggu-tunggu kehadirannya, tak kunjung datang. Dua saksi baru muncul, yakni Yusnadi Suwarta, Kepala Biro Pembiayaan Bulog, dan Nyonya Purnomo Emma Setiawati, Kepala Sub-Bagian Pembayaran Bulog. Tak ada kabar yang menghebohkan dari mereka, selain hanya memberi tambahan warna pada wacana yang telah beredar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pengakuan Akbar bahwa ia tak menyentuh secara fisik cek yang diletakkan Achmad Ruskandar di mejanya memang terbantahkan oleh Yusnadi. Menurut   Yusnadi, ia menyaksikan Akbar membuka map berisi cek yang diserahkan Ruskandar. Menurut Yusnadi, ia mengantar Ruskandar menyerahkan cek kepada Akbar di Kantor Menteri</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sekretaris Negara, 20 April 1999.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di dalam ruangan, menurut pengakuan Yusnadi di kejaksaan, ada dua orang yang mendampingi Akbar. Tapi, ia tak mengenali keduanya. Map berisi cek tersebut diletakkan Ruskandar di meja. Lalu, &#8220;Cek sempat dibuka-buka Akbar,&#8221; katanya. Ketika ia dan Ruskandar akan meninggalkan ruangan, Akbar sempat bilang akan menyatukan tanda terima cek tahap kedua itu dengan sebelumnya, 2 Maret 1999.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sedangkan Dadang kali ini menyatakan bahwa dia dan Dadi Suryadi, stafnya di Yayasan Raudatul Jannah, meneken tanda terima cek di depan Akbar. Lucunya, Dadang lupa siapa nama stafnya yang mencairkan cek di Bank Bukopin itu. Kisah tanda terima cek itu sendiri masih jadi misteri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sebelumnya, Ruskandar menyatakan, tanda terima dari Akbar itu disimpan Nyonya Emma. Tapi, dalam pemeriksaan, Emma membantah menyimpannya. Menurut sumber Gatra di Bulog, Emma adalah satu di antara segelintir orang yang mengetahui aliran duit nonbujeter. Tapi, secara organisatoris, kewenangannya sebatas mencatat semua pengeluaran duit Bulog. &#8220;Kalau Ruskandar bilang ada bukti tanda terima, berarti Ruskandar bohong,&#8221; kata sumber itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sedangkan Widjanarko Poespoyo, Kepala Bulog, tegas mengatakan tak ada tanda terima pengeluaran &#8220;untuk keperluan kenegaraan&#8221; pada 2 Maret dan 19 April 1999. Mana yang benar, belum terbukti. Bisik- bisik di Partai Golkar malah membenarkan keabsahan fotokopi kuitansi yang ditandatangani Muhammad Soleman Hidayat dan Fadel Muhammad.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Menurut sumber Gatra di Golkar, dua lembar tanda terima cek senilai Rp 20 milyar bertanggal 2 Maret itu diteken Hidayat dan Fadel untuk menyelamatkan Akbar. &#8220;Cek tersebut diberikan atas perintah B.J. Habibie,&#8221; kata sumber itu. Katanya, &#8220;duit panas&#8221; itu adalah ongkos tim sukses pencalonan Habibie sebagai presiden.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Agar tampak rapi, kata sumber itu, dibuatlah cerita tentang rapat kabinet terbatas yang dihadiri Akbar, Rahardi Ramelan, dan Haryono Suyono. Lalu, meluncurlah kisah bantuan pangan hingga skenario penyaluran paket sembako lewat Dadang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Versi pendukung Akbar itu ditampik Haryono Suyono. Menurut dia, rapat terbatas, Februari 1999, memang membahas pemberian bantuan pangan buat orang miskin. Tapi, ia membantah memberi disposisi penunjukan Raudatul Jannah. &#8220;Saya tidak kenal Dadang Sukandar dan yayasannya,&#8221; katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pembelaan para pendukung Akbar dari Partai Golkar juga mengental dalam rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR. &#8220;Pengadilan politik&#8221; lewat Pansus Buloggate II yang diupayakan sebagian anggota DPR mentok lagi. Rapat Bamus, yang digelar tiga jam lebih Rabu lalu, itu digiring anggota Partai Golkar menjauhi persoalan Pansus Bulog II.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Rapat justru lebih banyak membicarakan tata tertib DPR, rekomendasi Komisi I dan II yang menyetujui Komisaris Jenderal Da&#8217;i Bachtiar sebagai Kapolri, dan laporan Komisi IX soal Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ketika membicarakan Pansus Bulog II, rapat kehabisan waktu. Pembahasan selanjutnya baru dilaksanakan 6 Desember.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pansus Buloggate II itu sendiri belakangan tak begitu populer di kalangan partai besar. Pansus dianggap menimbulkan dilema. Di satu sisi, pansus itu bisa menghibur rakyat. Di sisi lain, dikhawatirkan eksesif, bak bola liar yang menyodok ke sana-kemari. &#8220;Akhirnya, kita ribut politik dan kehilangan fokus untuk pembenahan ekonomi,&#8221; kata seorang tokoh Partai Persatuan Pembangunan. Menangkap tikus, katanya, tak perlu harus dengan membongkar rumah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dipo Handoko, Rohmat Haryadi, dan G.A. Guritno</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gatra</p>
<p class="MsoNormal">EDISI: 03/08</p>
<p class="MsoNormal">TANGGAL: 011208</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesies.wordpress.com/814/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesies.wordpress.com/814/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/814/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=814&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/dilema-tikus-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Liberal dari Utan Kayu</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/tafsir-liberal-dari-utan-kayu/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/tafsir-liberal-dari-utan-kayu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2001]]></category>
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[ulil abshar]]></category>
		<category><![CDATA[utan kayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[     
 BERMULA dari ajang kongko-kongko di Jalan Utan Kayu Nomor 68 H, Jakarta Timur. Lahirlah kemudian Komunitas Islam Utan Kayu, pertengahan Juli lalu. Dan, berbarengan dengan munculnya rubrik yang mereka asuh di harian Jawa Pos, &#8220;Akhirnya kami pilih nama Kajian Utan Kayu,&#8221; kata Ulil Abshar Abdalla, seorang perintis Komunitas Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=812&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span class="mceItemObject"></span>  <!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;-->  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>BERMULA dari ajang kongko-kongko di Jalan Utan Kayu Nomor 68 H, Jakarta Timur. Lahirlah kemudian Komunitas Islam Utan Kayu, pertengahan Juli lalu. Dan, berbarengan dengan munculnya rubrik yang mereka asuh di harian Jawa Pos, &#8220;Akhirnya kami pilih nama Kajian Utan Kayu,&#8221; kata Ulil Abshar Abdalla, seorang perintis Komunitas Islam Utan Kayu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ulil Abshar bersama Ahmad Sahal, editor jurnal Kalam, dan Goenawan Mohamad, redaktur senior majalah Tempo, adalah penggagas kehadiran Komunitas Islam Utan Kayu. Para pemikir muda seperti Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaid, dan Saiful Mudjani turut pula membidani kelahirannya. Ada pula Nong Darol Mahmada dan Burhanuddin, yang kini dipercaya mengelola situs islamlib.com. Belakangan, bergabung pula Lutfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina Mulya.<span id="more-812"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sosok Goenawan sendiri memang punya andil besar membuka Komunitas Utan Kayu pada 1996, jauh sebelum &#8220;komunitas Islam&#8221; itu lahir. Komunitas ini merupakan ajang pertemuan para pegandrung sastra, teater, musik, film, dan seni rupa. Areal seluas 400 meter persegi itu kini seakan berkembang menjadi &#8220;Taman Ismail Marzuki mini&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di Jalan Utan Kayu itu pula Institut Studi Arus Informasi (ISAI) berkantor. Ulil-Sahal-Goenawan dan beberapa pemikir muda kerap menggelar diskusi bertema pembaruan pemikiran Islam di kantor ISAI. Namun, baru pada akhir 1999 para pengusung wacana Islam liberal itu menemukan titik temu. Mereka pun sepakat mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL), Maret 2001.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kehadiran JIL itu kian melengkapi Komunitas Utan Kayu. Ia menjadi perpaduan antara kebebasan seni-budaya dan agama. Meski JIL mengusung label Islam, di Utan Kayu tak ada masjid megah. Yang terlihat hanya musala mungil, berukuran 3 x 3 meter, terbuat dari bambu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Soal salat dan puasa tak dikaji mendalam di lingkungan ini. Sebab, &#8220;Salat dan puasa itu menyangkut ruang pribadi. Sebaiknya, ya, berlaku untuk diri sendiri,&#8221; kata Burhanuddin. Saat berbuka puasa tiba, misalnya, tak ada kebiasaan berbuka puasa bersama. Salat tarawih pun tak digelar di tempat ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Penyebaran Islam liberal dari Utan Kayu itu kian membesar melalui beragam media. Tak lagi mengandalkan perjumpaan fisik semata, seperti kajian dan diskusi. Ia cepat menyebar lewat internet, radio, dan media cetak. Pengenalan JIL ke masyarakat dirintis lewat surat elektronik di internet.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Percakapan maya (mailing list) itu terus berkembang hingga tak kurang dari 400 orang yang terlibat. Lalu, muncullah pembicaraan Islam liberal di radio. Mulanya cuma kantor berita radio 68H yang mengudarakan dialog interaktif setiap Kamis sore. Acara itu kemudian menyebar di 15 stasiun radio dari Garut, Padang, Gorontalo, hingga Ambon.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tulisan para pengusung JIL nongol pula di surat kabar. Misalnya, di harian Jawa Pos, JIL punya rubrik tetap berjudul &#8220;Kajian Utan Kayu&#8221;. Kontributor tulisan adalah Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat, dan Masdar F. Mas&#8217;udi. Mereka secara bergantian mengisi satu halaman tiap Ahad.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kajian tentang Islam dan demokrasi berhamburan. Dari soal syariat, gender, jilbab, hingga teologi perbandingan antaragama. Selain di Jawa Pos, atas bantuan Asia Foundation, beragam tulisan itu dimuat serentak di 40 koran yang tersebar di Tanah Air.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kiprah Asia Foundation dalam membesarkan JIL memang tak kecil. Organisasi sosial yang berdiri pada 1954 ini banyak mengucurkan duit untuk kegiatan penyebaran informasi JIL. &#8220;Bantuan kami dalam bentuk pengadaan situs dan jaringan media,&#8221; kata Ahmad Suaedy, juru bicara Asia Foundation, kepada Asmayani Kusrini dari Gatra.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Situsnya, islamlib.com, berdiri akhir Juli lalu. Banner-nya tak memajang &#8220;Utan Kayu&#8221;, melainkan label Jaringan Islam Liberal. Untuk tampilan di koran, kata Ulil Abshar, memang dipilih nama Utan Kayu. &#8220;Biar pembaca tidak terlalu kaget dengan istilah Islam liberal,&#8221; katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Toh, menurut Ulil, kampanye Islam liberal tetap masih ekstensif. Beragam program yang sedang digodok, antara lain, rencana penerbitan booklet yang memuat rangkuman pemikiran Islam liberal. Lebih dari itu, Komunitas Islam Utan Kayu bakal menerbitkan tafsir Al Quran versi Islam liberal.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dipo Handoko, Kholis Bahtiar Bakri, dan Sugiyanto</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gatra</p>
<p class="MsoNormal">EDISI: 03/08</p>
<p class="MsoNormal">TANGGAL: 011208</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesies.wordpress.com/812/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesies.wordpress.com/812/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/812/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=812&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/tafsir-liberal-dari-utan-kayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melacak Aliran 116 Rekening</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/melacak-aliran-116-rekening/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/melacak-aliran-116-rekening/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2001]]></category>
		<category><![CDATA[EKONOMI]]></category>
		<category><![CDATA[beddu amang]]></category>
		<category><![CDATA[bulog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=809</guid>
		<description><![CDATA[ JANGAN bermain api, bisa terbakar nanti. Peribahasa ini berlaku untuk pos dana nonbujeter Bulog yang menyimpan &#8220;uang panas&#8221; dalam jumlah besar. Walhasil, dua Kepala Bulog periode silam, yang karena kedudukannya harus berurusan dengan uang panas nonbujeter, kini mengalami nasib serupa, terjerat ancaman pidana.

 Beddu Amang, 65 tahun, Kepala Bulog periode 1995-1998, terseret kasus penyalahgunaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=809&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span> </span><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/beddu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-810" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/beddu.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>JANGAN bermain api, bisa terbakar nanti. Peribahasa ini berlaku untuk pos dana nonbujeter Bulog yang menyimpan &#8220;uang panas&#8221; dalam jumlah besar. Walhasil, dua Kepala Bulog periode silam, yang karena kedudukannya harus berurusan dengan uang panas nonbujeter, kini mengalami nasib serupa,<span> </span>terjerat ancaman pidana.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Beddu Amang, 65 tahun, Kepala Bulog periode 1995-1998, terseret kasus penyalahgunaan duit Bulog Rp 96 milyar. Ia telah divonis dua tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, bulan lalu. Ia kini mengupayakan banding. Sedangkan Rahardi Ramelan, 61 tahun, Kepala Bulog di era B.J. Habibie, 1998-1999, menyandang status tersangka penyelewengan dana Bulog sebesar Rp 54,6 milyar.<span id="more-809"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Terbongkarnya dua kasus itu sama-sama diwarnai bumbu politik. Beddu Amang menjadi korban ikutan ketika Kejaksaan Agung sedang membidik Tommy Soeharto. Saat itu, publik lantang menyuarakan tuntutan supaya kejaksaan mengusut dugaan korupsi oleh keluarga H.M. Soeharto. Tommy pun tergelincir oleh kasus tukar guling PT Goro Batara Sakti-Bulog. Toh, Tommy berhasil kabur sebelum menjalani vonis penjara 18 bulan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kasus Rahardi bergulir atas desakan publik agar kejaksaan mengungkap sinyalemen keterlibatan Akbar Tandjung dalam pengucuran dana nonbujeter Bulog ke Partai Golkar. Rahardi akhirnya buka mulut bahwa cek senilai Rp 40 milyar diberikan kepada Ketua Umum Golkar itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kubu Akbar tidak tinggal diam. Mereka mengklaim memiliki bukti adanya kucuran duit Bulog kepada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Jegal-menjegal para politisi itu membuat Kepala Bulog Widjanarko Poespoyo kesal. &#8220;Kalau mau main politik, jangan di rumah saya, dong,&#8221; katanya kepada Gatra, Kamis pekan lalu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bulog memang masih saja menjadi sorotan publik sebagai ajang rayahan duit panas. Mau tak mau, Widjanarko dan jajarannya mesti ekstra hati-hati mengontrol pengeluaran. Apalagi, sejak masuk Bulog, Widjan tidak lagi menikmati dana nonbujeter. Ketika ia menggantikan Rizal Ramli, dana nonbujeter digabung ke dalam neraca resmi Bulog, sejak Agustus 2000.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Untuk menghapus suara tak sedap itu, Widjanarko kini getol memeriksa pembukuan dana ekstrakomtabel -istilah dana nonbujeter versi Bulog. Tim kecil yang dibentuk Widjanarko tengah melacak duit nonbujeter era 1993-2000. Ternyata, bantuan dari Bulog itu mengalir sampai jauh, ke mana-mana. Misalnya, untuk keperluan yayasan Cendana dan keperluan DPR.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kata Widjan, tak sedikit di antara belanja nonbujeter itu berstatus pinjaman ke instansi pemerintah lain. Toh, utang-piutang ini cuma berupa catatan tanpa pembukuan. Bahkan, sebagian tanpa tanda terima, pengakuan utang, atau sejenisnya. Ada pula pinjaman yang tidak berketentuan, karena cuma didasari kesepakatan lisan. Contohnya, cek Rp 40 milyar yang oleh Rahardi disebut sebagai pinjaman ke Akbar Tandjung untuk keperluan kenegaraan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Atas pengeluaran gelap itu, Bulog mencoba merunutnya lewat pencairan cek di bank-bank. Tapi, yang mampu menjangkau kerahasiaan bank, ya, cuma kejaksaan. Untuk itulah, Bulog menjalin kerja sama dengan Kejaksaan Agung.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Penagihan piutang Bulog nantinya dilakukan jaksa penuntut negara. Kalau tak ada halangan, kerja sama Bulog-Kejaksaan Agung itu diteken pekan ini. Widjanarko sendiri enggan membeberkan hasil auditnya, yang akan digunakan sebagai dasar penelusuran.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Menurut sumber Gatra, hasil audit tim internal Bulog itu lebih lengkap ketimbang pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan (BPKP). Tim ini menemukan fakta bahwa untuk satu nomor rekening nonbujeter saja, tercatat pengeluaran lebih dari Rp 180 milyar. &#8220;Sebagian besar mengalir ke Museum Purna Bhakti Pertiwi,&#8221; kata sumber Gatra.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Padahal, keseluruhan dana nonbujeter itu ada di dalam 116 rekening di tujuh bank, antara lain Bukopin, Exim, Bank Bumi Daya, dan Bank Rakyat Indonesia. Belum jelas total duit bocor itu menurut versi Bulog.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Hasil audit yang pernah dipaparkan adalah pemeriksaan Arthur Andersen, akuntan publik asal Amerika Serikat. Ketika itu, Andersen melakukan audit terhadap PLN, Pertamina, dan Bulog, atas permintaan pemerintah. Menurut Andersen, pengeluaran inefisien -istilah mereka- dalam kurun 1993-1998 di Bulog mencapai Rp 6,7 trilyun, dan Rp 2,6 trilyun di antaranya sebagai ketidakwajaran nilai kontrak dengan rekanan Bulog. Praktek yang tak sah besarnya Rp 1,8 trilyun. Sisanya bocor akibat kontrol yang lemah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Yang lebih gamblang adalah hasil pemeriksaan BPKP periode 1998-1999. Instansi ini mencatat saldo per 1 Januari 1998 besarnya Rp 488 milyar. Penerimaan selama dua tahun lebih dari Rp 2,6 trilyun. Sedangkan pengeluarannya Rp 2,9 trilyun. Mestinya, saldonya Rp 250- an milyar. Anehnya, saldo yang tertulis per 31 Desember 1999 sebesar Rp 416 milyar lebih. &#8220;Pengeluarannya tercatat, tapi pembukuannya kacau,&#8221; kata sumber Gatra di Bulog. Maksudnya, catatan neracanya tidak beres.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Cek heboh yang menyeret Akbar Tandjung tercatat sebagai pengeluaran &#8220;untuk keperluan kenegaraan&#8221;. Pada periode 2 Maret-22 April 1999, jelas tertulis pengeluaran Rp 40 milyar. Cek tunai atas memo Rahardi Ramelan itu, dalam lembar pengeluaran dana nonbujeter, diterima Bustan Jufri, ajudan Rahardi di Departemen Perindustrian. Ceknya sendiri diteken Achmad Ruskandar, Deputi Keuangan Bulog.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sumber di Bulog mengatakan, jumlah dana nonbujeter yang kini diributkan itu &#8220;cuma&#8221; Rp 2,2 trilyun. Sekitar Rp 1,3 trilyun di antaranya dikembalikan ke Departemen Keuangan sebagai pembayaran cadangan subsidi pangan. Yang tercatat tapi tak jelas pembukuannya lebih dari Rp 377 milyar. Saldo terakhir saat dana nonbujeter digabung dengan neraca, sejak Agustus 2000, tinggal Rp 380 milyar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Indikasi penyimpangan atas kegiatan operasional Bulog, menurut BPKP, setidaknya pada pelaksanaan impor 12.500 ton beras Vietnam pada 1999. Consortia Worldtrade Limited, Hong Kong, pemasok beras, mengaku kehilangan muatan dari Vietnam. Eh, Corsortia enak saja menggantikannya dengan beras Pakistan yang kualitasnya lebih rendah. Bulog pun rugi milyaran rupiah. Toh, tak ada upaya menuntut kompensasi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Belum lagi soal penjualan minyak goreng oleh Koperasi Distribusi Indonesia pimpinan Nurdin Halid, yang oleh BPKP disebut berindikasi penyelewengan. Begitu juga soal cek Rp 4,6 milyar buat PT Goro Batara Sakti. Untuk kasus Goro ini, Bulog mengucurkan duit lebih dari Rp 5 milyar. Informasi yang beredar di media massa, cek untuk menangani kasus Goro itu &#8220;cuma&#8221; Rp 4,6 milyar. Rupanya, ada fee untuk advokat yang keluar tapi hampir tak tercatat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Investigasi Lembaga Advokasi Reformasi Indonesia (LARI), sebuah LSM, menyatakan bahwa duit ke Goro itu berstatus &#8220;pinjaman&#8221;. Kopian memo kepada Rahardi yang diteken empat deputi Bulog menyebutkan permintaan dana tertutup. Dana itu dikeluarkan untuk menutup kekurangan setoran bank garansi Goro kepada bank asing BNN Cabang Kuningan, Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam pembukuan, kucuran duit itu ditulis sebagai pembayaran Bulog atas prestasi pekerjaan Goro. Di antaranya, pembangunan rumah pejabat di Rawa Domba, perizinan pengadaan tanah, biaya perencanaan gudang dan pembangunan kantor Dolog. Seolah-olah ada tagihan Goro atas pekerjaan kompensasi ke Bulog. &#8220;Ini rekayasa yang dilakukan empat deputi Bulog,&#8221; kata Eddy Sumarsono, Ketua LARI.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Akan halnya cek yang disebut-sebut Akbar Tandjung diterima PPP dan PAN, rinciannya belum jelas. Laporan BPKP menyebutkan, pengeluaran atas nama Rahardi Ramelan untuk &#8220;keperluan kenegaraan&#8221; jumlahnya Rp 51,4 milyar. Hampir Rp 1,5 milyar lainnya digunakan untuk keperluan Kepala Bulog.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Yang jelas tertera di catatan, ada 72 macam pengeluaran selama kurun 1998-1999. Terdapat berbagai bantuan yang mengucur ke berbagai instansi, baik perorangan maupun pemerintah. Perguruan tinggi negeri pun tak luput dapat bantuan Bulog. Yang mengagetkan adalah catatan tertulis berupa bantuan buat Partai Golkar, meski besarnya cuma Rp 25 juta.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Audit BPKP itu sebenarnya telah di tangan penyelidik kejaksaan. Namun, tak jelas mengapa bukti berupa catatan pengeluaran itu belum juga ditindaklanjuti. Padahal, audit tersebut terbilang sahih, tinggal meneruskannya. Sedangkan isu adanya aliran dana ke partai lain di luar Golkar, sejauh ini, belum kelihatan buktinya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dipo Handoko</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gatra</p>
<p class="MsoNormal">EDISI: 02/08</p>
<p class="MsoNormal">TANGGAL: 011201</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesies.wordpress.com/809/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesies.wordpress.com/809/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/809/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=809&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/melacak-aliran-116-rekening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/beddu.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Politik Lemah Syahwat</title>
		<link>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/politik-lemah-syahwat/</link>
		<comments>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/politik-lemah-syahwat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesies</dc:creator>
				<category><![CDATA[-SKETSA 2001]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[KPU]]></category>
		<category><![CDATA[partai politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesies.wordpress.com/?p=798</guid>
		<description><![CDATA[   


 KEBHINEKAAN Indonesia benar-benar muncul di arena politik. Dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) boleh pusing. Betapa tidak, berita dari Departemen Kehakiman mengatakan, hingga akhir pekan lalu sudah tercatat 165 partai. Memang, jumlah itu termasuk 48 partai politik (parpol) kontestan Pemilu 1999, dan 100 partai lain yang gagal terjun ke pesta demokrasi dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=798&subd=spesies&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--> <!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/pemilu-2004-b.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-801" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/pemilu-2004-b.jpg?w=250&#038;h=190" alt="" width="250" height="190" /></a>KEBHINEKAAN Indonesia benar-benar muncul di arena politik. Dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) boleh pusing. Betapa tidak, berita dari Departemen Kehakiman mengatakan, hingga akhir pekan lalu sudah tercatat 165 partai. Memang, jumlah itu termasuk 48 partai politik (parpol) kontestan Pemilu 1999, dan 100 partai lain yang gagal terjun ke pesta demokrasi dua tahun lalu. Jumlah itu tentu akan terus bertambah hingga 2004 nanti.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bila jumlah peserta pemilu sampai ratusan, KPU bisa kelojotan. Sebagai penyelenggara pemilu, KPU akan kerepotan melayani banyak kontestan yang, kalau mengaca pada situasi tahun 1999, selalu banyak maunya. Maka, jurus penangkal pun agaknya disiapkan untuk mencegah lubernya jumlah kontestan ini. Caranya, akan dipasang pagar aturan agar tak sembarang partai boleh masuk.<span id="more-798"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pagar itu, seperti terekam dalam pembahasan revisi Rancangan Undang-Undang Pemilu dan Parpol di KPU, Kamis pekan lalu, berupa sejumlah syarat. &#8220;Parpol harus mendepositokan Rp 150 juta pada setiap daerah,&#8221; kata Prof. Ramlan Surbakti, Wakil Ketua KPU. Jadi, untuk pengurus di 20 daerah (provinsi), misalnya, partai harus menyetor modal Rp 3 milyar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Syarat itu, kata Ramlan, bisa diberlakukan bila pemilu memakai sistem proporsional. &#8220;Syarat ini perlu, agar parpol yang ingin menjadi peserta pemilu tak hanya coba-coba,&#8221; katanya. Selain soal duit jaminan itu, KPU juga mengusulkan beberapa syarat lain yang akan dibahas bersama Menteri Dalam Negeri, Hari Sabarno, Senin pekan ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di antaranya adalah syarat bahwa setiap parpol memiliki pengurus daerah setidaknya di dua pertiga provinsi di Indonesia. Kalau ada 30 provinsi, ya, harus ada kepengurusan daerah di 20 ibu kota provinsi. Di masing-masing daerah itu, parpol pun diwajibkan memiliki pengurus cabang di dua pertiga kabupaten atau kota madya, yang masing-masing setidaknya mengantongi 1.000 anggota. &#8220;Di setiap cabang, mereka juga harus punya pengurus lengkap,&#8221; tutur Ramlan. Maksudnya, tak cuma ketua dan sekretaris.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bukan itu saja. Setiap cabang diminta memiliki kantor yang berkategori layak. &#8220;Jangan cuma gudang atau garasi,&#8221; kata Ramlan. Dia berjanji, KPU bakal memperketat pengawasan dan koordinasi lewat KPU tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. &#8220;Mereka ini yang akan melakukan verifikasi,&#8221; katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Selain dipusingkan oleh jumlah peserta pemilu yang dikhawatirkan membludak, KPU yang cuma beranggota 11 orang juga pening membahas sistem pemilu mendatang. Bila sistem distrik, duit jaminan sebesar Rp 150 juta akan menjadi tanggungan calon anggota legislatif. Partai yang gagal mencapai minimum 2% dari jumlah pemilih, sesuai dengan aturan electoral threshold, tinggal memilih dua alternatif bubar atau beraliansi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Belum lagi syarat-syarat itu dibahas lebih jauh, suara protes sudah bergulir. &#8220;Aturan itu membawa politik ke dunia kapitalis,&#8221; kata Tjahjadi Nugroho, Ketua Umum Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PPBI), satu dari 17 partai yang baru berdiri. &#8220;Masak, hanya orang berduit yang boleh punya partai,&#8221; katanya lagi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>PPBI, yang didirikan Tjahjadi, baru bermodal nomor register dari Departemen Kehakiman, 24 Oktober lalu. Sulit menggalang dana. &#8220;Jaminan Rp 150 juta di tiap daerah tentu sangat memberatkan,&#8221; katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Jangankan menyediakan Rp 150 juta pada setiap daerah, untuk keperluan dewan pimpinan pusat saja Tjahjadi kelabakan. Partai yang berdiri 10 Agustus lalu itu baru bisa menyewa satu ruang di Graha Buana, bangunan ruko di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan. Letaknya pun terpencil di lantai II, paling ujung, dekat tangga. Luasnya 4 x 10 meter.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di bawah kantor partai itu ada praktek pengobatan lemah syawat Tabib Aulia. &#8220;Kami berkantor di atas tempat praktek Tabib Aulia,&#8221; kata Tjahjadi sambil tertawa, ketika Gatra menelepon akan berkunjung ke kantornya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Meski sudah diberi ancar-ancarnya, tidak mudah menemukan kantor partai ini. Tak ada bendera, logo, atau atribut partai berlambang merpati dalam lingkaran berselimut padi dan kapas itu. Yang ada, di atas pintu masuk, cuma plakat seng bertulisan Sekretariat Komite Persatuan dan Penyelamatan Reformasi, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di lahan politik. Di ruang kantor cuma ada satu unit komputer, dua meja, dan empat kursi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam daftar pengurus tak terdapat nama-nama mentereng, apalagi tokoh tingkat nasional. Toh, Tjahjadi optimistis, dalam waktu dekat beberapa mantan pejabat akan bergabung dengan partainya. Ia menyebut-nyebut nama Letnan Jenderal (purnawirawan) Harsudiono Hartas, Kepala Staf Sosial Politik ABRI 1989-1993, sebagai salah satu penggagas partai itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Yang baru terdaftar juga ada nama Partai Buruh Sosial Demokrat. Tapi, penggagasnya termasuk tokoh buruh yang sudah lama berkibar, Dr. Muchtar Pakpahan. Partai ini dideklarasikan 1 Mei lalu. &#8220;Soal buruh tak pernah disentuh politisi di DPR,&#8221; katanya memberi alasan membentuk partai baru.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada Pemilu 1999, Muchtar di belakang layar menukangi Partai Buruh Nasional. Tapi, nasib partai itu sama dengan partai buruh lainnya, keok. Suara yang diraih jauh di bawah bandrol. Meski begitu, Muchtar tetap optimistis bisa bersaing dalam pemilu mendatang, setidaknya dengan partai buruh lain. Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI), kata Muchtar, mendukung sepenuhnya pembentukan partai itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span>Dalam hitungan Muchtar, bila anggota keluarga SBSI memilih partainya, setidaknya akan bisa meraih 15%. &#8220;Target itu rasanya tak berlebihan,&#8221; katanya. Cuma, Muchtar mengaku kesulitan menemukan kader yang piawai di pentas politik. Karena itu, ia membuka diri untuk datangnya kader baru. &#8220;Syaratnya, punya visi perjuangan buruh, dan bukan orang Orde Baru,&#8221; katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tak jelas, seberapa ketatnya syarat yang ditetapkan Muchtar. Dalam jajaran pengurus partai, ada nama Brigadir Jenderal (purnawirawan) Polisi Bibit S. Riyanto, Koordinator Staf Ahli Kapolri ketika dijabat Dibyo Widodo, 1998. Bibit kini menjabat ketua bidang hubungan internasional dan lobi politik.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dengan alasan tidak puas dengan jalannya reformasi, lahir pula Partai Amanat Pejuang Reformasi Indonesia (PAPRI). Partai ini didaftarkan pada Departemen Kehakiman, Selasa pekan lalu. Penggagasnya sejumlah dosen, advokat, dan mahasiswa magister hukum. Cikal bakal partai ini adalah Lembaga Perlindungan HAM Independen.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada kongresnya yang diikuti utusan dari 99 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia, Agustus lalu, mereka sepakat melahirkan partai ini. Anggota Lembaga Perlindungan HAM itu sendiri mencapai 4.300-an, yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Mereka mendeklarasikannya 17 Agustus lalu, dan Mudjadid Dulwathan ditunjuk sebagai pimpinan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 47 tahun lalu, itu memang punya pengalaman berorganisasi. Ia pernah menjadi Ketua Pemuda Ka&#8217;bah Padang (1977-1987) dan berjuang untuk Partai Persatuan Pembangunan. Setelah itu, ia meloncat ke Golkar pada 1995. &#8220;Sekarang saya akan membesarkan PAPRI,&#8221; katanya, sambil menyebutkan sudah memiliki pengurus di 20 daerah. &#8220;Baru sebatas pengurus sementara,&#8221; kata pengusaha tekstil itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>Menjamurnya partai baru itu dipandang miring oleh Afan Gaffar. Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini melihat partai itu hanya dijadikan ajang petualangan politik. &#8220;Mereka hanya berharap dapat dana dari pemerintah,&#8221; katanya kepada Sawariyanto dari Gatra. Memang, mereka umumnya miskin dukungan, tak punya jaringan, tak bermodal, tapi nekat -bak pria lemah syahwat tapi doyan kawin.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dipo Handoko</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">BOKS:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">MUCHTAR PAKPAHAN</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/muchtar_pakpahan.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-799 alignleft" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/muchtar_pakpahan.jpg?w=80&#038;h=96" alt="" width="80" height="96" /></a>Pria kelahiran Simalungun, Sumatera Utara, 48 tahun lalu, ini kenyang dengan perjuangan membela nasib buruh. Begitu ia terjun di kancah<span> </span>politik, jabatan Ketua Umum SBSI pun bakal ditanggalkan. Ia punya impian<span> </span>membangun partai buruh yang kuat seperti di negara Barat. Makanya, &#8220;Platform<span> </span>kami sama dengan standar partai buruh dunia,&#8221; katanya mantap.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">TJAHJADI NUGROHO</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/tjahjadi_nugroho.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-800" src="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/tjahjadi_nugroho.jpg?w=76&#038;h=96" alt="" width="76" height="96" /></a>Meski berbasis pekerja kemanusiaan di sejumlah balai<span> </span>latihan kerja, pria 56 tahun asal Semarang ini punya ambisi menghimpun para<span> </span>pemuda dalam partainya. Target Partai Persatuan Bangsa Indonesia tak muluk- muluk: jadi peserta Pemilu 2004. Bila tidak? &#8220;Ya bubar, kami gentle,&#8221; katanya<span> </span>sembari terkekeh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gatra</p>
<p class="MsoNormal">EDISI: 02/08</p>
<p class="MsoNormal">TANGGAL: 011201</p>
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesies.wordpress.com/798/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesies.wordpress.com/798/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesies.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesies.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesies.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesies.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesies.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesies.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesies.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesies.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesies.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesies.wordpress.com/798/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesies.wordpress.com&blog=4500471&post=798&subd=spesies&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesies.wordpress.com/2008/09/01/politik-lemah-syahwat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8406dcfc6ac42cf7795318cc2fbcf6ba?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spesies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/pemilu-2004-b.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/muchtar_pakpahan.jpg?w=80" medium="image" />

		<media:content url="http://spesies.files.wordpress.com/2008/09/tjahjadi_nugroho.jpg?w=76" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>